Perayaan Ekaristi Bersama Anggota TNI/POLRI

August 12, 2026
Perayaan Ekaristi Bersama Anggota TNI/POLRI

PALEMBANG – Anggota TNI/POLRI Kota Palembang mengadakan Perayaan Ekaristi bersama yang dipimpin oleh Romo Agustinus Riyanto, SCJ didampingi Pastor Paroki, RD. Hyginus Gono Pratowo  di Gedung Aula Serbaguna Santo Yoseph Palembang, Jumat 7 Agustus 2026 pukul 12.00 Wib.

Dalam homilinya Romo Riyanto mengatakan, iman kita tidak cukup hanya menjadi pengakuan,  tetapi iman membutuhkan komitmen dan penghayatan dalam kehidupan kita. Kita berbakti dan berhormat kepada Allah  dan buah-buahnya itu bisa diwujud nyatakan,  dinikmati dalam kehidupan seharian dan itulah yang akan dinilai oleh Allah. Itu yang akan mendatangkan ganjaran  untuk semua orang yang menyebut diri beriman dan untuk semua orang yang menyatakan diri umat manusia  yang hidup di dunia ini.  Apapun agama dan pekerjaan melalui karya-karya, kehadiran kita diharapkan mewujud nyatakan iman  dalam semua aspek kehidupan.  Buah-buah yang mendatangkan karya keselamatan Allah,  itulah yang akan dihitung nanti mendatangkan ganjaran yang berkenan kepada Allah. Persembahan kita  sebagai wujud orang beriman  bukan sekadar  rajin berkerja,  rajin berdoa tetapi justru bagaimana  kedekatan dan cinta kasih kepada Allah  terwujud nyata melalui karya kita  di kehidupan kita seharian,  di tengah keluarga, dan di seluruh bidang hidup. 

Tentu berbicara tentang iman ganjaran kita tidak hanya kehidupan dunia ini, karena iman justru  membicarakan tentang kehidupan setelah mati.  Melalui iman itulah kita meyakini  bahwa perjuangan hidup kita tidak hanya di dunia ini tetapi setelah kita mengakhiri kehidupan di dunia ini akan ada kehidupan lain dan cita-cita semua orang beriman adalah  bersatu bersama Allah.   Maka celakalah orang-orang yang tidak menghargai kehidupan manusia dalam dirinya ataupun dalam diri orang lain.  Ketika kita tidak mencukupi eksistensi kita sebagai manusia dan kita tidak hidup sesuai martabat kita sebagai manusia yang diciptakan secitra dengan Allah,  kita sudah mengingkar hakikat kita, menghilangkan kehidupan dan hakikat manusia kita.

Ketika kita dengan mudah menyakiti diri kita sendiri dan tidak menjadikan hidup kita tumbuh berkembang serta menghasilkan banyak rahmat Allah bagi orang-orang di sekitar maka kita sudah tidak menghargai kehidupan. Maka jangan sampai terjadi bahwa apapun yang kita lakukan ada prinsip tabur, tuai.  Jalan untuk sampai menikmati ganjaran yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus yang kita imami tidak mudah. Kamu harus menyangkal diri, meninggalkan segala keinginan-keinginan duniawi, meninggalkan ego kita dan hanya memantapkan diri terus pada Tuhan Allah. Konsekuensi mengikuti Yesus ternyata tidak mudah. Apapun yang kita lakukan iman itu akan bersuara, karena iman bersuara di tengah segala tantangan, budaya dan aneka tawaran-tawaran dunia ini, nah ini yang butuh pengorbanan besar. Dalam kehidupan sehari-hari kita pun harus  menanggung salib untuk menghayati  perintah-perintah Tuhan, karena salib itu justru  ada dalam hati dan pikiran kita yang sebenarnya butuh kita panggil.

Untuk kita  supaya mendapatkan jarak iman, bersatu bersama Kristus, maka harus setia mengikuti  Yesus.  Maka jangan pernah mengatur Tuhan  Yesus.  Yang namanya pengikut berarti berjalan di belakang, kita mengikuti jejak Kristus.  Jejak Yesus itu adalah mengikuti kehendak dan perintahNya, maka setiap saat kita  hadir, berjalan dan bekerja dimanapun  setiap saat, sudah sesuai dengan  kehendak Tuhan Yesus yang ditinggalkan kepada kita.  Kita harus terus  mencari jejak Yesus, setia di suatu jalan hidup kita, butuh kesetiaan setiap  saat berjalan bersama Yesus.  Dengan cara ini,  maka kita akan terus berkomitmen untuk melaksanakan kehendak Allah dan mengisi hidup kita sesuai dengan kehendak Allah sehingga kita mampu menghasilkan buah-buah dari kehidupan.  Semoga kita diteguhkan oleh Firman  Tuhan dan doa-doa kita hari ini semakin  meneguhkan iman kita untuk dihayati  dalam kehidupan kita sehari-hari.

Leave a Reply


5 + 3 =