Janto Chandra, Terima Kasih Atas Pengabdianmu

April 13, 2026
Janto Chandra, Terima Kasih Atas Pengabdianmu

Palembang – Keuskupan Agung Palembang dan PMKRI Cabang Palembang kehilangan orang yang berjasa dengan banyak aktivitasnya untuk kemajuan bersama, Johanes Thebrito Janto Chandra, kelahiran di Lubuk Linggau telah berpulang menghadap Bapa di Surga pada hari Kamis 9 April 2026. Alm. Janto Chandra juga pernah menjadi Ketua DPP Santo Yoseph Palembang, merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan sejak kecil mandiri karena sudah ditinggal Papanya waktu kecil. Misa Requiem diadakan di Gereja Santo Yoseph Palembang, Sabtu 11 April 2026 pukul 12.00 Wib yang dipimpin oleh RP. Agustinus Riyanto, SCJ selanjutnya jenazah Alm. Janto Chandra diperabukan di Krematorium Nirvana Km 7 Palembang.

Dalam homilinya Romo Riyanto mengatakan, dengan kematian kita semua pasti bersedih karena secara manusiawi kita akan kehilangan orang yang bertahun-tahun ada bersama kita, berdinamika bersama kita. Tetapi sebagai orang beriman kita juga terhiburkan oleh firman Tuhan yang tadi kita dengarkan kata-kata Yesus, “ Akulah jalan kebenaran dan hidup, Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu di rumah Bapa, di rumah Allah ada banyak tempat yang disediakan bagi setiap orang yang percaya kepadanya.”  Memang sudah sepantasnya kita yakini karena kita berasal dari pencipta dan kalau kita yakin bahwa seluruh yang hidup di dunia ini berasal dari pencipta yang sama dan akan kembali kepada sang pemilik hidup yaitu Allah yang sama, maka di rumah Allah pasti juga disediakan berbagai tempat yang cukup untuk seluruh umat manusia apapun imannya, apapun keyakinannya.

Kita yakin bahwa orang tua kita, saudara kita Bapak Yanto Chandra sekarang pun sudah menempati tempat yang disediakan oleh Yesus yang diimaninya melalui seluruh penghayatan hidupnya. Maka di satu sisi memang kita bersedih secara manusiawi, tetapi secara imani kita bersyukur karena saudara kita mengakhiri perjuangan hidup di tengah dunia ini dan mempersembahkan secara final seluruh penghayatan iman dan hidupnya kehadirat Allah dan boleh menempati tempat yang disediakan Kristus. Kita meskipun sedih oleh kematian tetapi kita juga yakin bahwa kematian tidak memisahkan kita selama-lamanya dengan orang yang kita kasihi.  Kematian hanya memisahkan secara jasmani tetapi secara rohani kita masih bersatu dengan orang-orang yang sudah berpulang. Jiwa tidak bisa mati, badanlah yang mati ketika ditinggalkan jiwanya dan akhirnya badan hancur kembali menjadi debu, tanah seperti ketika Allah menciptakan manusia. Sementara jiwa akan kembali kepada sang pemilik jiwa yaitu : Allah sendiri yang bersifat spirit yang bersifat rohani dan menguasai segala waktu segala tempat.

Secara rohani dia pun tetap memandang keluarganya, istri dan anak-anaknya dengan segala dinamika hidupnya, tetapi warisan utama yang tetap bisa kita lanjutkan adalah penghayatan iman Pak Yanto Chandra selama hidupnya. Satu hal yang paling utama adalah bagaimana selama ini kita menghayati iman kita, karena meskipun Allah menyediakan tempat bagi setiap orang yang percaya, bagi setiap orang yang beriman, bagi setiap orang yang beragama. Kita bersyukur memiliki Kristus yang kita yakini sebagai Firman Allah yang berkenan hadir sebagai manusia, Firman Allah yang menguasai kehidupan surga dan dunia ini, Firman yang sejak semula menjadikan dunia ini berkenan, hadir sebagai manusia.  Melalui sosok Yesus kita melihat bagaimana suka duka hidup manusia diperjuangkan di tengah segala penderitaan, pengkhianatan ketidaksetiaan bahkan ditinggalkan  oleh orang-orang yang dikasihinya. Satu hal yang ditampilkan, Yesus tetap setia sampai akhir kepada kehendak Allah.

