RUANG KATEKESE

January 30, 2025
RUANG KATEKESE

Perbedaaan gereja Katolik dan Protestan
Bukan menjadi rahasia umum bahwa cukup banyak umat katolik
menyeberang ke gereja Kristen. Alasan yang sering muncul adalah: samasama mengimani Yesus sang mesias. Ingin cepat dibaptis, ingin cepat
menikah dengan mudah. Tak jarang banyak orang merasa terlalu ribet dan
rumit mengikuti aturan-aturan gereja katolik. Banyak orang bertanya
Benarkah gereja Katolik dan protestan itu sama saja? Kalau berbeda
dimana letak perbedaannya? Sekilas memang tampak sama Antara keduanya. Tapi kalau dicermati lebih jauh keduanya sungguh ada banyak perbedaan. Seringkali mereka yang mudah terbawa kegereja Kristen, mengalami kurangnya penghayatan akan iman gereja Katolik:

  1. Tiga pilar
    Gereja katolik berpegang kepada tiga pilar kebenaran: Kitab suci,
    Tradisi suci dan Magisterium Gereja, sedangkan gereja Kristen hanya
    berpegang pada kitab suci. Kitab suci adalah satu-satunya sumber
    kebenaran (sola scriptura) Gereja katolik tidak menolak bahwa Kitab suci adalah pilar kebenaran, namun gereja Katolik tidak mengangap bahwa satu-satunya pilar kebenaran adalah kitab suci.
    Karena : Gereja lahir lebih dahulu sebelum kitab suci, dengan inspirasi Roh Kudus, Gereja menentukan kitab-kitab mana yang layak dalam kitab suci, Sola scritura tanpa ada otoritas yang menentukan penafsiran yang benar, terbukti menghasilkan perpecahan Gereja.
  1. Konsep Otoritas
    Gereja Katolik percaya bahwa Kristus memberikan otoritas kepada
    Rasul Petrus (Lih. Mat 16:16-19) dan penerusnya, yaitu para Paus dan
    Uskup, sebab Ia menghendakiagar Geeja bertahan sampai akhir zaman
    (lih. Mat 28:19-20); (lih. Mat. 18:18; Yoh 20:21-23). Karena Kristus sendiri yang memberikan otoritas kepada para Paus dan Uskup, maka umat Katolik dengan kerendahan hati mentaati pengajaran yang diberikan oleh Magisteium Gereja yang bersumber pada Kitab suci dan Tradisi suci. Sebaliknya gereja Kristen menganggap bahwa semua umat beriman mempunyai otoritas dan tanggungjwab secara langsung kepada Kristus tidak perlu menaai pengajaran dari siapapun.
  1. Konsep Ekklesiologi
    Satu hal mencolok yang memang berbeda adalah pemahaman
    konsep gereja atau ekklesiologi. Bagi gereja katolik, Kristus mendirikan
    satu Gereja yaitu Gereja Katolik (lih. Mat. 16:16-19). Gereja Katolik inilah
    yang menjadi tubuh mistik Kristus (ef. 1:23; Ef.5), yng mempunya empat
    tanda; satu, kudus katolik dan apostolic, serta menjadi sakramen
    keselamatan bagi eluruh bangsa. Sebaliknya bagi gereja Kristen, gereja dipandang hanya sebagai persatuan umat beriman yanga percaya kepada Kristus walaupun antar gereja mempunyai pegajaran yang berbeda-beda. Sebagai akibatya gereja Kristen memiliki banyak aliran seperti Lutheran,calvinin dan pentakosta.
  1. Sakramen dan Liturgi
    Gereja Katolik mengenal adanya tujuh sakramen sakramen
    pembaptisan, ekaristi, penguatan toabat, perminyakan, imamat dan
    perkawinan. Ketujuh sakramen I I diinstitusikan sendiri oleh Kristus
    sebagai cara-ara yang umum untuk menyalurkan rahma-Nya kepada umat Allah. Sedangkan gereja Kristen seperti Lutheran hanya mengenal
    sakramen baptis dan ekaristi yang dikenal dengan perjamuan kudus.
    Sakramen ini pun mempunyai arti berbeda dengan apa yang dipercayai
    oleh gereja Katolik. Mereka tidak mempercayai bahwa baptisan adalah
    cara yang dipakaioleh Kristus untuk menyelamatkan manusia. Dan
    perjamuan kudus juga hanya dianggap sebagai symbol,sedangkan Gereja
    Katolik mempercayai bahwa Kristus hadir secara nyata (tubuh darah jiwa dan keAllahan) dalam rupa roti dan anggur.

