Mgr. Aloysius Sudarso, Pribadi Beriman Teguh Dan Penuh Harapan

December 15, 2025
Mgr. Aloysius Sudarso, Pribadi Beriman Teguh Dan Penuh Harapan

Palembang – Menyemarakkan HUT ke 80 dan HUT ke 53 Imamat Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ umat Keuskupan Agung Palembang diajak untuk bergembira bersama dalam acara syukuran dan ramah tamah bersama, Minggu 14 Desember 2025 pukul 12.00 Wib di Gedung Xaverius Centrum Studiorum. Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pemerintah Kota Palembang, para tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat.

Pada sambutannya mewakili keluarga, Petrus Suyanto yang merupakan adik kandung Mgr. Sudarso mengatakan,  Bapak  Yulianus Siswa Susanto memiliki anak 8 orang, yang pertama sudah meninggal, kemudian yang kedua Mgr. Sudarso, yang ketiga saya dan yang sekarang hadir hanya saya dan adik saya yang tinggal di Bali.  Kemudian yang lain, keluarga besar hadir juga tetapi mereka adik-adik, sanak saudara, ada cucu-cucu tapi belum ada cicitnya. Bertepatan dengan ulang tahun  Mgr. Sudarso yang ke 80 dan pesta Imamat ke 53, saya melihat bahwa angka ini ternyata yang sama. Bagi orang Jawa angka delapan itu sebenarnya angka yang sangat bagus artinya belas kasih atau kasih. Harapannya bahwa belas kasihnya sudah selesai dan sudah dilaksanakan, beliau  kasih kepada Tuhan dan juga kasih kepada sama.

Tapi ada beberapa momen yang sejak kecil kami melihat bagaimana Mgr. Sudarso bertingkah laku dan berbuat sesuatu. Bapak saya  orang yang disiplin sekali bahkan juga keras, kami mendapat tugas masing-masing pada waktu  kecil. Kakak saya  yang paling tua mendapat tugas setiap pagi harus masak air dan masak untuk sarapan. Kemudian Mgr. Sudarso tugasnya nyapu, saya karena masih kecil agak enak tugasnya. Suatu saat harusnya kakak saya itu bangun pagi-pagi karena belum bangun akhirnya disiram air oleh Mgr. Sudarso ini untuk membuktikan bahwa harus disiplin. Nah ternyata dari itu mungkin akhirnya beliau menjadi uskup karena kedisiplinan yang diberikan oleh orang tua.

Jadi inilah hal yang mengingatkan kenangan beliau pada  kami semua, keluarga yang ada di Tugumulyo dan Yogyakarta. Ada hikmah yang bisa diambil  bahwa kedisiplinan yang diberikan oleh orang tua pada waktu kecil akhirnya bisa membawa akhirnya bisa membawa beliau sampai usia 80 tahun. Semoga kita  tetap selalu berbelas kasih atau kasih sayang kepada orang lain dan juga kepada Tuhan Allah sendiri sehingga kita akan selalu hidup bahagia walaupun dalam kondisi seperti apapun juga.  Selamat Hari Ulang Tahun ke 80 untuk kakak tercinta dan juga pesta Imamat ke 53, semoga  beliau masih tetap memberikan berkasih sayang kepada sesama dan juga tidak melupakan kasih kedekatan kepada Tuhan Sang Pencipta. 

Romo Andreas Suparman, SCJ mewakili Kongregasi SCJ Indonesia,  menyampaikan beberapa ungkapan hati, berkaitan dengan pengalaman hidup kami  bersama dengan Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, orang Palembang  ngomong “ life begins at 40 “, hidup mulai  40 tahun.  Tetapi inilah saya kira yang menjadi pengalaman hidup kami bersama dengan Mgr. Aloysius, seolah-olah umur 80 tahun ini menjadi awal kembali hidupnya yang lebih bermutu lagi.  Kami merasakan kehadiran Monsinyur ini di tengah-tengah kami, Kongregasi, SCJ, sungguh memberikan suatu teladan kehidupan yang luar biasa.  Kalau dulu mungkin ketika 40 tahun memulai hidupnya dengan kuasa, dalam  arti dulu kepemimpinannya luar biasa dengan pengetahuan dan segala hal yang hebat. Tetapi sekarang 80 tahun ini menggunakannya sungguh-sungguh dengan hidup yang sejati, menawarkan teladan kehidupan rohani bagi kami dan ini menjadi suatu sumbangan yang luar biasa.

