Allah Memanggil Dan Memperbaharui Hidup Kita

August 31, 2026
Allah Memanggil Dan Memperbaharui Hidup Kita

PALEMBANG – Bulan Agustus 2026 ada tiga pasangan suami istri (pasutri) yang merayakan ulang tahun perkawinan dan melakukan penyegaran janji perkawinannya dalam Perayaan EKaristi yang dipimpin oleh RD. Hyginus Gono Pratowo, MInggu 30 Agustus 2026 pukul 17.00 Wib.

Dalam homilinya Romo Gono mengatakan, kita seringkali tampil seperti Petrus, menuntut Tuhan untuk bekerja sesuai dengan harapan kita, mungkin kita ingin penuh dengan kemenangan,  mungkin hidup kita tanpa luka, tanpa penderitaan.  Inginnya bahwa semuanya itu baik-baik saja, tidak ada persoalan. Ketika Yesus berbicara tentang salib dan kematian, Petrus menolak, dia tidak siap untuk melihat penderitaan Sang Mesias.  Namun Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati tidak bisa dipisahkan dari pengorbanan.  Dia adalah Mesias yang akan memimpin dengan memanggul salib.  Dia mengajak kita untuk menapaki jalan yang sama,  memanggul salib dan setia serta menyangkal diri.

Yeremia mengalami gelora hati yang mirip dengan Petrus  dan merasa diperdaya oleh Allah, dipanggil untuk berseru demi kebenaran, tetapi menuai cemoohan, penolakan. Meskipun demikian, suara Allah seperti api dalam tulang belulangnya,  tak bisa dibungkam. hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.  Ketika kebenaran rasa berat dan iman menuntut banyak hal, suara roh tetap memanggil dan mengajak kita untuk tetap setia dan berharap. 

Dalam konteks hidup menggereja banyak tantangan yang dihadapi oleh kita pribadi-pribadi, misalnya kita sebagai Ketua Lingkungan, banyak kritikan, banyak permintaan ini dan itu, tetapi ketika pergantian periode untuk mengganti, oh saya tidak, saya tidak bisa dan tidak mampu.  Untuk mengkritik,  komentar dan memberi masukan nomor satu, tetapi untuk memberikan diri, oh tunggu dulu.  Tidak hanya Ketua Lingkungan, Komunitas-Komunitas yang ada : Lektor, Pemazmur, Misdinar dan lain sebagainya pasti juga mengalami banyak tantangan dan banyak teguran. Pentingnya bagi kita untuk menyangkal diri,  untuk memanggul salib kendati salib itu berat, membutuhkan pengorbanan dan juga  ketulusan hati. Rasul Paulus  mengajak kita  untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup.  Artinya seluruh hidup kita, entah itu pikiran, rencana, luka dan cita-cita dipersembahkan di altar Tuhan agar diperbaharui.

Penting bagi kita  untuk menyadari bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang berdosa.  Justru ketika kita menyadari bahwa kita lemah,   terbatas, berdosa dan merasa tidak layak,  disitulah sebetulnya roh kudus berkarya dalam hidup kita,  semoga kita kembali kepada jalan yang benar. Jalan yang benar adalah datang ke Gereja,  menyadari akan segala kelemahan kita, dan siap untuk diperbaharui.  Tidak ada yang sempurna diantara kita semua butuh diperbaharui, semua berdosa dihadapan Allah. Dunia mungkin menyebut jalan salib sebagai kebodohan dan kesia-siaan,  tetapi jalan ini sebenarnya menampilkan rahasia hidup sejati, kehilangan diri demi menemukan Kristus, menyangkal kesenangan-kesenangan pribadi demi menemukan Kristus.

Mari kendati kita manusia biasa,  manusia yang penuh luka, manusia yang penuh dengan keterbatasan, tetapi dengan keterbatasan itu Allah memanggil dan  ingin memperbaharui hidup anda maka kalahkanlah keegoisan,  kesombongan, keangkuhan dalam diri dan datanglah kepada Yesus yang terus menawarkan pembaharuan diri untuk umat. 

Upacara penyegaran janji perkawinan diawali dengan pemanggilan nama-nama pasutri kedepan Altar, kemudian mereka mengucapkan janji perkawinannya. Setelah itu Romo Gono memberkati dan memerciki mereka dengan air suci, selanjutnya juga menerima setangkai bunga mawar.

Leave a Reply


9 + 3 =