Serba-serbi

KELUARGAKU ADALAH SURGAKU+
Banyak di antara kita pasti masih mengingat judul lagu ini:
“Keluarga adalah Surgaku” yang dinyanyikan oleh Chella Lumoindong.
Ada satu lirik lagu ini yang menarik perhatianku sebab sangat
menginspirasikanku, bunyinya: “Bila Tuhan menjadi Kepala rumah ini.
Maka berkat kehidupan, tercurah selalu. Datanglah krajaanMu, jadilah
kehendakMu. Kualami setiap waktu. Keluargaku adalah sorgaku.” Setiap
rumah atau keluarga memiliki kepala rumah atau kepala keluarga.
Biasanya seorang ayah didaulat sebagai kepala rumah. Kalau ayah sudah
tidak ada maka ibu dengan sendirinya menjadi ibu rumah. Namun
sebenarnya yang paling tepat adalah Tuhan sebagai kepala rumah. Dengan demikian semua berkatnya akan mengalir, tercurah di dalam hidup
setiap pribadi. Tuhan akan meraja dan semua orang patuh kepada
kehendak-Nya. Keluarga sungguh-sungguh menjadi keluarga bagi setiap
keluarga.

Semua orang mendambakan supaya keluarganya dapat menjadi sebuah surga di dunia ini. Namun demikian orang itu harus berani berjuang untuk mewujudkan keluarganya menjadi surga yang nyata. Perjuangan yang dapat dilakukan menyata dalam semangat untuk mengasihi sampai tuntas. Semangat untuk mengampuni tanpa batas. Semangat untuk rela berkorban demi kebaikan bersama dalam keluarga. Sebab itu masing-masing anggota keluarga perlu memberi dirinya secara total dalam keluarga untuk membangun surga di atas dunia ini. Apakah keluarga dapat menjadi surga di atas dunia? Jawabannya adalah ya. Keluarga haruslah menjadi surga sementara di dunia ini, sambil menunggu surga abadi. Meskipun setiap keluarga mendambakan surga di dunia ini, namun selalu saja ada kesulitan yang menghalangi setiap pribadi untuk membentuk sebuah keluarga yang kudus, suci laksana surga di atas dunia ini. Kesulitan yang dialami setiap keluarga adalah kemampuan setiap pribadi yang masih sangat terbatas untuk membentuk sebuah keluarga kudus di dunia ini, egois atau rasa ingat diri yang masih tinggi. Masingmasing pribadi haruslah berusaha untuk menjadikan keluarganya sebagai keluarga kudus seperti keluarga kudus di Nazaret, dalam hal ini Yesus, Maria dan Yusuf.

Paus Fransiskus pernah berkata: “Tidak ada keluarga yang sempurna. Kita tidak punya orang tua yang sempurna, kita tidak sempurna, tidak menikah dengan orang yang sempurna, kita juga tidak memiliki anak yang sempurna. Kita memiliki keluhan tentang satu sama lain. Kita kecewa dengan satu sama lain. Oleh karena itu, tidak ada pernikahan yang sehat atau keluarga yang sehat tanpa olah pengampunan.” Perkataan Paus Fransiskus memang sangatlah tepat. Kita mendambakan sebuah keluarga yang sempurna namun kesempurnaan itu harus dicari, ditemukan dan dipelihara sampai tuntas. Sebab itu tidak ada satu pun keluarga di dunia ini yang sempurna. Setiap pribadi masing-masing menunjukkan ketidaksempurnaannya dan berusaha untuk menjadi sempurna, kudus atau menjadi sebuah surga di dunia ini. Tidak ada satu pun pernikahan yang sehat, tak ada anak dan orang tua yang sempurna.

Ada keluhan dan kekecewaan namun semuanya ini mewarnai dan membuat keluarga menjadi lebih indah. James J. Jones adalah seorang penulis berkebangsaan Amerika. Ia pernah berkata: “Kebahagiaan sejati dan kesempurnaan kebahagiaan hanya dapat ditemukan dalam kelembutan dan keintiman hubungan keluarga. Seberapa pun giatnya kita mencari kesuksesan dan kebahagiaan di luar rumah, kita tidak akan pernah terpuaskan secara emosional sebelum kita menjalin hubungan keluarga yang dalam dan penuh kasih.” Apakah di dalam keluarga-keluarga katolik masa kini, masih menunjukkan hubungan kekeluargaan yang baik? Apakah di dalam keluarga dan komunitas masing-masing juga mewujudkan sebuah keluarga dan komunitas yang penuh kasih. Tidak ada kepalsuan dalam kebersamaan yang membuat kasih menjadi lebih berkualitas dari saat ke saat.


Leave a Reply


1 + 3 =