PALEMBANG – Setelah meninggalkan kota Palembang pada tahun 1998, Romo Paulus Yohanes Krisostomus, CSE bersama keluarga napak tilas kembali mengenang kehidupan masa kecilnya. Romo Paulus memiliki nama panggilan kecil, yaitu : David, lahir di Palembang 29 Desember 1987, putera dari pasangan Hariyanto Wijaya dan Nurlaila Jakub, ditahbiskan menjadi Imam di Cikanyere, Bogor, tanggal 9 Juni 2026. Saat kembali ke Palembang Romo Paulus mendapat kesempatan untuk memimpin Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Yoseph Palembang, Selasa 14 Juli 2026 pukul 17.30 Wib bersama para Imam Dekanat Palembang.
Romo Paulus dalam sambutannya menceritakan perjalanan hidupnya hingga menjadi Imam. Biasanya misa perdana di Paroki asal saya sekarang, menurut hukum Gereja di Batam, jadi sebetulnya nanti tanggal 19 Juli yang akan datang. Tapi saya tidak tahu apa maksud dari Roh Kudus untuk menginspirasi kami sekeluarga untuk nostalgia ke Palembang, semacam napak tilas beberapa hari karena memang jadwal Misa di Batam masih cukup lama dan ini merupakan karya Tuhan yang luar biasa. Saya berterima kasih banyak kepada Bapa Uskup Mgr. Aloysius Sudarso yang betul-betul mendukung saya dan keluarga. Saya sangat kaget tidak menyangka akan diadakan Misa di Paroki Santo Yoseph ini dengan begitu banyak Imam, dengan liturgi yang luar biasa dan juga saudara-saudari semuanya.
Saya lahir di Palembang dan dibaptis di Santo Yoseph sampai komuni pertama. Namun sayangnya tahun 98 karena kerusuhan keluarga kami mengungsi ke Batam dan sejak saat itu saya banyak pindah-pindah tempat. Dan jujur kalau tiap kali saya pulang ke Batam saya bingung saya harus cari siapa. Bahkan mungkin saya takut tidak diterima lagi di Palembang dan sekarang saya kembali ke sini sungguh bersyukur karena ternyata umat begitu mencintai saya dan merasa kembali ke kampung halaman. Saya sebetulnya tidak ada cita-cita menjadi seorang imam sejak kecil. Cita-cita saya carilah sekolah yang bagus, belajar yang bagus, supaya dapat nilai bagus, dapat pekerjaan bagus, bisa dapat gaji yang bagus, bisa beli rumah yang bagus, istri yang cantik dan lain-lain seperti itulah, pokoknya kebanyakan cita-cita tipikal saja seorang pemuda.
Saya tidak tahu panggilan itu memang misteri “ Bukan kamu yang memilih aku, tapi aku yang memilih kamu. “ Semuanya inisiatif dari Tuhan, maka saya merasakan panggilan itu betul tiba-tiba, ketika usia saya 27 tahun sudah bekerja sedang mau melanjutkan karir saya. Tuhan bersabda lewat seorang imam. Kapan engkau akan memberikan dirimu kepada aku? Apa lagi yang engkau tunggu? Terdengar mungkin sederhana sabda itu disampaikan dalam bahasa Inggris. Tapi bagi saya yang saat itu berulang tahun ke 27, sabda itu benar-benar menusuk hati saya. Kata kitab suci, sabda Tuhan itu hidup ” The word of God is alive and active.” Dia bukan hanya mendeskripsikan sesuatu, tetapi dia mengubah realitas, maka sabda Allah itu sungguh-sungguh penuh kuasa asal kita mau mendengarnya.
Jadi ketika sabda itu katakan, yang saya dengar, terjadi sesuatu perubahan dalam hati saya, seolah-olah apa yang tadinya menurut saya itu penting sekali, tiba-tiba dalam sekejap rasanya seperti tidak terlalu penting lagi. Rasanya seperti, saya menyadari bahwa hal itu tidak akan membawa kebahagiaan yang sesungguhnya untuk saya. Dan sesungguhnya kita semua itu baru akan sungguh-sungguh bahagia ketika kita melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi kita dan bukan bagi orang lain. Saat itulah saya mulai proses pencarian dan proses pencarian itu membawa saya pada pilihan jalan hidup ini. Saya bergabung dalam kongregasi CSE. Karena mungkin ketika kuliah di Bandung dan kerja di Jakarta. Saya ikut Komunitas Tri Tunggal Maha Kudus, saudara kecil dari Kongregasi CSE inilah yang saya kenal. Begitulah Tuhan selalu menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh, asalkan kita memang mau membuka hati, membuka telinga untuk mendengarkan tuntunannya dan terkadang tuntunan itu hanya diberikan sepotong-sepotong.
