Profesi Kekal Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas

December 2, 2024
Profesi Kekal Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas

Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas merayakan profesi kekal, pesta perak (25 tahun), panca windu (40 tahun) dan pesta emas (50 tahun) hidup membiara dalam Perayaan Ekaristi, Sabtu 30 November 2024 pukul 09.30 Wib di Gereja Santo Yoseph Palembang yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Yohanes Harun Yuwono. Perayaan Ekaristi diawali  dengan perarakan petugas liturgi, pestawati, imam konselebran dan Bapa Uskup yang memasuki Gereja Santo Yoseph Palembang.

Mgr. Harun Yuwono dalam homilinya mengatakan tinggal bersama Yesus berarti menyerap seluruh kepribadian Yesus, semangat hidup, cita-cita, harapan, keinginan dan kerinduan Yesus, untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia, mengenal bukan hanya penyesuaikan hidup untuk mencapai kekudusan. Orang harus penuh pengetahuan untuk penguasaan diri yang diikuti dengan ketekunan.

Ketekunan diikuti dengan kesalahan dan kesalahan diikuti dengan kasih tanpa pamrih, tanpa pilih kasih kepada semua orang. Tahapan-tahapan yang harus kita hidupi untuk mencapai kesalahan sendiri adalah ketika kita mengikuti Yesus. Tetapi bukan hanya itu sekurang-kurangnya bukan hanya untuk kepentingan diri, melainkan untuk siap sedia seperti Yesus mengorbankan hidup.  Marilah menjalani kemuridan kita dengan sukacita dan gembira bukan dengan sedih, bukan dengan ketakutan. Kita menyongsong tahun Yubilium 2025 untuk menyemangati semua orang agar menghidupi pengharapan.

Semoga Yubilium ini menjadi momen perjumpaan pribadi yang sejati dengan Tuhan Yesus adalah pintu keselamatan kita yang selalu diwartakan oleh Gereja dimanapun saja dan kepada semua orang sebagai pengharapan kita. Bapa Suci berharap tak seorang pun boleh kehilangan semangat hidup dan menjadi putus asa.Semua orang, siapapun dalam situasi apapun baik sehat maupun sakit, orang tahanan ataupun orang bebas merdeka, orang miskin maupun orang kaya, migran maupun penduduk lokal, baik kaum muda maupun generasi senior, tidak boleh takut akan masa depan. 

Semua orang hendaklah hidup penuh pengharapan akan masa depan yang lebih baik bahkan kita tidak boleh takut terhadap kematian karena Yesus Kristus Penebus kita mengalahkan kematian yang telah menjadi jaminan keselamatan kekal bagi kita. Paus mengatakan pengharapan bersama dengan iman dan kasih merupakan tiga bagian yang menyatu dari keutamaan teologis yang mengungkapkan inti kehidupan kristiani dalam kesatuannya yang tak terpisahkan yakni: pengharapan, iman dan kasih, hal ini  mengungkapkan inti kehidupan Kristiani yang tak terpisahkan.

Pengharapan adalah keutamaan yang bisa dikatakan memberikan arah dan tujuan batin bagi kehidupan orang beriman oleh karena itu Rasul Paulus mendorong kita untuk bersuka cita dalam pengharapan, bersabar dalam penderitaan dan bertekun dalam doa. Tahapan-tahapan untuk menjadi murid Yesus yang sejati, harus menghidupi diri tanpa takut tetapi penuh kegembiraan, penuh suka cita berkobar-kobar.

Kita perlu berlimpah dalam pengharapan sehingga dapat memberikan kesaksian yang dapat dipercaya. Menarik tentang iman dan kasih yang terdiam di dalam hati kita agar iman kita bergembira dan amal kita bersemangat serta agar kita masing-masing dapat memberikan senyuman sikap persahabatan yang kecil, pandangan yang ramah, telinga yang siap mendengarkan perbuatan ba,ik dengan mengetahui bahwa dalam roh Yesus hal-hal ini dapat sungguh terjadi. kalau kita setia, kita akan juga melakukan perbuatan-perbuatan Kristus sendiri.

Namun berdasarkan pengharapan yang menyelamatkan, kita dapat memandang berlalunya waktu dengan kepastian bahwa sejarah umat manusia dan sejarah pribadi kita, tidak akan menemui jalan buntu atau jurang yang gelap, melainkan diarahkan pada perjumpaan dengan Tuhan yang mulia. Oleh karena itu menjalani hidup kita dengan pengharapan akan kedatanganNya kembali dan pengharapan untuk hidup kekal di dalam Dia. Bapa Suci mengatakan kami menjanjikan dan menjadikan doa sepenuh hati dari jemaah Kristen Perdana, yang diakhiri di dalam kitab suci “Datanglah ya Tuhan,” semoga Tuhan berkenan akan pemberian diri kita dan  memberkati kita semua.

