Penggalangan Dana Renovasi Gereja Sang Penebus Batuputih

November 28, 2019
Penggalangan Dana Renovasi Gereja Sang Penebus Batuputih

Pada Sabtu-Minggu, 9-10 November 2019, Paroki Santo Yoseph Palembang kedatangan umat Paroki Sang Penebus Batuputih. Mereka datang untuk mengadakan penggalangan dana bagi proses pembangunan dan renovasi gedung Gereja Paroki Sang Penebus Batuputih yang saat ini sedang berlangsung. Kegiatan penggalangan dana ini dilakukan dengan membagikan amplop kepada umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi. Umat yang datang dari Paroki Sang Penebus Batuputih ini dipimpin oleh Pastor Paroki RD. Titus Jatra Kelana didampingi RD. Antonius Manik,  Fr. Andreas Eko Wahyudianto, Yustinus Herudin (Ketua DPP) dan sejumlah umat dari keluarga Paguyuban Batuputih di Kota Palembang.

Batuputih, Selayang pandang

Paroki sang Penebus Batuputih terletak sekitar 7 km di arah selatan kota Baturaja, gedung gereja di tempat ini terakhir kali mengelamai renovasi pada tahun 2002, yaitu dengan penggantian atap seng menjadi genteng. Proses perencanaan renovasi telah bergulir  sejak akhir tahun 2017, yaitu dengan mulai mengadakan penggalangan dana swadaya umat. Secara khusus, pada 1 Mei 2019 renovasi dengan segala rencana penataan gedung Gereja dimulai dengan pemindahan bangku-bangku umat ke Balai Paroki yang menjadi tempat Perayaan Ekaristi sementara selama renovasi berlangsung. Proses itu dilanjutkan dengan penurunan atap genteng dan pembongkaran di beberapa bagian bangunan.  

Mayoritas umat Paroki Sang Penebus Batuputih adalah penduduk asli Sumatera Selatan yaitu : suku Ogan dengan mata pencahariannya dari hasil hutan, seperti: karet, kopi, duku, durian dan bercocok tanam di ladang. Menurut data statistik paroki, pada 31 Desember 2018  paroki ini memiliki umat berjumlah 2549 jiwa yang tersebar di 3 Kabupaten, yaitu : Kabupaten OKU, Kabupaten OKU Timur dan Kabupaten OKU Selatan. Umat di paroki ini terbagi dalam 4 wilayah pelayanan, yaitu : Wilayah Batuputih (Pusat Paroki), Wilayah Batumarta (OKU), Wilayah Martapura (OKU Timur) dan Wilayah Muaradua (OKU Selatan) dengan jarak tempuh pelayanan terdekat 40 Km dan terjauh 150 Km.

Sejarah  Gereja Sang Penebus Batuputih dimulai pada pertengahan tahun 1940 saat Kiai Mohammad Sa’id yamg berasal dari Sarang Elang (OKI) datang ke Batuputih untuk memberikan pengajaran melalui pantun (bait per bait) sehingga dapat dilagukan serta mengajarkan bahwa yang mengadili umat manusia pada hari kiamat adalah Nabi Isa Al-masih. Rasa penasaran masyarakat Batuputih semakin besar, terutama tentang pengadilan terakhir sehingga membuat para tetua berkumpul dan bermusyawarah untuk mencari jalan keluar.  4 tokoh Gereja Batuputih perdana beragama Islam, yaitu : Abdul Hulik (Kerio), Damseh (Kotib),  Yoseph dan Alisuni (pemuka masyarakat)untuk  meminta petunjuk kepada Tuan Luyks orang Belanda beragama Protestan yang merupakan  Residen di Baturaja. Sekitar 80 laki-laki dan perempuan mengikuti pertemuan. Kemudian Pastor membimbing mereka berdoa Bapa Kami dan membagikan Medali Suci(skapulir). Di akhir pertemuan Pastor menyarankan supaya mereka segera mengirim utusan untuk menjumpai Bapa Uskup di Talang Jawa-Palembang. 

