Bersyukur, Berbelas Kasih dan Memberi Kontribusi Positif Bagi Perkembangan Gereja Serta Masyarakat

January 16, 2025
Bersyukur, Berbelas Kasih dan Memberi Kontribusi Positif Bagi Perkembangan Gereja Serta Masyarakat

58 tahun merupakan perjalanan panjang bagi Paroki Santo Yoseph Palembang yang sudah berkarya di kota Palembang dan untuk memperingatinya umat mengadakan Perayaan Syukur bersama dalam Perayaan Ekaristi bertepatan dengan Pesta Pelindung Paroki, Rabu 15 Januari 2025 pukul 17.30 Wib. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Hyginus Gono Pratowo, Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang didampingi oleh pastor rekan RD. Stefanus Surawan, RD. Yohanes Agung Apriyanto dan RD. Dionisius Anton Liberto.

Pada pengantarnya Romo Liberto menyampaikan sejarah berdirinya Paroki Santo Yoseph Palembang, umat Katolik telah berkembang di kota Palembang sejak masa Hindia Belanda bahkan sebelum misionaris Yesuit membuka daerah misi di Tanjung Sakti pada tahun 1888, di kota Palembang sudah dijumpai umat Katolik meskipun jumlahnya tidak seberapa. Begitu pula sesudah para misionaris Kapusin (OFM Cap) menangani reksa pastoral umat Katolik di Pulau Sumatra, umat Katolik yang tinggal di kota Palembang memperoleh pelayanan dari para misionaris Kapusin di Sungaiselan, Bangka.

Pada 27 Desember 1923, Vatikan mengumumkan pendirian Prefektur Apostolik Bengkulu yang berpusat di Tanjung Sakti, bersama-sama dengan Prefektur Apostolik Bangka Belitung atau sekarang Keuskupan Pangkal Pinang. Prefektur Apostolik adalah wilayah gerejani di mana umat Katolik baru mulai berkembang dan dipimpin seorang imam yang tidak ditabiskan sebagai uskup, tetapi memiliki wewenang seperti seorang uskup yang disebut Prefekt Apostolik. Disebut Prefektur Apostolik Bengkulu karena pusat prefektur ini adalah Tanjung Sakti yang pada waktu itu terletak di Keresidenan Bengkulu.

Prefektur Apostolik Bengkulu melayani daerah yang luasnya mencapai 5,5 kali luas Belanda. Daerah pelayanannya meliputi Keresidenan Palembang, Keresidenan Lampung, Keresidenan Bengkulu dan Keresidenan Jambi. Prefektur Apostolik Bengkulu dipercayakan kepada para imam SCJ (Sacrodis Cordis Jesu). Dari Tanjung Sakti para misionaris SCJ memperluas karya pastoral di berbagai kota penting di Sumatera Selatan termasuk di kota Palembang. 

Pada pasca tahun 1925, Pastor Henricus van Oort SCJ membuka paroki pertama di kota Palembang yakni Paroki Hati Kudus. Rumah yang diwariskan oleh misionaris Kapusin dirombak menjadi gereja kecil yang mampu menampung umat Katolik yang pada tahun itu baru berjumlah sekitar 200 orang. Pada tahun 1939, Vatikan meningkatkan kedudukan Prefektur Apostolik Bengkulu menjadi Vikariat Apostolik. Vikariat Apostolik merupakan suatu wilayah gerejani di mana umat Katolik belum mandiri, dipimpin seorang uskup yang ditabiskan oleh Paus dan sekaligus sebagai wakil Paus yang bergelar Vikaris Apostolik.

Mgr. Henricus Mekkelholt, SCJ yang bersebelumnya menjabat Prefek Apostolik Bengkulu sejak tahun 1934 diangkat sebagai Vikaris Apostolik. Mgr. Mekkelhot memindahkan pusat misi dari Tanjung Sakti ke kota Palembang. Kedatangan bala tentara Jepang meluluhlantakan karya misi yang berkembang amat bagus. Para misionaris (pastor, bruder, frater, dan suster) dimasukkan ke kamp interniran Jepang. Vikariat Apostolik Palembang telah kehilangan 9 imam SCJ, 2 bruder SCJ, 31 suster (Kongregasi Charitas, Hati Kudus, FSGM, dan CB) serta dan seorang frater BHK. Baru sekitar tahun 1948, para misionaris merintis kembali karya misi di Palembang.

Selain Paroki Hati Kudus sebagai paroki yang pertama kali didirikan, pada Juni 1948 didirikan paroki kedua yakni Paroki Santa Maria. Pastor Gerardus Elling, SCJ, mendirikan paroki ketiga yaitu Paroki Santo Paulus Plaju tahun 1952. Dan Pastor Johannes van der Heyden, SCJ, merintis paroki yang keempat yaitu Paroki Santo Fransiskus de Sales, Sungai Buah, tahun 1960. Perkembangan jumlah umat di Paroki Hati Kudus cukup pesat, sehingga diputuskan sebagian dari umat yang berada di paroki ini akan menjadi anggota dalam sebuah paroki baru sebagai paroki kelima. Paroki Santo Yoseph menjadi paroki kelima Palembang di Keuskupan Agung Palembang yang telah dirintis pada tahun 1960 an namun baru resmi menjadi paroki pada tanggal 15 Januari 1967.