Mgr. Aloysius Sudarso, Kongregasinya SCJ tapi sekaligus juga sekarang mempunyai Kongregasi SCH, S yang pertama adalah simple.  Hidup Monsinyur ini sangat simple, sangat sederhana dalam banyak hal. Kemudian C adalah Cordial, artinya memiliki hati, kita bisa melihat dan merasakan bagaimana Bapa Uskup ini sungguh memiliki hati yang terbuka kepada siapapun juga serta karya-karyanya, terutama kepada orang-orang yang lemah dan kecil. Hal ini menunjukkan bagaimana hatinya seperti hati Tuhan sendiri, yang tergerak  oleh belas kasihan dan hatinya selalu terbuka. Berikutnya H atau Holy yang berarti suci, ini adalah keteladanan yang diberikan. Bapa Uskup selalu mempersatukan pengalaman-pengalaman hidupnya dengan alam,  segala sesuatu yang Bapa Uskup hayati, kerjakan  karena akan selalu dipersatukan oleh Allah sendiri. Itulah kesucian yang Dia hayati selama ini dan menjadi sesuatu yang luar biasa, teladan bagi kami semuanya.

Terima kasih Bapa Uskup yang sudah memberikan teladan istimewa bagi kami,  Kongregasi SCJ dan juga bagi kita semuanya.  Juga terima kasih kepada Bapa Uskup Yohanes Harun Yuwono dan juga para Uskup lain di KWI yang sungguh memberikan dukungan sport bagi Bapa Uskup kita ini sehingga tetap memiliki semangat yang luar biasa. Juga kepada Romo Fredy yang sudah menculik sebagian besar dukungan dari Bapa Uskup untuk menjadikan hidupnya semakin berharga. Dukungan kita semua, tentu saja para umat dan juga sahabat-sahabat pelintas agama  dan pemerintahan yang memberikan sumbangan istimewa bagi Bapa Uskup sekaligus juga menunjukkan kepada kita sekali lagi, keterbukaan Bapa Uskup kepada siapapun juga sehingga tetap mampu mempersembahkan hidupnya lebih banyak lagi.

Sementara itu Uskup Agung Palembang, Yohanes Harun Yuwono dalam sambutannya mengatakan, usia 80 disebut dalam Mazmur adalah orang yang kuat, umur manusia 70 tahun, 80 jika kuat dan Bapa Uskup kita ini bukan hanya kuat, tetapi hebat.  Pencapaian usia 80, kita sering menyebutnya sebagai bonus, sebagai anugerah dari Tuhan. Memang bilangan 70 atau 80 bukan sebuah patokan matematis, angka tersebut sesungguhnya adalah usia rata-rata manusia pada zaman itu. Usia berapapun tetaplah harus disadari bahwa berapapun usia seseorang sangat pantas disyukuri. Sang pemilik kehidupan ini adalah Tuhan, maka semakin panjang usia seseorang, semakin harus bersyukur dan beriman.  Kita merasakan dalam diri Bapa Uskup Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, keteladanan orang beriman yang penuh syukur.  

Dalam usia imamat ke 53,  kendatipun sudah pensiun sebagai Uskup dalam iman dan karya ternyata pada beliau tidak ada pensiunnya.   Di Keuskupan beliau selalu bersedia diminta pelayanan dimanapun dan tentang apapun.  Di KWI, beliau sebagai ketua Dewan Pengurus KARINA dan masih sering harus pergi ke pelosok, berbagai Keuskupan di tanah air kita ini,  bahkan juga mencari dana ke Bangkok, Korea dan  kemana-mana untuk memberikan bantuan dalam berbagai kebutuhan kemanusiaan, urusan stunting,  urusan sumur bor, beberapa berbela rasa berhadap yang tertimpa becana dan lain-lain.  Ketika beliau pensiun, sesungguhnya saya berharap beliau bisa menikmati masa pensiun dengan bersenang-senang dengan melakukan perjalanan kesana kemari, bukan dalam rangka melakukan tugas pekerjaan.  

