HUT Ke Tujuh Imamat, Enam Romo Diosesan KAPal

June 1, 2025
HUT Ke Tujuh Imamat, Enam Romo Diosesan KAPal

Tanggal 29 Mei 2018 merupakan hari yang bersejarah bagi 6 (enam) Romo Diosesan Keuskupan Agung Palembang yang ditahbiskan 7 (tujuh) tahun lalu di Paroki Santo Yosep Palembang, yaitu : RD. Yohanes Agung Apriyanto, RD. Yohanes Ongko Handoko, RD. Ignatius Sukari, RD. Markus Edi Sucipto, RD. Aloysius Albert Danier dan RD. Romanus Hadi Suryono. Perayaan Syukur Imamat mereka diadakan di Pastoran Santo Yoseph Palembang, Kamis 29 Mei 2025 pukul 19.00 Wib yang dihadiri oleh Uskup Agung Palembang, Yohanes Harun Yuwono, para imam, frater, suster dan perwakilan umat serta tiga Romo yang berulang tahun, yaitu : Romo Agung, Romo Ongko dan Romo Danier.

Dalam sambutannya Romo Danier mengatakan kami itu dari dulu kompak dan dengan semangat itulah  kami saling menguatkan, juga doa dari Bapak, Ibu, teman-teman dan biarawan-biarawati semoga menguatkan langkah kami untuk maju ke depan. Kemudian Romo Ongko juga mohon doanya, buat saya, buat para romo dan kami semua, mohon jangan ditinggalkan, tolong diingatkan dan didoakan. Romo Agung juga mengucapkan terima kasih atas pertemuan ini,  baru pertama saya berada di sini, setelah tujuh tahun yang lalu dan banyak peristiwa yang menarik boleh kami alami, pertama secara pribadi, terima kasih atas dukungan dan juga kehadiran kita semua, ini  sebuah dukungan yang luar biasa bagi kami untuk merayakan syukur atas Imamat yang telah kami rayakan dalam tujuh tahun ini. 

Pada kesempatan ini secara pribadi saya akan berbagi kepada kita semua terkait dengan refleksi panggilan yang saya buat  dan ini saya sampaikan dalam sebuah puisi dan doa, dengan judul :

Benjana Tanah Liat Yang dipilih Allah

Dari keluarga sederhana aku tumbuh, dalam dekapan cinta yang tulus dan utuh.  Tak pernah kubayangkan kemana kaki ini akan melangkah,  namun suara lembut Allah membisikkan arah.  Langkah demi langkah kutapaki, jalan panggilannya,  meski tak selalu mudah, penuh liku dan air mata.  Namun aku percaya kasihnya setia menopang, menuntunku meski dunia kadang membentang juga.  Tujuh tahun telah berlalu, sejak tangan Allah mengurapiku di altar kudus itu, di hadapan umat dan surga yang menjadi saksi, aku berkata,  Ya Tuhan, aku siap melayani.  Namun hari-haripun mengajarkanku, bahwa menjadi imam bukan soal jubah atau tampak suci. Bukan soal berdiri di altar yang megah,  tapi melangkah setia dalam janji suci yang terikrar di hadapan Allah. Aku hanyalah manusia biasa yang dipilih Allah, bukan malaikat yang tak pernah salah.  Tapi aku percaya, Allah memanggilku bukan karena aku sempurna,  tetapi ia menyempurnakan setiap orang yang dipilihnya.

Terima kasih, aku ucapkan dan dalam doa, aku panjatkan.  Untuk Anda semua umat yang dikasihi Tuhan,  bersama Anda semua, aku tak hanya menjadi gembala,  tapi juga menjadi saudara yang terus-terus belajar setia. Aku sadar, menjadi gembala tidaklah selalu mudah, ada saat aku sendiri terluka,  merasa letih mencari domba yang menjauh tanpa arah.  Ada kalanya justru domba yang kukasihi, melukai dan menyerah namun tangan Tuhan selalu menopang, menguatkan untuk tetap tenang. Tuhan, engkau tahu aku rapuh,  tapi kau tetap mempercayakan bejana tanah liat ini untuk menampung rahmatmu yang tak pernah berhenti.  Engkau tahu aku lemah, tapi kau tak pernah lelah, mendekat dan menunjukkan arahmu.

