Minggu Palma : Mengenang Sengsara dan Kematian Yesus Kristus

March 25, 2024
Minggu Palma : Mengenang Sengsara dan Kematian Yesus Kristus

Umat Katolik memasuki pekan suci diawali dengan Perayaan Minggu Palma untuk mengenangkan Yesus memasuki Yerusalem. Kita diajak untuk mengenangkan  sengsara dan kematian Yesus untuk melaksanakan kehendak Bapa.

Perayaan Minggu Palma di Paroki Santo Yoseph Palembang diadakan hari Sabtu, 23 Maret 2024 pukul 17.30 Wib dan hari Minggu 24 Maret 2024 pukul 06.30, 09.00, 17.00 Wib. Mgr. Yohanes Harun Yuwono memimpin Perayaan Minggu Palma, 24 Maret 2024 pukul 09.00 Wib didampingi oleh RD. Hyginus Gono Pratowo. Acara diawali pemberkatan daun-daun palma di Taman Maria dilanjutkan dengan para Imam dan Prodiakon yang memerciki daun-daun palma yang dipegang oleh umat dengan air suci.

Melalui homilinya Mgr, Yohanes Harun Yuwono mengatakan Yesus telah membuktikan diri bisa berlaku panjang sabar, penuh kasih setia, rendah hati, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak mempertahankan kesetaraannya dengan Allah bahkan sebagai milik. Dia menjadi manusia rela menjadi hamba dan mati di atas salib, suatu hukuman penghinaan yang keji demi keselamatan manusia.

Allah tidak pernah lelah menempuh segala cara baik, dari mengutus para nabi sampai mengutus putranya sendiri, mari kita sadari segala cara baik yang ditempuh Allah adalah kasih.  Kehendak Allah juga kehendak Yesus adalah keselamatan manusia dan demi keselamatan manusia itulah, Yesus rela menanggung segala resiko. Bahkan bersedia mati di salib, begitu besar kasih Allah kepada dunia.

Kata Santo Yohanes, dalam Yohanes 3-16, begitu besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Dia memberikan anaknya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa melainkan mendapat hidup yang sejati dan hidup yang kekal. Karena kasihnya kepada manusia, Allah rela mengorbankan dirinya.

Yesus kita rayakan sebagai Raja yang menderita, kekuasaan dunia seringkali sebaliknya diperoleh dengan menghalalkan segala cara. Cara-cara yang tidak benar, cara-cara yang mementingkan diri sendiri. Bagi Yesus, kekuasaan adalah melayani, menyadarkan, mencerahkan, membimbing kepada kebenaran.

Setelah Yesus mengalami penderitaan dan kematian, Allah kemudian membangunnya dan menganugerahkan nama di atas segala nama. Inilah bukti bahwa Allah tidak menghendaki penderitaan, melainkan kebahagiaan dan keselamatan manusia. Bagi kita, sikap Allah ini adalah panggilan untuk hidup baik dalam situasi apapun.

Hidup benar, adil, dan jujur, janganlah kita takut menderita, janganlah kita lari dari tanggung jawab dalam beriman, dalam berkeluarga, dalam bermasyarakat, dalam berbangsa dan bernegara.  Sebagai murid Yesus, panggilan kita adalah panggilan melayani dengan hidup benar dan memberikan diri seutuhnya, seluruhnya.

Leave a Reply


8 + 8 =