Masa Adven, Persiapan Menyambut Kelahiran Yesus Kristus

December 2, 2024
Masa Adven, Persiapan Menyambut Kelahiran Yesus Kristus

Masa Adven merupakan masa persiapan Natal umat Katolik untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus yang dimulai Sabtu-Minggu, 30 November-1 Desember 2024 dan tema Natal tahun 2024, yaitu : “Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem …. (Lukas 2 : 15).”

Selama empat (4) minggu masa Adven akan berlangsung yang memiliki maknanya sebagai berikut : Minggu Adven pertama melambangkan pertobatan dan harapan, umat diajak untuk menantikan Yesus Kristus dengan penuh harapan dan sukacita. Minggu Adven kedua melambangkan kesetiaan dan cinta yang mengingatkan kita untuk tetap setia mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Minggu Adven ketiga memiliki arti sukacita untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus dan Minggu Adven keempat (Gaudete) melambangkan perdamaian.

Perayaan Minggu Adven pertama di Paroki Santo Yoseph, Sabtu 30 November 2024 pukul 17.30 Wib dipimpin oleh RD. Dionisius Anton Liberto dan dalam kesempatan ini Romo Liberto memberkati Lingkaran Adven serta menyalakan Lilin Adven pertama yang berwarna ungu sebagai tanda dimulainya Masa Adven. Ada empat lilin yang digunakan pada masa Adven, yaitu tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna pink (merah muda).

Pada minggu Adven pertama dinyalakan lilin warna ungu disebut dengan Lilin Nabi yang mengingatkan bahwa para nabi mewartakan kedatangan Yesus sebagai Mesias. Minggu Adven kedua, lilin yang  dinyalakan berwarna ungu disebut Lilin Betlehem yang berarti Yesus Kristus Sang Juru Selamat lahir dalam hati kita. Minggu Adven ketiga yang dinyalakan lilin berwarna pink (merah muda) disebut Lilin Gembala karena kabar sukacita kelahiran Yesus pertama kali diberitahukan kepada orang-orang rendah hati dan tulus. Minggu Adven keempat dinyalakan lilin berwarna ungu disebut dengan Lilin Malaikat yang melambangkan, kebahagiaan dan sukacita menyambut kedatangan Yesus Kristus Sang Juru Selamat.

Dalam homilinya Romo Liberto membacakan Surat Gembala Bapa Uskup, Mgr. Yohanes Harun Yuwono terkait memasuki tahun Ardas yang akan kita jalani di Keuskupan Agung Palembang.  Tahun arah dasar (Ardas) yang baru di Keuskupan kita yaitu : Komunitas Basis Gerejawi, Cara Baru Hidup Menggereja. “Sabda Kristus : Kamulah terang dunia, kamulah garam dunia, hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” Sabda Kristus ini dicantumkan dalam visi Gereja keuskupan Agung Palembang menurut amanat Sinode ketiga tahun 2021.

Umat Katolik Keuskupan Agung Palembang sebagai saudara dan saudari Kristus sang jalan kebenaran dan kehidupan adalah terang dunia, garam masyarakat, serta sakramen keselamatan bagi semua orang. Dalam visi tersebut tercantum predikat kita terang dan garam dunia,  terang dan garam dunia sesungguhnya adalah predikat Kristus sendiri namun predikat itu oleh Kristus sendiri disematkan juga kepada kita. Ideal predikat kemuridan kita semua orang beriman, berkat rahmat pembatisan di anugerahi martabat yang luhur sebagai putra dan atau putri Allah. 

Martabat luhur tersebut mengandung tugas panggilan untuk ambil bagian dalam tugas Yesus sebagai Imam, Nabi, dan Raja, dengan kata lain semua orang beriman segera setelah dia dipermandikan dirinya adalah seorang Rasul Tuhan konsekuensinya semua orang beriman melalui cara hidup dan keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan gereja dan kegiatan-kegiatan bermasyarakat sehari-hari.  Konsekuensinya harus memancarkan kasih Allah sebagai tanda  memanggil semua orang untuk menjalani hidup dan karyanya dengan baik dan benar sesuai dengan kehendak Allah. Panggilan keterlibatan itu melekat dan bersifat mutlak bukan kalau senang atau kalau ada waktu sebab Kristus tidak menembus kita dengan setengah hati atau setengah-setengah.

Setiap orang Kristen harus mewartakan Kristus dengan semangat kepada semua orang. Idealnya setiap orang Kristen adalah orang yang militan dalam beriman Yesus dan kitab suci menjadi dasar dan orientasi hidupnya baik ketika dia berada di lingkungan Gereja, maupun ketika berada di lingkungan masyarakatnya pun kalau mayoritas masyarakatnya bukanlah orang Kristen. Orang Kristen harus berani dan bangga mengakui diri sebagai orang Kristen serta bangga berperilaku sebagai orang Kristen

Pentingnya membentuk Komunitas Basis Gerejawi (KBG) atau Komunitas Umat Basis (KUB) adalah paguyuban kaum beriman dalam skala kecil. Paguyuban dengan skala kecil itu akan sangat bermanfaat bagi umat pada tataran sosial dan ekonomi KBG, membuat umat satu sama lain saling mengenal, hidup rukun, kompak, tidak ada orang yang menjadi asing bagi yang lain, tidak ada yang tersembunyi dan melupakan tanggung jawabnya, bisa merasa sehati seperasaan, peduli senasib sepenanggungan dan saling tolong menolong. 

Sedangkan pada tataran rohani (moral) atau spiritual KBG dapat mendorong umat mengadakan doa secara bersama dengan rutin, melakukan sharing injil dan sharing iman, saling menjaga dan meneguhkan dan bersama saling mengingatkan untuk hidup benar adil dan jujur sebagai saksi-saksi Kristus. Maka dua dimensi tadi tidak bisa dipisahkan, kedua dimensi tersebut harus seiring sejalan sehingga umat Allah sungguh-sungguh bisa menjadi garam dan terang dunia.

