Misa Inkulturasi Menyambut BKSN 2019

September 3, 2019
Misa Inkulturasi Menyambut BKSN 2019

Menyambut Bulan Kitab Suci Nasional 2019 Paroki Santo Yoseph Palembang mengadakan Perayan Ekaristi dengan Inkulturasi, Sabtu 31 Agustus 2019 pukul 17.30 Wib dan Minggu 1 September 2019 pukul 08.30 Wib. RD. Avien memimpin Perayaan Ekaristi hari Sabtu didampingi oleh RD. Laurentius Rakidi dan RD. Markus sementara hari Minggu dipimpin oleh RD. Laurentius Rakidi.  Misa Inkulturasi ini sudah diprogramkan oleh Dewan Pastoral Paroki Santo Yoseph Palembang dan tahun 2019 ini mengusung Inkulturasi Jawa dengan tarian dan iringan gamelan dari Paroki Santo Stefanus Palembang yang menyemarakkan penampilan Paduan Suara Krisostomos.

Perayaan Ekaristi diawali dengan perarakan petugas liturgi dan Kitab Suci  diiringi tarian, ini menjadi tanda memasuki Bulan Kitab Suci Nasional 2019.  Tema BKSN 2019 yaitu : Mewartakan sukacita Injil di tengah krisis lingkungan hidup.  Dengan memasuki  Bulan Kitab Suci Nasional 2019 umat diajak untuk membuka hati dan budi secara serius untuk membaca, mendengarkan,  merenungkan dan menindaklanjuti Sabda Tuhan, supaya kehidupan sebagai orang beriman dan  orang yang percaya kepada Tuhan, semakin hari  semakin bisa menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Perayaan Ekaristi umat diajak juga untuk merendahkan diri, jika sungguh-sungguh mau ditinggikan oleh Allah, mau berkenan di hadapan Allah dan  juga mau sungguh-sungguh bisa memasuki kebahagian yang dijanjikan oleh Allah. Lewat Sabda Tuhan  menunjukkan kepada kita pentingnya kerendahan hati, kita diajak untuk merendahkan diri supaya mendapat rahmat dan karunia Allah.

RD. Avien mengajak umat untuk memberi perhatian yang sungguh dan serius pada Sabda Tuhan yang mengingatkan  bahwa kita sedang berada  dalam bahaya yang besar, pencobaan dunia yang bisa menghanyutkan kita sehngga mungkin akan tenggelam  dan terbelenggu oleh situasi berdosa serta jauh dari Tuhan. Bulan Kitab Suci Nasional  2019 mengajak kita untuk merenungkan kisah air bah, dimana pada waktu itu Nuh dan segelintir kelurganya diselamatkan dari hukuman air bah sebagai orang yang dibenarkan karena tetap setia kepada Tuhan dan ikut serta ambil bagian dalam menyelamatkan lingkungan hidup.

Kita sebagai anggota Gereja dipakai sebagai sarana untuk menyelamatkan dunia ini lewat peran serta kita melestarikan  lingkungan dan sekitar supaya semakin dikurangi krisis lingkungan hidup ini dan kemudian semuanya bisa dipulihkan.  Selama Bulan Kitab Suci Nasional kita  nanti bisa mengambil  langkah konkrit  walaupun dengan cara yang sederhana untuk menyelamatkan lingkungan hidup, misalnya :  dengan menanan pohon.  Ada 1 pohon yang harus memberi oksigen bagi 16 ribu orang  dan Ini bukti bahwa krisis lingkungan hidup sudah semakin parah, kita semua sebagai anggota Gereja bersama bahtera gereja dipakai oleh Allah sebagai sarana untuk menyelamatkan dunia ini.

Sementara itu dalam homilinya  RD. Laurentius Rakidi mengatakan mengarak Kitab Suci dengan tarian dimaksudkan supaya menjadi kenangan bagi kita supaya  menggugah hati  akan pentingnya Kitab Suci bagi kehidupan orang beriman. Kitab Suci berisi Sabda Allah, maka orang yang beriman kepada Allah mau tidak mau harus memahami  isi Kitab Suci dan berusaha untuk  hidup sesuai dengan yang disabdakan dan diperintahkan oleh Allah melalui Kitab Suci tersebut.

Dengan Bulan Kitab  Suci ini kita diajak untuk menyadari pentingnya Kitab Suci  sebagai orang Katolik, maka kita tingkatkan kerajinan membaca Kitab Suci, mendengarkan, merenungkan Kitab Suci untuk membahas bersama Kitab Suci melalui pertemuan-pertemuan Linkungan ataupun melalui aneka kegiatan lain yang ditawarkan oleh Gereja dalam rangka untuk semakin memahami Kitab Suci supaya hidup kita semakin selaras dengan apa yang disabdakan oleh Tuhan melalui Kitab Suci tersebut.  

Kita sebagai orang Katolik diajak untuk hadir  di tengah-tengah kehidupan ini untuk mewartakan kabar yang baik, jangan mewartakan kabar-kabar yang hoaks,  tidak benar yang bisa merusak relasi diantara umat manusia. Kita harus mewartakan kabar yang baik dmanapun berada.  Mari kita tumbuh kembangkan sikap rendah hati dalam diri kita masing-masing supaya dengan bersikap rendah hati, akhirnya tercipta keharmonisan dalam relasi dengan sesama dan juga dengan lingkungan hidup yang ada di sekitar kita Kita semua sebagai ciptaan Tuhan bisa bertumbuh dan berkembang dalam kebersamaan saling menguntungkan, mendukung satu sama lain dan akhirnya tercipta kesejahteraan bersama yang akhirnya bisa  mengantar kita kepada kemuliaan yang dijanjikan oleh Allah.

Semaraknya Misa Inkulturasi Jawa di Gereja Santo Yoseph juga terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh petugas Tata Laksana dan Koor Paduan Suara Krisostomos yang wanita mengenakan kain kebaya dan prianya berpakaian adat Jawa serta nyanyian yang diiringi gamelan dari Paguyuban Gamelan Paroki Santo Stefanus Palembang. Tarian persembahan juga mengawali langkah petugas  pembawa persembahaan hingga ke depan Altar dan menyerahkan persembahan kepada RD. Avien dan RD. Laurentius Rakidi.

Leave a Reply


5 + 1 =