Beliau memang melakukan perjalanan kadang-kadang sangat jauh dan sangat sulit,  tetapi untuk melakukan tugas pelayanan,  ternyata begitulah beliau menikmati masa pensiunnya.  Sebuah keteladanan bahwa masa pensiun harus tetap berbuah, panggilan Imam dan kehidupannya menyatu, melekat, tak terpisahkan. Ini menunjukkan bahwa Mgr.  Aloysius Sudarso adalah pribadi yang  sungguh beriman teguh dan tangguh,  tetap penuh pengharapan,  yang berziarah ke masa depan dengan penuh semangat juga pribadi yang ketika pernah sakit dahulu,  tidak mengenal putus asa. 

Mgr. Emeritus Aloysius Sudarso, SCJ dalam sambutannya menyoroti tentang perkawinan yang akan bahagia  kalau  suami istri  bisa menciptakan  suasana atmosfer yang  saling membantu  satu sama lain  supaya yang laki-laki berkembang  sebagai Bapak dan yang perempuan berkembang  sebagai Ibu.  Jadi tidak ada paksaan tapi atmosfer  yang menciptakan, menghargai sehingga masing-masing bisa berkembang.  Saya merayakan  53 tahun  sebagai Imam Katolik  karena mempunyai tugas  dalam hal imam,  mempunyai tugas  untuk melihat  menunjukkan  tanda-tanda  kehadiran Tuhan itu yang jelas  dalam sakramen-sakramen,  dalam Ekaristi  Tuhan tetap hadir, menyertai  oleh karena itu  saya bersyukur  atas hidup ini.

Kita diberi hidup tetapi  harus memberi hidup karena hidup bukannya yang dimiliki sendiri tetapi supaya dibagikan. Sifat dari yang baik agar hidup adalah membagikan diri hanya cara membagikkan diri itulah yang menyebabkan hidup diteruskan. Walaupun umur  80 tahun, saya  juga  harus  memberi karena hidup itu hanya diberikan tetapi  harus diberikan kembali supaya lingkaran  hidup itu  berjalan terus. Tugas kita  adalah  menjadi jembatan hidup bagi  generasi-generasi yang akan datang agar bisa hidup baik, hutan, tanah dipelihara  dan sebagainya supaya mereka bisa hidup. Mari kita dalam kesempatan ini bersyukur kepada Tuhan karena diberi hidup, anugerah paling besar. Kalau kita tidak hidup  maka tidak bisa menikmati  kebersamaan seperti ini, kalau kita    tidak mempunyai hidup  yang diberikan Tuhan maka kita tidak bisa bersukacia, tetapi Tuhan mengharapkan hidup harus diberikan supaya ada sukacita.

Sebagai Imam Katolik saya mempunyai tugas  untuk  membantu  dan juga  untuk menemukan  Tuhan yang hadir  dalam tanda-tanda  dan Sakramen Ekaristi, Dia tetap hadir menyertai kita manusia karena Dia mengumpulkan hidupnya  yang abadi ketika kita berakhir nanti.  Menjadi Uskup paling lama, saya  merasa mengalami atmosfer  yang bagus, Bapak dan Ibu dari tokoh-tokoh keagamaan sangat baik, kita bekerjasama, Bapak dan Ibu dengan  segala perangkat pemerintahan juga berusaha dekat karena memang kita mempunyai tugas  untuk  memberi hidup satu sama lain agar kita bisa melanjutkan kebaikan Tuhan, supaya mengalir kepada  anak cucu kita  dan  mempersiapkan untuk generasi-generasi penerus.

Saya belajar dari Romo Fredy,  ini orang muda yang luar biasa jadi saya itu belajar bukan mengajar dia, belajar bagaimana dia bisa  sangat bagus  memberi perhatian kepada  mereka yang menderita,  mempunyai kemampuan menejemen  yang luar biasa  dan juga kontak dengan berbagai  kelompok  untuk kemanusiaan.  memang kita satu dalam kemanusiaan, kita semua sama karena kita  manusia, walaupun  berbeda-beda, betapa hebatnya Tuhan  bisa menciptakan semua yang berbeda-beda karena  mahakuasanya Allah itu. Kita juga harus  menghargai perbedaan  karena perbedaan itu  diharapkan dan diciptakan Tuhan,  maka kita harus melihat Tuhan dalam yang berbeda-beda yang hadir  di tengah-tengah kita. Terima kasih atas perhatian yang  luar biasa kepada saya dan saya juga  seperti anda, manusia yang  lemah, sering jatuh  tetapi mari kita  melanjutkan hidup  untuk generasi mendatang, anak cucu kita, ini tugas kita semua. 

Leave a Reply


2 + 7 =