Paus Fransiskus kirim pesan Imlek, memberikan pujian kepada Beijing

Dalam salam Tahun Baru pertama oleh seorang Paus kepada pemimpin Tiongkok tersebut, Paus Fransiskus mendesak dunia untuk tidak takut dengan kebangkitan Tiongkok.
“Dunia Barat, dunia Timur dan Tiongkok, semua memiliki kapasitas untuk menjaga keseimbangan perdamaian dan kekuatan untuk melakukannya. Kita harus menemukan jalan, melalui dialog, tidak ada cara lain,” katanya kepada Asia Times dalam sebuah wawancara yang dilakukan di Vatikan.
Seruan Paus tentang perdamaian terjadi di tengah kampanye pembongkaran salib di gereja-gereja di Tiongkok selama dua tahun dan berbicara dialog antara Vatikan dan Beijing yang telah memasuki putaran ketiga pada 25 Januari dengan sedikit tanda kompromi mengenai isu utama terkait pengangkatan uskup.
Duta Besar Taiwan untuk Vatikan yang baru, Matthew Lee mengatakan kepada ucanews.com pada akhir Januari bahwa pembicaraan Vatikan dan Tiongkok “tidak ada kemajuan”. Hubungan formal di antara Takhta Suci dan Taipei sendiri tetap menjadi perhatian utama Beijing, dengan menegaskan negara-negara mencari hubungan diplomatik dengan Tiongkok pertama harus memutuskan hubungan mereka dengan Taiwan.
Dalam komentarnya tentang Tiongkok, Paus mengutip Matteo Ricci, Yesuit Italia di abad ke-16, yang menjadi pejabat di istana kekaisaran Beijing, mengagumi imam itu “bagaimana ia bisa berdialog dengan budaya yang besar ini.”
Komentar Paus sering memberikan pujian terhadap warisan budaya Cina dan “kebijaksanaan” ketika ia mengucapkan selamat kepada Xi, usai terpilih menjadi presiden Tiongkok.
Sebuah negara yang sering mengeluh kritikan sepihak dari Barat, penilaian kritis Paus terhadap Tiongkok masa lalu sekarang dan akan datang sebagai kejutan menyegarkan untuk Tiongkok, terutama kepada pemimpin Partai Komunis di Beijing.
Pemerintah Xi telah berbalik sikap terkait kebebasan beragama sejak ia menjadi presiden pada Maret 2013, minggu yang sama Paus Fransiskus juga terpilih menjadi pemimpin Gereja Katolik sedunia.
Di akhir tahun 2013, pemerintah provinsi di Zhejiang melakukan pembongkaran gereja dan kampanye pembongkaran salib yang dianggap yang paling represif terhadap minoritas agama di Tiongkok sejak Revolusi Kebudayaan. Lebih dari 1.500 salib gereja dibongkar, termasuk setidaknya 18 salib tahun ini, kebanyakan dari mereka dari Protestan.
Paus Fransiskus tidak menyentuh pada setiap aksi represi baru-baru ini dalam komentarnya.
Nada yang tampaknya dirancang untuk memisahkan Paus dari suara-suara yang lebih penting antara pemerintah Barat terhadap Tiongkok, Amerika Serikat pada Desember mengecam Beijing terkait pelanggaran kebebasan beragama.
Memperluas komentarnya selama kunjungannya pertama ke Asia sebagai Paus pada Agustus 2014, Paus Fransiskus membuat komentar bahwa Tiongkok tidak perlu takut dari dunia yang lebih luas – tidak juga Gereja.
Sumber: ucanews.com