Perjalanan Gereja perdana  pada tahun 1948 diawali dengan kedatangan 4 tokoh yang secara khusus menjumpai Mgr. Henri Martin Mekkelhot, SCJ, pemimpin tertinggi umat Katolik di Palembang saat itu.  Hasil dari perjumpaan itu pada tanggal 16 Maret 1948 Pastor Th. Borst, SCJ datang ke Batuputih dan mulai mengajar ke tengah-tengah umat.  Akhirnya, pada tanggal 31 Oktober 1948, 23 orang Ogan dari lima keluarga dipermandikan menjadi Katolik oleh Pastor Th. Borst SCJ. Sejak saat itulah iman kekatolikan bertumbuh dan berkembang di Batuputih Tanah Ogan hingga sekarang ini.

Tahun 1964 Pastor A.Y. Bounce, SCJ merenovasi gedung  Gereja menggunakan bahan dari batu dan semen. Setelah melalui proses pembangunan yang panjang gedung gereja yang baru pun kemudian diberkati oleh Mgr. Mekkelholt pada tanggal 5 Mei 1967. Gereja Sang Penebus Batuputih dilengkapi dengan sebuah menara lonceng yang berada di bagian depan Gereja, tepat berada di atas pintu masuk utama dan menyatu dengan atap gereja. Lonceng di menara dengan bobot sekitar 250 kg ini selain berbunyi sebagai undangan untuk merayakan Ekaristi juga berbunyi saat Doa Malaikat Tuhan (Masa Biasa) dan Ratu Surga (Masa Paskah) yang  menjadi penanda waktu bagi umat serta masyarakat di sekitarnya. Keberadaan menara lonceng yang menyatu dengan bangunan utama ternyata memiliki dampak bagi bangunan. Getaran yang terjadi saat lonceng berdentang mengakibatkan sejumlah retakan panjang di bubungan atap yang  membuat air hujan masuk akibatnya sejumlah bagian plafon dan kerangka kayu menjadi lapuk dan rusak.  Situasi ini cukup membahayakan dan menimbulkan kekhawatiran, karena sewaktu-waktu bisa jatuh,  maka salah satu bagian dari renovasi ini adalah  membangun  menara lonceng baru dengan fondasi yang terpisah dari bangunan utama.

Proses renovasi sudah dimulai akhir tahun 2017 dengan luas seluruh bangunan 730 m²  dan membutuhkan dana sebesar  Rp. 2.201.850.000 (Dua milyar dua ratus satu juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah). Saat ini umat secara swadaya sudah mulai mengumpulkan dana melalui iuran rutin setiap bulan dan kotak solidaritas umat, dana yang terkumpul Rp. 200.000.000 (Dua Ratus Juta Rupiah).  Selain swadaya penggalanganan dana juga dilakukan lewat proposal yang ditujukan kepada pribadi-pribadi,  kelompok-kelompok Paguyuban Orang Batuputih di Palembang,  Baturaja, Lampung dan Jakarta serta Paroki yang ada di Keuskupang Agung Palembang.

Umat Paroki Sang Penebus Batuputih terlibat langsung dalam renovasi fisik bangunan dengan bergotong royong melakukan pembongkaran gedung Gereja, membersihkan puing bongkaran Gereja, setiap selesai Misa Hari Minggu, umat di Batuputih bergotong-royong mengambil material pasir dan batu di Sungai Lengkayap, menggali lubang pondasi, melakukan pengecoran, menimbun  lantai Gereja dan lain sebagainya. Proses pengerjaan dilaksanakan oleh tenaga kerja teknis dari umat Paroki Sang Penebus Batuputih didampingi Bapak Basuki Husodo sebagai  arsitek dari Lampung dan Bapak Mikael sebagai Konsultan Bangunan dari Jakarta.

Kini proses renovasi dan pembangunan sudah berjalan. Pada Oktober 2020 proses renovasi ini ditargetkan selesai dan saat ulang tahun Paroki ke-72 gedung Gereja ini akan diberkati oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ.

