Pembukaan Bulan Maria : Mari Menjadi Pekerja Yang Baik Dan Pewarta Kasih

May 13, 2026
Pembukaan Bulan Maria : Mari Menjadi Pekerja Yang Baik Dan Pewarta Kasih

Bulan Mei juga dikenal sebagai bulan Maria, umat Paroki Santo Yoseph Palembang memberikan perhatian penuh kepada Bunda Maria melalui pembukaan bulan Maria yang dipimpin oleh RD. Hyginus Gono Pratowo. Kegiatan diawali dari Taman Maria Hati Kudus Yesus umat diajak untuk mendaraskan doa rosario bersama, Jumat 1 Mei 2026 pukul 17.30 Wib dilanjutkan perarakan Patung Maria menuju ke dalam Gereja Santo Yoseph Palembang sambil tetap mendaraskan doa rosario.

Dalam homilinya Romo Gono mengatakan,  kita mengawali bulan Maria dengan perarakan dan doa rosario bersama di Taman Maria. Tentu ada hal yang ingin disampaikan untuk kita, yaitu : kita diajak untuk sungguh menyadari bahwa Gereja mempunyai kekayaan yang luar biasa. Kekayaan bukan soal uang, tetapi warisan tradisi, warisan iman yang sungguh luar biasa, devosi kepada Bunda Maria.  Tetapi harus kita ingat, puncak dari devosi adalah egoistik. Egoistik tetap menjadi sumber dan puncak iman Gereja, maka penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak boleh melebihi putranya Yesus Kristus.  Maria adalah bunda Allah, posisinya ada di bawah Yesus putranya, di atas para santo-santa. 

Devosi adalah kesalehan rohani, hidup saleh atau olah kesalehan dalam kehidupan kita manusia, maka kita harus meletakkan Kristus itu di atas segala-galanya, karena hanya Dialah jalan kebenaran dan hidup.  Sebagai orang Katolik, kita harus bangga memiliki tradisi memberi penghormatan kepada Bunda Maria.  Ketika kita mengarak patung, bukan berarti kita menyembah patung, ketika kita berdoa di depan patung Bunda Maria, bukan berarti kita juga menyembah. Tetapi ini hanyalah sarana dan simbol, kita tidak menyembah berhala atau patung.  Tetapi kita sungguh ingin menghadirkan sosok Bunda Maria yang ambil bagian dalam karya keselamatan dunia.  Tanpa Bunda Maria tidak ada Yesus, karena Bunda Maria adalah sosok wanita yang sederhana.  Ia memberikan dirinya, memberikan hidupnya untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Allah dan mengandung dari Roh Kudus. 

Sosok yang juga tidak kalah sebagai teladan hidup orang beriman adalah Santo Yusuf Pekerja atau disebut juga Santo Yosef Pekerja. Memberi teladan indah melalui hidupnya yang sederhana, penuh tanggung jawab dan setia pada kehendak Allah.  Ia bekerja dalam diam, namun kesetiaannya menjadi kesaksian besar.  Yusuf menunjukkan bahwa bekerjaan sehari-hari bukan hanya kewajiban, tetapi panggilan mulia untuk melayani Tuhan.  Dengan ketekunan dan iman, kerja menjadi sarana menghadirkan kasih Allah dalam keluarga, dalam pelayanan,  baik dalam pelayanan Gereja maupun juga pelayanan masyarakat dan kehidupan sesama. 

Kita semua dipanggil untuk menjadi bekerja-bekerja di ladang Tuhan, lewat pelayanan kita masing-masing dan lewat panggilan kita masing-masing. Kita masing-masing semua dipanggil untuk menjadi pelayan bagi sesama, maka untuk menjadi pelayan bagi sesama, ada hal penting yang tidak boleh kita lupakan, yaitu : niat, jangan hanya melakukannya karena ini bulan Mei,  bulan Maria tetapi datanglah dengan niat pribadi, beritahu Bunda Maria apa yang kita cari, bantuan, penyembuhan, arahan atau kedamaian.  Dia akan mendengarkan seperti seorang ibu yang setia mendengarkan keluhan anak-anaknya, tidak cukup niat, tapi datanglah.

Konsistensi lebih penting daripada kegembiraan, memulai dengan kuat itu mudah, tetapi menyelesaikan dengan baik dan membawa rahmat, kesetiaan itu berbicara lebih keras daripada perasaan.  Rosario adalah hati, doa rosario bukan hanya pengulangan, tetapi mediasi tentang kehidupan.  Kehidupan tentang Yesus melalui Bunda Maria.  Jangan terburu-buru, biarkan setiap misteri berbicara kepada hidup kita.  Doa tanpa dihayati maka sia-sia, berdiamlah sedikit lebih lama. Maria sering berbicara dalam saat-saat tenang, bukan dalam kebisingan.  Maka seorang devosional, devosan harus memiliki keheningan, luangkan waktu untuk pertobatan yang tulus dan jika memungkinkan menerima sakramen rekonsiliasi, sakramen tobat, inilah buah-buah dari devosi.

Orang yang cinta akan devosi,  mau menyadari bahwa dirinya itu lemah, suka melayani, bukan mencari tepuk tangan, tetapi bagaimana dia sungguh merasakan sukacita, karena bisa mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan.  Seorang devosan yang sejati akan menemukan keheningan dalam suka cinta, keheningan yang menenangkan dan mengampuni, hati yang bersyukur, menjaga berkat dan tetap hidup. Devosi bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang hubungan, jika kita mendekatinya dengan tulus, bahkan doa terkecil kita pun akan membawa kita ke surga.  Maka doa tidak perlu panjang, tetapi yang diberikan adalah ketulusan hati.

Dalam doa ada kejujuran, dalam doa ada ketulusan hati, orang yang mencintai devosi dan orang yang mencintai Ekaristi,  ia semakin rendah hati.  Maka  kalau kita datang ke Gereja merayakan Ekaristi dan devosi,  bawalah buah-buah itu sampai ke rumah. Seharusnya apa yang kita terima di Gereja juga harus diperhatikan di rumah dan kalau di Gereja kita bisa melayani, di rumah kita juga wajib untuk melayani. Gereja bukan tempat pelarian supaya kita menghindari pekerjaan di rumah, tetapi tempat kita mensyukuri berkat Allah  karena aku boleh melayani, menjadi pelayan di rumah,  bekerja di rumah dan melayani bersama. Mari bersama dengan Bunda Maria dan Santo Yosef,  kita menjadi pekerja-pekerja yang baik,  pewarta-pewarta kasih dimanapun kita berada. 

Selama bulan Maria, Paroki Santo Yoseph Palembang mengajak umat untuk mengadakan doa rosario bersama di dalam Gereja maupun di Taman Maria Bunda Hati Kudus yang melibatkan semua kelompok Kategorial, Lingkungan dan Wilayah dan diadakan pada pukul 19.00 Wib.

Leave a Reply


8 + 7 =