Danier “ Dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan (Kis 20:19) “

May 28, 2018
Danier “ Dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan (Kis 20:19) “

 

BIODATA

Nama Lengkap                : Diakon Aloysius Albertri Danier

Nama Panggilan              : Diakon Danier, Anak ke 3 dari 3 bersaudara

Nama Orangtua              : Ayah-Andreas Bunasir dan Ibu- Maria  Goreti Paini (†2007)

Paroki Asal                       : Paroki Santo Yosef Tanjung Enim

Tempat, Tanggal Lahir   : Tanjung Enim, 14 Januari 1990

Tempat, Tanggal Baptis : Tanjung Enim, 14 Februari 1990

Tempat, Tanggal Krisma : Tanjung Enim, 03 September 2000

Tempat/tgl Lektor-Akolit : Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar, 21 Februari 2013

Tempat/tgl Tahbisan Diakon  : Paroki Santo Stephanus Martir Curup, 07 Januari  2018

 

Riwayat Pendidikan

1994-1995 : TK Xaverius Emmanuel Tanjung Enim

1995-2001 : SD Xaverius Emmanuel Tanjung Enim

2001-2004 : SMP Xaverius Emmanuel Tanjung Enim

2004-2008 : Seminari Menengah Santo Paulus Palembang

2008-2009 : Tahun Orientas Rohani (TOR) Santo Markus Pematangsiantar

2009-2013 : Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas Pematangsiantar

2013-2014 : Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Katedral Santa Maria Palembang

2014-2015 : Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Santo Stephanus Martir Curup

2015-2017 : Teologi di STFT Santo Yohanes Pematangsiantar

2017-sekarang : Penpas dan Diakonat di Paroki Santa Maria Assumpta Mojosari Belitang

 

 

Refleksi Sejarah Panggilan

Panggilan tak senikmat buah Alpokat

Alpokat adalah salah satu buah kesukaan saya. Ada dua tempat yang masih saya ingat ada pohon alpokat dan sering menikmati buahnya yakni di Seminari Tinggi Santo Petrus dan saat TOP di Curup, pandangan segar pada pohon alpokat yang menjulang gagah di depan refter dan selalu berbuah. Buahnya lebat, sangat dipuja dan dinanti-nanti untuk dipetik, dibagi-bagi, dan dinikmati.

Alpokat dinanti-nanti untuk dinikmati. Orang menginginkan buahnya bergantungan di tiap ranting. Oh, sungguh menyejukkan mata. Orang yang melihat dari bawah, akan tertegun dan menelan ludah, tanda hasrat yang dalam untuk menikmati alpokat. Lebatnya menggiurkan. Besarnya menakjubkan. Rasanya, hmmmm….tak sabar untuk menantinya. Alpokat  berbuah lebat. Banyak orang tidak sadar bahwa mereka tidak ikut ambil bagian dalam proses  menumbuhkan dan melebatkan buah itu. Orang hanya melihat dan berharap “berbuah lebat dan enak ya”.

Demikian juga panggilan untuk menjadi imam, sangat dinanti-nanti. Dengan beragam alasan, kebanyakan orang mendorong anak orang lain untuk jadi imam/biarawan/biarawati. Pengennya para frater itu cepatlah jadi pastor, pengennya banyak imam/biarawan/biarawati, tapi kadang banyak orang lupa untuk ikut serta lebih giat lagi dalam mengupayakan bertambahnya jumlah orang terpanggil. Ada tertulis, “Tugas seluruh jemaat kristianilah untuk membina panggilan, agar kebutuhan-kebutuhan akan pelayanan suci di seluruh Gereja terpenuhi dengan cukup; kewajiban ini terutama mengikat keluarga-keluarga kristiani, para pendidik dan dengan alasan khusus, para imam, terutama para pastor paroki (KHK 1983, Kan. 233, § 1). Dalam hal itu sangat besarlah sumbangan keluarga-keluarga, yang dijiwai semangat iman dan cinta kasih serta ditandai sikap bakti, menjadi bagaikan seminari pertama; begitu pula paroki-paroki, yang memungkinkan kaum remaja ikut mengalami kehidupan jemaat yang subur. Para guru, dan semua saja yang dengan suatu cara lain ikut bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak dan kaum muda, terutama himpunan-himpunan katolik, hendaknya berusaha mendidik kaum remaja yang diserahkan kepada mereka sedemikian rupa, sehingga dapat menerima panggilan ilahi serta mengikutinya dengan sukarela (OT, no.2).

