Jalan Salib, Sarana Untuk Semakin Menyadari Tanggung Jawab Sebagai PengikutNya

March 9, 2025
Jalan Salib, Sarana Untuk Semakin Menyadari Tanggung Jawab Sebagai PengikutNya

Ratusan umat Paroki Santo Yoseph Palembang mengikuti Ibadat Jalan Salib  untuk merenungkan Jalan Salib Tuhan sebagai ungkapan “Pertobatan Ekologis : Peziarahan Pengharapan di Tahun Yobel 2025” berjalan bersama bersama sebagai peziarah pengharapan menuju pertobatan, belaskasih, kepedulian dan keselamatan. Kegiatan Ibadat Jalan Salib diadakan selama Masa Prapaskah setiap hari Jumat dan dimulai 7 Maret 2025 pukul 17.30 Wib.

Melalui Jalan Salib umat diajak mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus sebagai sarana  untuk semakin menyadari tanggung jawab kita sebagai pengikutNya, yakni membangun gerakan kepedulian dan perlindungan terhadap bumi, rumah kita bersama yang semakin hari semakin memprihatinkan. Dalam semangat peziarahan di tahun Yobel 2025, kita dipanggil untuk merawat bumi sebagai tempat dimana kita semua berziarah menuju pintu suci Yerusalem Surgawi.

Sementara itu dalam homilinya seusai Ibadat Jalan Salib, RD. Stefanus Surawan mengatakan bagi kita puasa dan pantang bukanlah mudah, tetapi lebih terutama adalah usaha yang serius  untuk  memperteguh, memperkuat jiwa dan memperkuat rohani kita agar semakin menjadi dekat dengan Tuhan. Kita dengan usaha yang serius, mengendalikan hal-hal yang mungkin mendatangkan kenikmatan pada diri kita, mengorbankan hal-hal yang kita sukai  untuk bisa semakin memurnikan hati, memurnikan pikiran,  memurnikan diri dan  semakin peka terhadap cinta Tuhan kepada kita.  

Pantang dan puasa diharapkan  membuat kita semakin mampu untuk melihat sesuatu dengan jernih, apa yang benar, salah, apa yang tidak dikehendaki dan tidak dikehendaki oleh Tuhan. Puasa bukanlah sekedar hal fisik yang kita perlihatkan,  tetapi terutama kita melepaskan belenggu yang membuat kita dalam berelasi dengan sesama terhambat untuk membangun komunikasi dengan Tuhan sendiri. 

Kita diminta untuk berdamai dengan mereka yang kita mengalami kesulitan untuk berelasi bahkan bermurah hati kepada mereka yang mengalami kekurangan. Maka puasa seringkali disertai dengan doa yang lebih banyak  dan karya amal bagi mereka yang memerlukan.  Semoga kesempatan 40 hari ke depan menjadi kesempatan bagi kita untuk memperteguh iman, mempertajam kesadaran akan kasih Tuhan dengan pantang dan puasa, dengan doa dan amal kasih.

Leave a Reply


2 + 7 =