Rangkaian prosesi pengikraran Profesi Kekal diawali dengan pemanggilan atau permohonan para calon,  Pimpinan Umum Kongregasi FCh, Sr. M. Patricia, FCh dan Pendamping Yunior maju ke depan altar untuk  memanggil nama Calon Profesi Kekal, yaitu : Sr, M.Avila, FCh (Paroki Kristus Raja Tugumulyo OKI- Keuskupan Agung Palembang) dan Sr. M. Pia, FCh (Paroki Santa Katarina Tiga Juhar-dari Keuskupan Agung Medan). Kemudian mereka maju ke depan altar dan Mgr, Yohanes Harun Yuwono menanyai kesediaan calon profesi kekal.

Setelah Litani selesai dilanjutkan dengan pengikraran profesi kekal,  dua suster yang sudah berkaul kekal mendampingi Pemimpin Umum untuk menjadi saksi resmi. Kemudian para Calon Profesi Kekal maju satu persatu menghadap Pemimpin Umum, mengucapkan ikrar profesi kekalnya. Setelah itu Suster yang sudah profesi kekal menuju tempat penandatanganan bukti profesi kekal.  Kemudian para suster pengikrar profesi kekal yang baru, berlutut di depan altar dan Uskup Agung Palembang, Yohanes harun Yuwono sambil merentangkan tangan mengucapkan doa pengudusan untuk para suster pengikrar profesi kekal. Diteruskan penyerahan tanda profesi kekal berupa cincin setelah diberkati oleh Bapa Uskup, Suster profesi kekal maju berlutut di hadapan Bapa Uskup untuk menerima cincin dan Pemimpin Umum Kongregasi mengenakan cincin tersebut pada jari manis suster.

Prosesi selanjutnya adalah pembaharuan tri prasetya bagi  para suster yang akan membarui Tri Prasetya (25, 40 dan 50 Tahun Hidup Membiara). Mereka maju ke depan altar kemudian Pemimpin Umum dan 2 (dua) suster yang sudah berprofesi kekal berdiri di depan altar untuk menerima pembaharuan janji prasetya.

Para Suster yang merayakan pesta perak (25 tahun) hidup membiara : Sr. M. Emmanuel, FCh (Paroki Trinitas Bangunsari-Keuskupan Agung Palembang), Sr. M. Jeannet, FCh (Santo Mikael Pangururan-Keuskupan Agung Medan), Sr. M. Monika, FCh (Paroki Trinitas Bangunsari-Keuskupan Agung Palembang), Sr. M. Stella, FCh (Paroki Santo Antonius Padua Kalikasa-Keuskupan Larantuka), Sr. M. Victricia, FCh (Paroki Santo Mikhael Pangururan Kesukupan Agung Medan).

Para Suster yang merayakan panca windu (40 tahun) hidup membiara : Sr. M. Dien Kristifera, FCh (Paroki Santa Maria Tak Benoda Tegal Rejo-Keuskupan Agung Palembang), Sr. M. Ferdinanda, FCh (Paroki Santo Yoseph Lawe Desky-Keuskupan Agung Medan), Sr. M. Petra, FCh (Paroki Santa Maria Tak Bernoda Tegal Rejo-Keuskupan Agung Palembang), Sr. M. Ronita, FCh (Paroki Santo Petrus & Paulus Klepu-Keuskupan Agung Semarang),

Suster yang merayakan pesta emas (50 tahun) hidup membiara : Sr. M. Winanda, FCh (Paroki Santo Petrus & Paulus Klepu-Keuskupan Agung Semarang).

Seusai kegiatan di dalam Gereja, Pestawati diajak untuk mengikuti syukuran bersama seluruh keluarga di halaman Gereja Santo Yoseph Palembang. Para Pestawati berjalan diarak menuju panggung dan mendapatkan kalungan selendang, setelah itu mereka diajak untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan meniup lilin bersama. Salah satu perwakilan Pestawati memotong kue ulang tahun, kemudian para Pestawati memberikan potongan kue kepada anggota keluarga masing-masing. Acara syukuran diisi dengan hiburan dan penampilan dari perwakilan keluarga Pestawati yang menyanyikan lagu serta pemberian tanda kasih bagi Pestawati yang berulang tahun pesta perak.

Leave a Reply


7 + 7 =