Para Imam yang bertugas di Paroki Sang Penebus Batuputih

Tahun 1948-1950: Pastor Theodorus Borst, SCJ

Tahun 1950-1958 : Pastor  Leo Kwanten, SCJ,  Pastor A. Coenderman SCJ,

Pastor P. Schmies, SCJ, Pastor P. Van Leuwen, SCJ dan Pastor Th. Borst, SCJ.

Tahun 1962 : Pastor Leo Kwanten, SCJ.

Tahun 1964 : Pastor A.J. Bountje, SCJ. 

Tahun 1972 : Pastor Petrus Abdi Putraraharja, SCJ yang juga bertugas sebagai Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Baturaja.

Tahun 1973 : Pastor Nico van Steekelenburg, SCJ

Tahun 1973-1982 : Pastor Cz. Koziel, SCJ.  

Tahun 1983, selama tiga bulan dipimpin oleh Pastor Madya Sukarto, SCJ,

Tahun 1984 : RD. Freddy Bambang Sutarno

Tahun 1985 : RD. FX. Hardjoatmojo.

Tahun 1991 : RD. Martinus Mardiono

Tahun 1998 : RD. Agung Sulistyo

RD. L. Darmanto, RD. Sukino, RD. Vian Dharma.

Tahun 2008-2015 : RD. Stefanus Supardi

Tahun 2014-2015 : RD. Martinus Widiyanto (Pastor Rekan)

Tahun 2015 :  RD. Petrus Sukino yang melanjutkan renovasi Gereja Stasi Batumarta II, Batumarta III, Batumarta XII dan Batumarta XIII.

24 September 2017 – sekarang : RD. Titus Jatra Kelana (Pastor Paroki)

1 Agustus 2019 – sekarang: RD. Antonius Manik (Pastor Rekan)

Wilayah pelayanan Paroki Sang Penebus Batuputih:

  1. Wilayah Batuputih (Pusat Paroki),  berada di Desa Batuputih, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan menjadi pusat paroki dengan 10 Lingkungan, yaitu :

Lngkungan Santo Paulus, Lingkungan Santa Agnes, Lingkungan Santo Yohanes, Lingkungan Santo Philipus, Lingkungan Santo Markus, Lingkungan Santa Anna, Lingkungan Santo Agustinus, Lingkungan Santo Andreas, Lingkungan Santo Yusup dan Lingkungan Santa Elisabet.

  • Wilayah Batumarta, berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) dengan 7 Stasi, yaitu :

           Stasi Santa Maria Batumarta II (OKU), Stasi Hati Kudus Batumarta III (OKU),

           Stasi Santo Matius Batumarta V (OKUT), Stasi Santo Titus Batumarta X (OKUT),

            Stasi Santo Yusup Batumarta XI (OKU), Stasi Santo Stefanus Batumarta XII (OKU)

           dan Stasi Santo Petrus Batumarta XIII (OKU).

  • Wilayah Martapura, berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) dengan 5  

      Stasi, yaitu :

           Stasi Santa Maria Ratu Damai Negeri Ratu, Stasi Santo Yohanes Peracak,

           Stasi Triniji Suci Sungai Binjai, Stasi St. Martinus Srimulyo dan

           Stasi St. Stefanus Vila Masin

  • Wilayah OKU Selatan,  berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan dengan 3 Stasi, yaitu :

           Stasi Kebangkitan Gemiung, Stasi St. Thomas Muara Dua Kisam dan

           Stasi St. Maria Muara Dua

Pada penggalangan dana di Paroki Santo Yoseph Palembang sebagai ucapan terima kasih umat Paroki Sang Penebus Batuputih mempersembahkan kesenian tradisional masyarakat Ogan berupa pantun dan musik Terbangan yang dibawakan oleh 14 orang.

Bagi   umat yang ingin berpartisipasi dalam penggalangan dana ini bisa mengirimkannya melalui : Bank Sumsel Babel Cabang Syariah Baturaja Rek. 802-09-10374 ATAU Bank Central Asia (BCA) KCP Baturaja Rek, 2570620188 a.n Paroki Sang Penebus Batuputih.

Sumber : Paroki Sang Penebus Batuputih

Leave a Reply


7 + 4 =