Paguyuban Kamis Pertama (PKP) kembali mengadakan pertemuan setelah sempat vakum akibat covid 19, kegiatan perdana ini diadakan oleh Gerakan Imam Maria (GIM) Santo Yoseph Palembang di rumah Ko Mei Lien, Kamis 5 Desember tahun 2024 pukul 18.00 Wib yang diawali dengan Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Hyginus Gono Pratowo.
Hari Hartanto salah satu anggota Paguyuban Kamis Pertama menceritakan secara singkat tentang Paguyuban ini, kalau riwayatnya saya sendiri mungkin tidak menyadari kapan ini dimulai, namun setelah wafatnya Pak Ajung pada masa-masa Covid pada waktu itu, tetapi beliau bukan karena Covid, maka agak terhenti dan selama masa Covid itu berhenti dan kemudian dilanjutkan di rumahnya Pak Yohanes Winata tetapi tidak berapa lama dan Romo Boni juga meninggalkan kita sehingga tidak berkumpul lagi.
Nah atas ide pada waktu itu bersama beberapa teman GIM (Gerakan Imam Maria), supaya dilakukan dan kebetulan ada tempat ini dan berterima kasih juga kita kepada Erik yang sudah merehab ruangan ini. Kebetulan kita berada di lantai dua pada waktu setelah Yesus wafat Ibu Maria berkumpul di lantai dua, GIM itu munculnya Doa Senegal dan itu dilanjutkan oleh GIM maka kita bersyukur bahwa saat ini kita dapat berada di lantai dua.
Memang untuk pertemuan Komunitas Kamis Pertama ini dapat melanjutkan upaya-upaya baik yang sudah didahului oleh semua pendahulu kita, pada waktu itu ada Romo Boni, kemudian pada waktu itu juga pernah diinisiasi oleh Romo Vikjen, tak lupa jasa dari Pak Ajung yang membentuk perkumpulan ini, kita bersyukur bisa melanjutkan. Mungkin Ibu Lili sebagai sponsor bisa menambah kegiatan dari GIM ini, dengan kesempatan berdoa di lantai dua dan Doa Senakel yang biasa dilakukan, berkumpul di setiap Kamis Pertama dengan Ekaristi dan Adorasi. Kita dari berbagai komunitas bisa berkumpul di sini dan mudah-mudahan ini berlanjut terus, berumur panjang, ini sesuai dengan arah dasar Keuskupan Agung Palembang karena memang ada komunitas-komunitas kecil yang tumbuh di Lingkungan dan umat yang menyuarakan suara Tuhan untuk iman kita.
Sementara itu dalam homilinya Romo Gono mengajak anggota Paguyuban Kamis Pertama untuk bersyukur. Kita bersyukur masih diberikan kesempatan hidup, kesempatan hidup itu luar biasa, Anda boleh bangun dalam keadaan sehat dan bersyukur bahwa Anda masih diberikan waktu oleh Tuhan untuk berkumpul. Banyak orang tidak bisa berkumpul karena dengan berbagai alasan, ada yang sibuk, ada yang katanya tidak punya waktu, dan lain-lain.
Maka hal minimal yang perlu kita syukuri adalah kehidupan kita, tetapi rasa syukur itu juga harus terungkap dengan hal-hal yang baik yang bisa kita lakukan dalam kehidupan kita. Menjadi orang yang beriman tidak cukup percaya, tidak cukup hanya dibaptis dan tidak cukup mengatakan saya Katolik. Tapi tanpa perbuatan adalah mati artinya kita tidak bisa melakukan sesuatu dan tidak ada efek. Maka iman itu harus berefek baik dan ajaran iman, pewartaan iman akan Kristus juga harus berdaya penuh dalam kehidupan kita. Maka iman tanpa perbuatan adalah mati.
Yesus mengatakan bahwa orang yang bijaksana itu adalah orang yang seperti lima gadis yang membawa pelita dan minyak. Sedangkan yang tidak bijaksana, dia hanya membawa pelita tetapi tidak membawa minyak, pada suatu ketika, minyak habis dan mati padam.Harapannya, iman kita itu tidak lekas padam, harus tetap bernyala, tetapi kita juga punya minyak. Saya merasa bahagia dan optimis ketika Anda memulai dengan doa, segala sesuatu itu diawali dengan doa, maka akan mendapatkan buah yang baik.
Ketika satu dua orang berkumpul atas nama Tuhan, disitulah Tuhan hadir. Maka kalau kelompok Kamisan ini sudah vakum sejak COVID-19 dan hari ini perdana. Kelompok/paguyuban/komunitas akan kuat bersama dengan Bapak dan Ibu dalam Kamis yang pertama juga akan menyala. Api yang menyala awalnya mungkin berubah, karena kita masih memulai. Tetapi ketika kita satu dengan yang lain sehati dan sejiwa di dalam kehidupan kita, sehati dan sejiwa berjalan bersama dengan Allah, yang mungkin dulu kita mulai redup, kalau semuanya kita hidupkan kembali maka akan menjadi kuat. Dan itulah yang sungguh kita harapkan dalam kehidupan kita, dari hal-hal yang kecil, kita akan jadi hal yang besar. Tidak ada sesuatu yang besar, tanpa ada sesuatu yang kecil.
Semuanya dimulai dari hal yang kecil dan sesuatu itu berharga, maka tindakan-tindakan kita walaupun kecil itu sangat berharga. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan. Mungkin sebulan sekali kita bisa berkumpul, meluangkan waktu satu jam bersama dengan Tuhan dan saudara-saudari. Walaupun hanya sebentar, tetapi itu adalah hal yang berharga. Berjumpa dengan Allah, berjumpa dengan sesama, berjumpa dengan orang-orang kudus dalam Ekaristi yang kita rayakan, itu akan berdaya guna dalam kehidupan kita.
Mari kita nyalakan api yang membawa sukacita, api yang membawa ketenangan, api yang membawa keselamatan, api yang membawa semangat dalam kehidupan kita. Bukan api bertentangan, bukan api perang, bukan api memperburuk situasi, tetapi api yang mendamaikan, semangat yang mendamaikan. Orang yang beriman itu, adalah orang yang tidak akan pernah menyakiti sesamanya, dia akan berhati-hati dalam menggunakan tutur katanya, dia akan selalu belajar dari sabda Allah dan meresapkan sabda Allah serta melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Orang yang beriman ketika dia berbicara, kata-katanya itu adalah menyejukkan, kata-katanya itu adalah kata-kata yang membawa kedamaian. Semoga hidup kita dipakai oleh Allah untuk menjadi pewarta-pewarta yang membawa dama sukacita dalam kehidupan.
Seusai Perayaan Ekaristis dilakukan pemberkatan ruang doa di rumah Ko Mei Lien yang bisa dipakai oleh Paguyuban Kamis Pertama untuk berkumpul bersama, Romo Gono juga memberkati benda-benda rohani dan gambar-gambar orang kudus yang ada di ruang doa. Acara dilanjutkan dengan Adorasi Sakarmen Mahakudus serta ditutup dengan ramah tamah bersama.






