UMAT BERTANYA ROMO MENJAWAB

March 11, 2016
UMAT BERTANYA ROMO MENJAWAB

UMAT BERTANYA ROMO MENJAWAB

230px-Thebible33

Yth Pengelola website   St Yoseph Palembang

Setiap misa kudus seorang lektor meyampaikan sbb :

  1. Dalam pengumunan perkawinan secara katolik/ hukum kanonik , umat dimohon untuk melaporkan pada pastor kalau ada halangan -halangan perkawinnan

Pertanyaan : halangan-halangan apa saja yang membuat perkawinan secara katolik tidak sah supaya semua umat katolik katolik st yospeh tahu tentang pengajaran hokum kanonik perkawinan

  1. Sebelum menyambut komuni, lektor selalu menyampaikan bahwa yang boleh menerima komuni adalah orang katolik yang sudah dibaptis dan tidak sedang mendapat halangan menurut hukum kanonik/ gereja.

Pertanyaan : yang dimaksud sedang mendapat halangan menurut hokum kanonik seperti apa? ( apa pasangan yang sedang berpisah kemudian kawin lagi secara sipil                    atau telah diatur pasal pasal dalam kitab hukum  kanonik tentang halangan menyambut komuni.

Terima kasih , BERKAH DALEM – FELIX LUX

salam

bonefacius – umat Ling . St Andreas

 

Terima kasih Bung Bonefacius atas pertanyaannya, berikut ini

JAWABAN DARI PASTOR PAROKI SANTO YOSEPH PALEMBANG RM.LAURENTIUS RAKIDI, Pr

Halangan-halangan Perkawinan

  1. Umur: menurut hukum Gereja Katolik laki-laki 16 th., perempuan 14 th. Menurut hukum Sipil, laki-laki 21 th., perempuan 19 th. Di bawah umur tersebut menjadi halangan.
  2. Impotensi: Ketidakmampuan seseorang untuk melakukan hubungan seksual menjadi halangan dalam perkawinan katolik.
  3. Ikatan nikah: Kalau orang masih ada ikatan nikah dengan orang lain, orang tersebut tidak boleh melangsungkan perkawinan secara katolik.
  4. Beda agama dan beda gereja: sebenarnya menjadi halangan dalam perkawinan, tapi biasanya dalam kasus tertentu akan ada dispensasi dan ijin dari Uskup, sehingga terjadilah yang disebut kawin campur. (tapi hendaknya cara ini sejauh mungkin dihindari).
  5. Tahbisan suci: Orang yang masih terikat dengan tahbisan tidak boleh melangsungkan perkawinan secara katolik.
  6. Kaul religius: Orang yang masih terikat dengan kaul religius tidak boleh melangsungkan perkawinan secara Katolik.
  7. Penculikan: Antara pria dan wanita yang diculik atau sekurang-kurangnya ditahan dengan maksud untuk dinikahi, perkawinan tersebut tidak syah.
  8. Kejahatan: Kalau seseorang bermaksud menikahi orang tertentu, lalu melakukan pembunuhan terhadap suami/istri orang itu atau terhadap suami/istrinya sendiri, perkawinan tidak syah.
  9. Hubungan darah: Perkawinan yang dilakukan antara orang yang mempunyai hubungan darah adalah tidak syah. Dalam kaitannya dengan hubungan darah ini, perkawinan tidak syah sampai tingkat saudara sepupu.
  10. Hubungan semenda: Perkawinan tidak syah antara suami dan orang yang mempunyai hubungan darah dengan istrinya; demikian juga antara istri dan orang yang mempunyai hubungan darah dengan suaminya. (Nb. Hubungan darah dalam garis lurus tetap menjadi halangan, sementara menurut hukum yang baru, garis menyamping (ipar) tidak lagi merupakan halangan.
  11. Kelayakan publik: Hampir sama dengan hubungan semenda, perbedaannya, halangan kelayakan publik ini timbul dari perkawinan yang tidak syah. Misalnya A hidup bersama dengan B sebagai suami-istri dalam nikah tidak syah. Maka antara A dan saudara-saudara B timbul halangan publik, baik dalam garis lurus maupun garis menyamping.
  12. Pertalian hukum: Perkawinan tidak syah antara mereka yang mempunyai pertalian hukum yang timbul dari adopsi, dalam garis lurus atau garis menyamping tingkat kedua.

Halangan hukum Gereja yang membuat orang tidak boleh menerima komuni:

  1. Perkawinan yang tidak syah (masih punya ikatan perkawinan tapi menikah lagi)
  2. Dosa berat (membunuh, aborsi)

Semoga jawabannya memuaskan …. Tuhan Memberkati

Leave a Reply


6 + 4 =