Tujuh tahun ini bukan tentang keberhasilanku,  tetapi tentang kesetiaanmu yang tidak pernah menjauh dariku.  Tentang tanganmu yang mengangkatku setiap aku jatuh.  Tentang cintamu yang lembut meski aku kadang rapuh.  Hari ini, aku mempersembahkan kembali seluruh hidup dan imamatku,  agar aku semakin menjadi sahabat salibmu  dan pembawa cahayamu bagi umat yang menanti terang kasihmu.  Bukan untuk dikagumi, tetapi untuk melayani dengan rendah hati. Jadikanlah aku imam yang setia di tengah umatmu,  yang hadir dengan hati yang terus belajar mengasihi.  Karena aku tahu, engkau pun tinggal di tengah mereka,  dan aku hanyalah remah yang kau pakai menjadi tanda kasihmu yang melintas.

Terima kasih Tuhan, atas imamat suci ini, pelita yang kau titipkan di hati yang ingin terus melayani.  Bimbinglah aku selalu dalam terang firmanmu,  agar setiap langkahku selalu menuju salib dan surga.  Bunda Maria, Ibu Para Imam, doakanlah dan lindungilah aku dalam pelukan kasihmu, ajarkan aku taat seperti engkau dan setia sampai akhir hidupku.

Sementara itu Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang, RD. Hyginus Gono Pratowo mengucapkan profisiat  kepada tiga rekan imam kami yang ada di sini,  yang merayakan ulang tahun imamat  ke tujuh. Tadi sore dalam Perayan Ekaristi, mereka sudah berkolaborasi,  perayaan syukur yang boleh kita alami bersama dan Ekaristi adalah menjadi sumber dan puncak imam kita.  Bagi mereka,  pesta imamat ini juga adalah pesta  di mana mereka memberikan diri seutuhnya. Tujuh tahun bukan sekedar angka, tetapi bagaimana proses Anda bertahan sampai  atau menghayati imamat Anda,  panggilan hidup Anda sebagai imam.

Kita melihat hasil refleksi  Romo Agung dalam menapaki panggilan,  dalam suka dukanya, dalam kekagumannya,  maupun dalam kejatuhannya dan sebagainya.  Itu adalah gambaran kemanusiaan kita masing-masing, tetapi kita tetap punya Tuhan yang selalu menguatkan.  Tuhan yang selalu membimbing,  Tuhan yang tidak pernah melepaskan kita,  yang tidak pernah meninggalkan kita, yang selalu menemani kita dalam perjuangan.  Sekali lagi, para Romo selamat untuk anda, tetaplah bertahan, tetaplah rukun.  Tadi disampaikan mereka ini dari Seminari, ditahbiskan sampai sampai dengan sekarang tetap rukun dan kita doakan sampai akhir hayat pun tetap rukun.

Saya juga mengucapkan banyak terima kasih  atas kehadiran Bapa Uskup, para romo, para suster, frater, bruder, bapak, ibu, serta kawula muda, kehadiran anda itu adalah  wujud dari dukungan, wujud dari doa untuk pestawan ini dan untuk kami semua para imam, karena imam tanpa dukungan anda, kami bukan siapa-siapa.  Mereka juga tanpa dukungan kita bukan siapa-siapa, mereka kuat karena anda, maka besar harapan kami, anda mendoakan kami semua, mendoakan para imam yang pada hari ini berpesta dan berulang tahun imamat. Tetap kami mohon didoakan, kami adalah manusia yang lemah dan mari kita bersama-sama, berjalan sesuai dengan panggilan kita, sesuai dengan perutusan kita dan mari kita hayati perutusan itu sebagai wujud  bahwa kita adalah anak, saudara, saudari Allah sendiri.

Romo Eman, mewakili Kuria Keuskupan Agung Palembang, mengharapkan doa dan harapan bagi kami semua  khususnya  keenam romo, yang merayakan Imamatnya dan sekarang ini ada Romo Agung, Romo Ongko dan Romo Danier, semoga anda sekalian setia sampai selama-lamanya.

Rangkaian acara perayaan syukur berlangsung dengan sederhana tetapi meriah yang diisi dengan potong  tumpeng dan kue ulang tahun oleh Romo Agung, Romo Ongko dan Romo Danier. Kemudian santap malam bersama yang diiringi lagu-lagu oleh Romo Gono dan Romo Kris. Dalam kesempatan ini Mgr. Harun Yuwono juga menari dan bernyanyi bersama, para imam, suster dan umat. Sementara itu tak lupa Mgr. Harun Yuwono juga memberikan hadiah bagi Romo Agung, Romo Ongko dan Romo Danier yang merayakan HUT ketujuh Imamatnya.

Leave a Reply


4 + 9 =