Dalam homilinya Romo Gono mengatakan tema yang diangkat dalam rangka meriahkan hari ulang tahun paroki Santo Yoseph yang ke-58 ini adalah Sehati Sejiwa dalam Membangun Komunitas Basis Gerejawi. Tema ini diangkat dengan maksud memberi peluang kepada seluruh umat untuk bersyukur dan menghimpun kekuatan baru guna merealisasikan diri sebagai murid Kristus supaya semakin beriman dan sehati sejiwa, sehingga bisa memberi kontribusi yang positif bagi perkembangan Gereja dan masyarakat dengan menampilkan wajah Allah yang berbelas kasih dalam kehidupan kesehariannya. Bersyukur merupakan tindakan dan sikap yang mestinya selalu dimiliki dan diungkapkan oleh umat beriman. 

Maka dalam rangka Pesta Ulang Tahun Paroki Santo Yoseph yang ke-58 ini saya mengajak seluruh umat paroki untuk menyampaikan syukur yang tulus dan mendalam baik dalam kata maupun perbuatan atas aneka anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada umat paroki Santo Yoseph selama kurung waktu 58 tahun yang telah berlalu. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa dalam seluruh rangkaian perjalanan hidup kita baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan. Selain itu, dibalik ungkapan syukur ini saya juga mengajak seluruh umat Paroki Santo Yoseph untuk memantapkan langkah ke depan dengan membuat hidup sebagai murid Kristus menjadi semakin baik, semakin berkualitas dengan menekuni visi misi Paroki dan juga gerak bersama Ardas Kuskupan Agung Palembang, sehati sejiwa dalam membangun komunitas basis gerejawi. 

Upaya untuk membuat hidup kita sebagai murid Kristus supaya semakin beriman hendaknya kita wujudkan dengan kesediaan untuk memperkaya diri berkaitan dengan pengetahuan dan penghayatan iman dengan belajar, baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan melalui pertemuan Lingkungan maupun  aneka kegiatan yang ditawarkan ataupun yang diprogramkan oleh Dewan Pastoral Paroki atau kelompok kategorial seperti rekoleksi, pembekalan, talkshow, seminar dan lain sebagainya yang semuanya itu dimaksudkan untuk memperkaya pengetahuan dan penghayatan iman umat, sehingga umat semakin beriman tangguh dan mendalam. 

Upaya untuk membuat hidup kita menjadi murid Kristus supaya menjadi semakin sehati dan sejiwa hendaknya kita wujudkan dengan kesediaan untuk berbagi aneka kekayaan yang kita miliki untuk kemajuan bersama seperti yang dilakukan oleh Gereja Perdana.  Dengan demikian, kehadiran umat Katolik di Paroki Santo Yoseph Palembang sungguh membawa kontribusi bagi sesama baik ke dalam maupun keluar dimanapun kita berada. Kita diajak untuk menyumbangkan apa yang kita miliki entah itu pemikiran, tenaga, maupun kekayaan lainnya yang kita miliki untuk kebaikan dan kesejahteraan bersama. Inilah tugas perutusan kita sebagai murid-murid Kristus, tugas perutusan dari Kristus ini hendaknya kita laksanakan dengan semangat berbelas kasih seperti Allah telah berbelas kasih kepada kita.

Perlu kita sadari kembali bahwa kita semua menjadi murid Kristus karena Allah mengasihi kita, maka sebagaimana diingatkan dalam Tahun Yubilium 2025 ini kita semua diajak untuk menekuni tugas panggilan hidup kita dengan semangat berbelas kasih supaya akhirnya kita bisa merasakan belas kasih dari Allah, bisa berbagi kasih kepada sesama dan akhirnya kita berkembang dalam semangat berbelas kasih dan bisa menampilkan wajah Allah yang berbelas kasih. Mari kita saling mendoakan, saling belajar, mari kita terus mengembangkan kemampuan-kemampuan yang kita miliki,  tekun dalam doa dan dalam karya-karya kita. 

Rangkaian perayaan HUT ke 58 Paroki Santo Yoseph Palembang diakhiri dengan acara ramah tamah bersama seluruh umat untuk menikmati makanan ringan yang sudah disiapkan  di halaman Gereja. Diawali dengan pemotongan tumpeng oleh RD. Hyginus Gono Pratowo dan menyerahkan potongan tumpeng kepada Billy Jaya selaku Ketu DPP Santo Yoseph Palembang. Pada kesempatan ini selain hiburan juga dilakukan pembagian hadiah bagi pemenang PS Cup oleh Romo Gono.

Leave a Reply


9 + 5 =