Panggilan untuk menjadi imam ada dalam diriku sekitar 20 tahun yang lalu, sewaktu aku duduk di bangku SD. Secara tak sadar bahwa kedekatan jarak rumah dengan gereja dapat memunculkan keinginan untuk menjadi imam. Bermula dari rajin ikut Sekolah Minggu, misdinar[1], misa harian (baik pagi maupun sore), pertemuan lingkungan, Legio Mariæ, koor paroki, dan ikut kunjungan ke stasi dengan romo.

Salah satu penguat alasan menjadi imam yakni saya dan orangtua pergi berkunjung ke Seminari Menengah Santo Paulus Palembang pada tahun 2003. Dalam hati saya bergumam, “Sepertinya di sini enak, orangnya ramah, lingkungan asri dan nyaman.” Beberapa seminaris mengatakan bahwa kalau mau jadi romo, harus di seminari dulu.

Selang beberapa waktu, saya menyatakan pada orangtua bahwa saya mau ikut tes seminari. Mereka berdua malah tersenyum. Saya pergi ke pastoran, meminta formulir pendaftaran pada pastor paroki (RD Christoforus Lamen Sani[imam diosesan Keuskupan Bogor]). Pada 26-29 Desember 2003 saya mengikuti tes. April 2004 saya dinyatakan lulus tes. Juli 2004 saya menjadi siswa Gramatica bersama 33 teman lain. Tidak ada teman se-paroki saya.

Alpokat yang matang berubah warna menjadi kecoklatan, hitam jika sudah busuk. Panggilan menjadikan pribadi jadi berubah dan berbuah. Seorang terpanggil akan berubah matang bukan dilihat dari warna kulit. Kematangan dalam berbagai hal tampak dalam kehidupan harian. Itu terjadi jika mau terus-menerus berada bersama ‘Sang Pokok’ yang memanggil. Seorang terpanggil harus menjadi secitra dengan Kristus Sang Imam, maka hendaknya juga dengan hidup dalam persekutuan akrab yang meliputi seluruh hidup mereka membiasakan diri untuk sebagai sahabat berpaut pada-Nya (OT, no. 8). Jika jatuh dan terlepas dari “Pokok”, ia akan pecah, mati dan busuk, tak ada gunanya selain dibuang (bdk. Mat 5:13; Mrk 9:50; Luk 14:34).

Tahun pertama di Seminari Menengah Santo Paulus, bersama Sr. M. Joanni, FSGM saya dituntun untuk belajar mengenali diri dan teman-teman serta membangun motivasi belajar agar dapat mengikuti pelajaran. Saat itu dimodali dengan cara berdoa, menulis refleksi harian, tulis sms dan syukur kepada Tuhan, meditasi, misa, devosi, dan bimbingan. Ada doa singkat yang diajarkan Sr. Jo dan masih saya doakan hingga sekarang, yakni “Tuhan, jagalah panggilanku dan panggilan teman-temanku”. Empat tahun bersama para staf di Seminari Menengah, saya bersyukur dan bergembrira menjalani jenjang pendidikan. Mereka mampu mengerti situasi dan perkembangan seminaris seturut usia dan zaman.

Di akhir tahun ketiga, saya memperoleh kekuatan tambahan dalam panggilan.. Panggilan diperteguh dengan pengalaman live in bersama keluarga Bapak Sumadi di Stasi Santo Fransiskus Asisi Sindang Jati, Paroki Santo Stephanus Martir, Curup (Provinsi Bengkulu). Pengalaman perjumpaan dan pengetahuan tentang aren, cabe, dan kopi mengantar saya pada refleksi proses dari dan menjadi. Sebelum waktu panen, segala tetumbuhan berbiji dan tak berbiji, ditanam, dirawat, dipupuk, dan diperhatikan proses perkembangan hari demi hari. Selain itu, belajar memahami sesama yang memiliki keterbatasan entah fisik (bisu dan tuli) entah mental; menjadi orang terpanggil, juga harus mampu hadir bagi mereka yang terbatas.

Proses panjang panggilan selama ini mengingatkan saya pada motivasi awal dalam panggilan berikut moto yang menarik dalam sejarah panggilan saya. Ada yang celetuk demikian ‘kalo kepikiran keluarga padahal tinggal jauh dari dan kangen dengan keluarga, gimana?; kok mau jadi imam, pacarnya gimana?’ Saya teringat ‘pergilah dan kamu akan mendapatkan 100x lipat’. Sejak 2004 ‘pergi’ dari kampung halaman, saya punya keluarga baru yang lebih banyak, kecuali pacar. Pengalaman sejak 2004 hingga saat ini multirasa dan multiefek. Keluarga dan kenalan mendukung dan mendoakan saya. Kekuatan itu mendorong saya untuk memaknai hari-hari pendidikan hingga sekarang.

