Masa Prapaskah, Semakin Baik Dalam Kehidupan, Relasi Dengan Tuhan Dan Sesama

March 5, 2025
Masa Prapaskah, Semakin Baik Dalam Kehidupan, Relasi Dengan Tuhan Dan Sesama

Umat Katolik memasuki masa Prapaskah ditandai dengan penerimaan  abu di dahi sebagai pertobatan dalam Perayaan Rabu Abu, 5 Maret 2025. Perayaan Rabu Abu di Gereja Santo Yoseph Palembang diadakan sebanyak 3 kali, yaitu : pukul 06.00, 12.00 dan 17.30 Wib, Uskup Agung Palembang Yohanes Harun Yuwono memimpin pada  pukul 06.00 Wib didampingi oleh RD. Hyginus Gono Pratowo.

Dalam homilinya Mgr. Yuwono mengatakan setiap suku bangsa, dari bangsa apapun di seluruh dunia, mempunyai cara untuk berpantang dan berpuasa,  baik yang harus dilakukan secara publik bersama-sama,  maupun yang harus dilakukan secara pribadi, secara privat. Tujuan dari setiap puasa dari bangsa apapun adalah agar kemanusiaan kita terungkapkan, dalam arti kita sebagai manusia yang rohani maupun jasmani,  semakin baik dalam kehidupannya, dalam relasinya dengan yang Maha Kuasa maupun dengan sesama. Hidup menjadi benar, adil, jujur, menjadi rendah hati, tidak lagi sombong, tidak memperlakukan orang lain sesukanya,  tetapi memperlakukan orang lain semartabat/sederajat, dengan itu maka tidak lagi membeda-bedakan orang,  melainkan mengasihinya dengan kasih yang tulus ikhlas,  tanpa pamrih dan tanpa pilih kasih.  

Karena ada aturan yang publik dan privat,  hal yang sama diadakan dalam Gereja Katolik.  Barangkali puasa kita lebih sederhana kalau dibandingkan dengan puasa yang dilakukan oleh bangsa apapun atau agama apapun,  juga secara publik maupun secara privat. Tapi tujuan puasa yang kita buat,  kalaupun itu sederhana dan lebih dalam adalah agar kita tetap sehat, tanpa mengurangi kemampuan kita untuk melakukan kebaikan.  Kita boleh tetap makan dan minum, jangan kita menjadi lemah dan sakit,  lalu tidak mampu melakukan kebaikan, kalau itu terjadi, tujuan puasa menjadi gagal.

Ketentuan berpuasa  secara publik maupun secara privat dalam Gereja Katolik,  yang pertama adalah puasa dalam arti yuridis secara hukum Gerejawi, berarti boleh makan kenyang satu kali dalam sehari. Sedangkan pantang berarti tidak mengkonsumsi makanan, minuman  atau melakukan hobi kesenangan tertentu/hal-hal lain yang hendaknya dipilih sendiri oleh si pelaku. Yang kedua, setiap hari Jumat adalah hari pantang,  kecuali jika hari itu kebetulan jatuh hari yang terhitung sebagai hari raya.  Dalam masa Prapaskah, hari puasa dan pantang adalah hari Rabu Abu dan hari Jumat Agung, sedangkan hari pantang adalah hari Rabu dan hari Jumat sepanjang masa Prapaskah. 

Yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang sehat,  berumur antara 18 sampai dengan 60 tahun.  Sedangkan yang wajib pantang adalah semua orang Katolik yang sehat,  berumur antara 14 sampai 60 tahun.  Selama masa Prapaskah, semua umat beriman hendaknya diajak untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan kerohanian  dan kegiatan aksi puasa pembangunan, baik yang bersifat lokal maupun nasional.  Puasa kita hanya hari Rabu Abu dan hari Jumat Agung dan boleh makan satu kali kenyang dalam sehari. Pantang kita hari ini dan semua hari Jumat sepanjang masa Prapaskah  boleh memilih secara pribadi mau berpantang apa.  Entah tidak melakukan hobi, entah tidak mengkonsumsi makanan minuman tertentu.  

Sekali lagi bukan aturannya itu yang membuat kita harus berpuasa dan berpantang, melainkan dalam puasa dan pantang,  tanpa mengurangi kesempatan dan kemungkinan untuk berbuat baik,  kita harus tetap sehat.  Jangan karena puasa lalu kita menjadi tidak bisa berbuat apa-apa, puasa adalah olah kesalahan.  Maka juga dianjurkan untuk memperbanyak kegiatan rohani,  baik doa maupun pendalaman iman,  baik di Lingkungan,  kelompok maupun di Gereja.  Kita berada pada tahun Komunitas Basis Gerejawi, dalam tahun ini kita menginginkan bersama dengan orang lain berziarah,  menjadi rekan perjalanan yang menyenangkan,  bukan yang menggelisahkan atau harus dihindari.

Kita menjadikan diri kita bagian tak terpisahkan dari orang lain  dan orang lain bagian tak terpisahkan dari diri kita dan melaksanakan aktivitas dalam Komunitas Basis Gerejawi, marilah kita melihat ke dalam kebersamaan kita. Sebagai murid-murid Yesus,  apakah kita mempunyai semangat bermisi,  yakni menghidupi Injil dengan sukacita atau hidup kita jauh dari keutamaan-keutamaan Injil.  Jika kita menghidupi ajaran Yesus dengan benar,  kita sudah melakukan karya misi.  Karya misi adalah kesaksian hidup kita sebagai murid-murid Yesus.  Maka bermisi adalah hidup benar, adil dan jujur  dalam kehidupan sehari-hari  dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. 

Maka puasa berarti meneguhkan hati  untuk berperilaku penuh kasih dan empati, solider dan setia kawan,  senasib sepenanggungan,  saling bergandengan tangan dalam kehidupan,  bahu-membahu dan berbela rasa dengan orang lain.  Marilah kita terus-menerus mengamalkan nilai-nilai luhur iman dan kemanusiaan kita,  saling memberi keteladanan hidup benar, adil, dan jujur  sesuai dengan semangat Tuhan sendiri  yang rela untuk menyerahkan hidupnya bagi keselamatan kita. 

Sementara itu Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang, RD. Hyginus Gono Pratowo  dalam pesannya mengingatkan pada  Rabu Abu, kita semua menerima Abu sebagai tanda bahwa kita adalah manusia yang berdosa dan manusia yang terbatas.  Kita semua manusia berasal dari abu dan pada akhirnya kembali kepada abu yang melambangkan kelemahan dalam diri kita manusia.  Maka pada masa yang penuh rahmat ini,  masa Prapaskah  kita diajak untuk sungguh menggunakan  masa pertobatan ini dengan sebaik-baiknya. 

Pada masa Prapaskah ini kita juga diajak untuk introspeksi diri, bahwa kita adalah pribadi yang juga harus menyadari bahwa kita lemah dan harus membenahi, ini adalah cara untuk olah kesalahan dan cara bagaimana kita semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Kita juga diajak untuk solider terhadap sesama, banyak saudara-saudari yang masih membutuhkan sapaan kita, maka lewat masa Prapaskah ini, mari kita memberikan perhatian yang sungguh/lebih untuk saudara-saudari kita. 

Leave a Reply


1 + 1 =