Bapak Yanto Chandra sudah mengakhiri perjuangan hidupnya di dunia ini tetapi warisan imannya masih tetap hadir dalam memori kita. Kita bisa menceritakan segala aktivitas, segala hal baik yang pernah ia lakukan dan tentu saja dengan segala kerapuhan manusiawinya.  Tidak cukup hanya menjadi memori, saya kira Bapak Yanto Chandra menghendaki agar segala hal baik yang sudah pernah ia perjuangkan, lakukan itu juga tetap diteruskan sehingga kematian justru membawa kehidupan baru, penghayatan baru dari generasi-generasi yang masih hidup di dunia. Yakinlah di tempat yang sudah disediakan Allah, Bapak Yanto Chandra akan tersenyum bahagia melihat keluarganya yang terus mengembangkan hal baik, yang pernah ia wariskan. Ia tersenyum bahagia melihat PMKRI yang penuh semangat, menjadi orang-orang yang menunjukkan cintanya kepada Gereja dan tanah air. Ia akan tetap tersenyum bahagia ketika kita apapun, agamanya menjalin persatuan dan perdamaian seperti yang dulu ia perjuangkan di FKUB. Ia pun akan senang kalau teman-temannya Kerawam dimanapun berada turut terlibat aktif di Gereja maupun di lingkungan sosial masyarakat karena cukup lama beliau menjadi Ketua Kerawam dan ini semua adalah terlaksana atas kehendak Allah, kehendak Kristus.

Kristus menegaskan inilah tandanya bahwa kamu percaya padaku, bahwa kamu mencintai Aku, yaitu : bila kamu melaksanakan perintahKu. Maka pesan Yesus ini lebih relevan untuk kita yang masih hidup di tengah dunia ini, kita yang masih berjuang di tengah dunia ini dengan iman yang kita miliki masih punya PR karena ada saatnya kita pun harus mempertanggungjawabkan hidup kita. Bagaimana kita di sisa hidup kita, mengisi hidup kita dengan segala sesuatu yang baik seturut kendak Allah dengan menjalani jalan kebenaran dan hidup di dalam Kristus sendiri, dengan mencontoh Dia dan akhirnya menjadikan hidup kita sebagai berkat bagi dunia dan bagi sesama. Dengan cara ini maka kita pun tidak cemas, tidak gelisah karena satu saat kita yakin akan disatukan bersama Pak Yanto Candra dalam keluarga Allah yang bahagia.

Jessica, anak pertama Alm. Janto Chandra mengungkapkan banyak yang merasa kehilangan sosok sahabat, teman cerita, tokoh, keluarga yang selama ini selalu mendukung yang baik dan mendengar apapun keluh kesah kami. Saya merasa bangga dan beruntung memiliki Papa Janto Chandra, saya banyak belajar, Papa dari kecil walaupun keras dengan prinsip hidupnya, mengajari kita terus menerus dengan prinsip hidupnya, selalu menjadi pelindung, selalu bisa diandalkan,  sebagai guru dan mentor hidup yang selalu menjaga kita. Kalau khawatir dengan keluarga selalu WA atau telpon dan peduli dengan keluarga. Biasanya Papa selalu tanya, tahun ini kita kemana  tetapi tahun ini tidak sempat nanya. Tuhan ada acara rencananya sendiri, ada jalannya sendiri dan Papa sudah jalan duluan. Tuhan Yesus sangat sayang Papa, tidak dikasih menderita dan sakit lama-lama. Saya percaya semua doa-doa kita, saudara, sahabat dan keluarga tidak ada yang sia-sia, semuanya adalah jalan untuk Pak Janto Chandra atau orang-orang yang kita sayangi dan sudah meninggal, jalan masuk ke kerajaan Allah dan tempat yang lebih baik tidak ada kesakitan lagi. Apabila Papa ada kesalahan selama masa hidupnya, saya mewakili Papa minta maaf, mohon doanya.

Leave a Reply


4 + 1 =