Memang nikmat makan alpokat, apalagi sendirian, tak ada yang mengganggu, tetapi akan lebih nikmat lagi bila rasa itu tidak hanya dinikmati sendiri. Dibagi-bagi. Yang lain juga ingin bahagia menikmati rasa itu. Panggilan dinikmati bukan sebagai panggilan demi pribadi. Panggilan dibagi-bagi. Sebagai orang terpanggil, selama 4 tahun masa formasio di SMSP, 1 tahun di TOR,2 tahun TOP, dan 6 tahun di STSP, saya disiapkan untuk tidak menikmati sendiri kenikmatan panggilan, melainkan mengikuti Kristus Penebus dengan semangat rela berkorban dan hati yang jernih (OT, no. 3). Panggilan pelayanan demi banyak orang, bahkan bukan hanya bagi umat Katolik. Imamat harus rela ‘dibagi-bagi’ dan ‘dinikmati’ oleh banyak orang –bukan eksklusivitas‒, demikian teladan Kristus, yang telah merelakan Tubuh dan Darah-Nya untuk dibagi-bagi agar yang lain memperoleh hidup (Yoh 6:35).

Alpokat memang nikmat, tapi panggilan tak senikmat alpokat. Panggilan, nikmatnya jauh melebihi nikmatnya alpokat.

Moto “Aku melayani dengan segala rendah hati (Kis 20:19)” mendobrak dan menguatkan saya untuk maju dan bergerak. Saya merasa digerakkan untuk menjadi pribadi pelayan yang rendah hati. Menjadi pelayan dan menjadi rendah hati bukan hanya sebuah keinginan tetapi milik. Kelemahan dan kerapuhan diri akan diperkuat oleh Dia yang memanggil dan dari rekan sepanggilan serta seluruh umat. Ada Tuhan dan saudara-saudaraku. Hari demi hari dapat dihitung bersama dan di dalam Tuhan dengan mengandalkan ketulusan hati [“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mzm 90:12)].

Pengalaman Pastoral yang menggemaskan

Pada tahun 2015-2016 saya berpastoral (kerasulan – weekend) di Paroki St. Yosef Tebing Tinggi – Sumatera Utara pada minggu genap dalam bulan. Ada pengalaman unik. Kala itu Jumat, 25 Desember 2015 pkl. 09.15 di Stasi Sei Baru.

Seorang pemazmur datang menjumpai saya dengan maksud berlatih mazmur “Marolop-olop ma angka langit, marsurak manang tano on, di adopan ni Tuhan i, ala nunga ro Ibana”. Dengan penuh semangat ia menyanyikan mazmur dan alleluia natal dengan “versi” dirinya sendiri. Kurang lebih selama 20 menit kami berlatih bersama pemazmur dan umat. Semua yang hadir bernyanyi dengan not yang tepat sesuai ketentuan dalam buku Mazmur Tanggapan dan Alleluia versi bahasa batak.

Ibadat mulai pkl. 10.00. Dengan penuh sukacita umat bernyanyi lagu pembuka dan hingga doa pembuka ibadat berjalan dengan khidmat. Saat bacaan I saya berdoa dalam hati ‘semoga mazmur dinyanyikan seperti latihan tadi, amin.’ Tibalah saatnya pemazmur mengumandangkan mazmur. Apa yang terjadi? “Back to nature”. Pemazmur menyanyikan mazmur “versi” dirinya dan umat pun dengan lantang menyanyikannya dengan “versi” masing-masing dan suasana tetap khidmat dan serius. Spontan saya tersenyum dalam hati, “Yesus mungil, inilah pujian yang tulus dan terbaik dari kami, umat-Mu. Semoga ini menjadi pujian yang indah bagi-Mu ya, meskipun tak seindah paduan para malaikat-Mu di surga. Engkau pun tahu itu, kami bukan malaikat.”

[1] Sebelum misa dimulai, ayah berkata kepada saya,”Coba nanti adek liat misdinar, suatu saat adek juga pasti jadi misdinar. Belajarlah untuk menjadi dari melihat dan mengamati.” Sekian lama menjadi misdinar, saya melihat imam dari dekat apa saja yang dilakukan imam. Saya teringat dengan perkataan ayah saya dan menempatkan diri saya demikian, “Lihatlah imam, kelak aku akan menjadi imam, bukan hanya berada di sekitar altar, melainkan dekat di belakang altar bahkan menyatu dengan altar.”

Leave a Reply


6 + 9 =