Ribuan Umat Menerima Abu Tanda Pertobatan

February 27, 2020
Ribuan Umat Menerima Abu Tanda Pertobatan

Umat Katolik mulai memasuki masa Pra Paskah yang merupakan saat yang paling tepat untuk menjawab seruan rahmat Allah pada umatNya. Jawaban tersebut selayaknya ditunjukkan dalam sikap tobat yang disertai niat iklas dan diungkapkan dalam sikap dengan puasa, amal kasih dan doa. Ribuan umat mengikuti Perayaan Rabu Abu, 26 Februari 2020 di Paroki Santo Yoseph yang diadakan 3 kali pada pukul 05.30 dipimpin oleh RD. Markus Edi Sucipto didampingi oleh RD. Gunadi, 08.00 dipimpin oleh RD. Avien dan pukul 18.00 Wib dipimpin oleh RD. Laurentius Rakidi didampingi oleh RD. Stephanus Surawan.

Dalam homilinya RD. Markus mengajak umat selama masa Pra Paskah ini untuk melihat Allah yang menciptakan manusia seturut gambar dan rupaNya. Allah menciptakan dan menjadikan kita begitu istimewa walaupun memilik kelemahan dan keunikan tetapi juga memiliki potensi-potensi yang luar biasa, Allah menjadikan kita semua rekan kerja dan tangan-tangan kasihNya. Kita dipanggil untuk memiliki kulitas hidup seperti yang Allah miliki, menjadi pribadi yang pengasih, panjang sabar dan berlimpah akan kasih setia. Di masa Pra Paskah ini kita dipanggil untuk membuka hati yang tulus iklas untuk memohon pengampunan, serta memberi pengampunan kepada sesama itulah panggilan kita semua. Bertobat berarti kita semua berani untuk mengampuni dan diampuni itulah kualitas hidup yang harus dilakukan selama masa Pra Paskah dengan meninggalkan ego diri.

Kita masuk ke dalam perkara kemanusiaan yang paling hina dan Allah menuntun kita, mengajak, menggiring untuk kembali kepada kesejatian hidup dan keIlahian, yaitu : kembali menjalani dalam kekudusan dan kemurnian. Masa Pra Paskah bukan sekedar pantang dan puasa tetapi kita diajak menyadari bahawa Allah ada di sekitar kita dan diajak kembali memperbaharui relasi kita dengan Allah, sesama dan alam semesta. Mari kita bersama-sama melihat apa yang perlu dilakukan bersama diingkungan, orang-orang di sekitar dan jadikan gerakan itu sebagai gerakan hidup bersama.

Sementara itu RD. Rakidi mengatakan penerimaan abu mengingatkan bahwa kita ini ciptaan yang rapuh, lemah, hanya abu, sering jatuh ke dalam kesalahan dan dosa. Dengan penerimaan abu sekaligus mau mengingatkan bahwa kita membutuhkan pertobatan kalau ingin mengalami kebangkitan seperti Kristus. Pertobatan sejati berarti kita sungguh-sungguh mau membuka hati seluas-luasnya dibimbing dan dikuasai oleh Tuhan dan mau untuk berdamai, bersatu kembali dengan Tuhan. Pertobatan bukan hanya sebatas masa Pra Paskah tetapi sebenarnya seluruh rangkaian hidup kita harus disertai dengan pertobatan, semangat untuk selalu mengubah diri, jangan terbawa dalam kesalahan dan dosa.

Ketentuan dalam masa Pra Paskah ini untuk membantu kita supaya bisa menghayati pertobatan dengan pantang dan puasa. Dalam masa tobat seluruh rangkaian hidup, doa dan puasa merupakan bagian dari hidup yang hendaknya bisa membawa kita semua untuk semakin dekat dengan Tuhan serta bisa membuat hidup kita semakin saleh. Hendaknya pertobatan juga menghasilkan buah yakni kepedulian terhadap orang lain untuk kepentingan bersama melalui aksi puasa pembagunan, kegiatan-kegiatan di Lingkungan, kunjungan kepada orang-orang sakit, orang jompo dan terlibat dalam aneka masalah sosial di tengah masyarakat.

Sebagai orang Katolik kita harus memberi kontribusi, memberi sumbangsih demi kebaikan bersama, demi kesejahteraan masyarakat dan ini merupakan bagian dari pertobatan. Semoga dengan misteri yang kita rayakan dan rahmat yang kita mohon akan membawa kita semua bisa menjalani hidup ini dengan semangat pertobatan mendalam hingga akhirnya bisa mengantar kita kepada kebangkitan seperti yang dialami oleh Kristus dan bisa menikmati kemuliaan bersama dengan Yesus yang telah bangkit.

Sebelum penerimaan abu dilakukan pemberkatan abu yang akan digunakan kemudian para imam dan prodiakon mengolesi abu di dahi umat mengikuti Perayaan Rabu Abu di Gereja Santo Yoseph Palembang. Sementara itu untuk ketentuan puasa diadakan pada Rabu Abu 26 Februari 2020 dan Jumat Agung 10 April 2020, dan untuk pantang dilaksanakan hari Rabu Abu dan 7 hari Jumat selama masa Pra Paskah. Yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang berumur 18 sampai 60 tahun sedangkan yang wajib berpantang adalah semua orang Katolik yang berumur 16 tahun ke atas. Yang dimaksud dengan puasa adalah orang hanya diperbolehkan makan kenyang 1 kali dalam 1 hari sedangkan pantang adalah memilih makanan tertentu, tidak makan daging, garam, tidak merokok dan tidak jajan.

Leave a Reply


7 + 7 =