Mengapa engkau memilih untuk menjadi seorang imam ? Tidak ada jawaban yang sifatnya satu kalimat. Pasti karena ada rangkaian peristiwa, rangkaian tanda dan kalau saya katakan penyelenggaraan ilahi. Yang kita alami hari demi hari. Lalu pada akhirnya membawa kita pada suatu kesadaran dan keputusan. Karena semuanya adalah proses dari pencarian dan dialog dengan Tuhan yang terus menerus. Saya bisa setia sampai menjadi seorang imam baru sekarang. Itu bukan karena kekuatan saya. Tapi itu karena rahmat Tuhan dan dukungan dari doa-doa yang tidak kunjung putus dari umat Allah yang mengasihi kami. Ketika saya menyadari begitu banyak umat yang mendoakan saya, terus terang saya merasa malu sekali. Umat begitu banyak mendoakan saya yang dipanggil menjadi Imam, maka saya hanya bisa persembahkan pada Tuhan. Siapapun yang mendoakan saya, tolong berkati mereka. Jadi saudara saudari akan selalu saya ingat dalam doa-doa terutama dalam Ekaristi karena berkat doa-doa saudara saudarilah saya bisa ada sampai saat ini.
Sementara itu Mgr. Emeritus Aloysius Sudarso, SCJ menyampaikan, yang perlu kita ketahui Romo Paulus memasuki suatu Kongregasi Kontemplatif artinya banyak bergaul dengan Tuhan, merenungkan hidupnya sehari-hari dan membawa dalam doa-doanya ke altar semua penderitaan manusia, keprihatinan Gereja dan orang-orang miskin. Tetapi harian yang mereka tempuh adalah bergaul dengan Tuhan dalam doa-doa, sudah kontemplasi, merenungkan kedekatan Tuhan dalam hidup untuk Gereja dan manusia. Ini sangat dibutuhkan oleh Gereja, hidup kontemplatif karena kita manusia pada manusia zaman modern ini semakin sulit menemukan keheningan. Kongregasi CSE ini memberi perhatian pada keheningan dengan maksud untuk bertemu dengan Tuhan dan kita hanya bisa bertemu dengan Tuhan dalam keheningan. Maka Kongregasi ini mengharapkan bahwa dalam kesibukan kita di Gereja dan dalam masyarakat, tetap dapat menemukan Tuhan dalam hidup ini, karena itulah jaminan untuk hidup kita semua.
Saya memang kenal dengan Romo Paulus ini sejak dia masih kecil, masih SD, saya ketemu mulai dengan Bapaknya di SMP tahun 1973. Dia agak nakal, pernah mengembosi motor saya, tapi waktu SMP dia belum dibaptis. Baru setelah berkeluarga, ketemu dengan Maria Alan, mungkin sudah ada anak pertama dan kedua, baru dia dibaptis. Akhirnya kami berterima kasih bahwa keluarga mereka memberikan seorang anak yang menjadi seorang imam dari Biara Kontemplatif selalu akan mendoakan kita, permasalahan kecemasan manusia dalam doanya di altar. Tapi juga memberikan retret dan masukan kepada orang-orang yang mau datang kepada mereka.
Yang menarik juga bahwa dia sesudah selesai di ITB, sekolah di Bandung, kmudian datang dengan Bapaknya dan mengatakan bahwa berminat untuk masuk menjadi Imam Kontempatif. Saya terkejut karena yang saya harapkan bukan dia dulu tapi adiknya, tapi dialah yang akhirnya dipanggil Tuhan. Oleh karena itu pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk keluarga, teman dan dokter dari Batam. Romo Paulus ini sebetulnya lahir dari Paroki Santo Yoseph Palembang sudah berkenan untuk mempersembahkan Misa Perdana, suatu kebahagiaan bahwa di Paroki ini pernah ada seorang anak kecil yang merasa dipanggil Tuhan untuk menjadi imam dan menjadi pendoa, seekali lagi saya ucapkan selamat.
Marilah kita juga menyadari bahwa kita sebagai Gereja, sebagai masyarakat modern sekarang ini membutuhkan keheningan supaya kita bisa bertemu dengan Tuhan yang membimbing dan mengarahkan kita dalam hidup. Jangan kita jatuh dalam kesibukan dan melupakan Tuhan, kita menghargai anugerah-anugerah dan berkat yang diberikan Tuhan untuk kita sampai kepada Tuhan dalam hidup ini. Oleh karena itu kehadiran Romo Paulus juga menarik keluarga-keluarga terutama orang-orang muda walaupun anda belajar tetapi dengarkan Tuhan memanggilmu untuk melanjutkan pelayanannya.