Apa dasar Biblis KBG? Dasar Biblis KBG adalah Kisah Para Rasul ayat 32-37 “ Ada pun kumpulan orang yang telah percaya itu menjadi sehati sejiwa dan tidak seorang pun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama, sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan diantara mereka “ itu dasar Biblisnya. Situasi sangat ideal itu bagaimana orang sering menjadi menakutkan, bagaimana mungkin segala sesuatu menjadi kepunyaan bersama. Apakah KBG itu akan membentuk “biara besar” ini yang mencakup semua orang beriman, apakah KBG kemudian dipahami sebagai komunitas sosialis yang berprinsip sama rata, sama rasa.

Dalam kenyataan sebenarnya tidak perlu dipahami secara lurus seperti itu, kita tahu bahwa para rasul selalu berkeliling dan memecahkan roti dari rumah ke rumah, sementara kaum beriman memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama. Kisah Para Rasul bab 2 ayat 46 berarti bahwa setiap umat beriman masih memiliki rumahnya masing-masing, masing-masing keluarga masih juga mempunyai hartanya sendiri, yang dapat digunakan untuk kepentingan keluarganya dan untuk melakukan kegiatan sosial, namun karena saling mengenal.

Semua yang berlebih rela berbagi dengan yang berkekurangan dan yang berkekurangan pasti bukan karena malas, tidak perlu merasa sungkan dan khawatir akan terlantar karena ada saudara seiman yang siap membantu dan memperhatikan. Persaudaraan dan kesetiakawanan dalam komunitas Jemaat Perdana tersebut sungguh-sungguh nyata sehingga Santo Lukas membahasakannya dengan kata-kata “ Mereka tidak ada yang berkekurangan, membentuk komunitas basis untuk menjadi saksi idealisme.”

KBBG adalah semangat kebersamaan dan kesetiakawanan, sehati seperasaan yang saling meneguhkan, seperti para murid dalam Gereja perdana. Semangat tersebut pastilah kurang bisa dicapai jika setiap lingkungan anggotanya terlalu banyak, Lingkungan yang besar akan membuat sebagian anggotanya bersembunyi (tidak aktif). Dalam persembunyian dan sikap pasif orang bisa tidak dikenal atau tidak mengenal orang lain, menjadi lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang beriman, tidak peduli, egois dan bahkan diam-diam hilang dari persekutuan.

Cara hidup baru menggerja tidak hanya berlaku pada tataran jemaat di lingkungan, melainkan juga pada kelompok-kelompok kategorial dan devosan. Spirit sehati, sejiwa dan senasib sepenanggungan adalah roh komunitas dengan terang injil dan pengalaman hidup beriman, merupakan pusat kegiatan pertemuan dan doa. Sangat baik jika setiap Paroki, merancang dan memprogramkan kegiatan-kegiatan bagi keempat prioritas subyek pastoral, yaitu : anak-anak dan remaja, kaum muda, keluarga dan KBG, secara sistematis dan berkesinambungan. Sebaiknya besaran anggaran Paroki untuk pembinaan iman, lebih besar daripada anggaran untuk seremonial dan pembinaan-pembinaan anak-anak harus mengambil porsi yang lebih banyak dari yang lain.

Metode katekese untuk Katekumen sebaiknya dipadukan dengan metode pendalaman iman komunitas basis, bukan hanya metode tradisional pengajaran satu arah, melainkan interaksi dua arah. Pada perayaan ulang tahun kelompok Kategorial, Stasi atau Paroki hendaknya dimunculkan suatu kegiatan bagi orang muda dan dewasa yang bersifat misioner, keluar lingkup Gereja, misalnya : rajin terjun ke masyarakat atau yang melibatkan masyarakat yang bukan anggota Gereja sehingga ada kesaksian dari Gereja kepada masyarakat.

Paling penting dalam kegiatan-kegiatan ini dikemas untuk tidak eksklusif jika Gereja tidak bisa membuat kegiatan yang melibatkan masyarakat umum, berarti : Gereja masih sangat tertutup, masih eksklusif, masih sibuk dengan diri sendiri. Ini berarti juga Gereja tidak akan bisa bersaksi atau takut bersaksi, maka Gereja belum merasa “ percaya diri” dan masih asing akan keberadaan dirinya di tengah masyarakat.

Jika memungkinkan dalam seluruh kegiatan Gereja dibuka dan terbuka diikuti pihak luar Gereja, baik kegiatan keimanan maupun kegiatan sekuler.  Orang-orang yang ikut kegiatan tersebut bisa diminta untuk mengajak kawan atau tetangganya yang tidak Katolik untuk ikut terlibat juga, ini salah satu cara memberi kesaksian kepada orang yang bukan Katolik.

Tujuan berKBG, yakni cara menggereja secara baru, bukan hanya agar orang Katolik aktif dalam kegiatan internal Gereja tetapi juga aktif menjadi anggota atau bagian masyarakat dalam menerangi dan menggaraminya. Menjadi garam dan terang hanya mungkin terjadi jika kita bergaul, berkegiatan bersama-sama dengan masyarakat yang non-Katolik.

Amanat agung Kristus kepada kita adalah “Pergilah ke seluruh dunia beritakanlah injil kepada segala makhluk, Tuhan menaruh kepercayaan besar kepada kita dan kita diberi tanggung jawab untuk ambil bagian dan melanjutkan karya Kristus.” Semoga kita dapat melaksanakan tugas kita itu dengan baik dan menghasilkan buah berlimpah.

Leave a Reply


5 + 3 =