RUANG KATEKESE

March 10, 2025
RUANG KATEKESE

Surat Gembala Pra-Paskah 2025. Uskup Agung Palembang.
Tema : PUASA DAN KOMUNITAS BASIS GEREJAWI

Saudara-saudari terkasih.
Umat Katolik Keuskupan Agung Palembang yang terberkati. Kita mengawali masa puasa dengan penerimaan abu sebagai tanda pertobatan. Kita diingatkan bahwa kita ini berasal dari debu tanah dan akan kembali kepada debu tanah. Penandaan dengan abu dan ungkapannya adalah bahasa simbolik untuk menyatakan kerapuhan kemanusiaan kita dan kcfanaannya. Ketentuan puasa dalam Gereja Katolik sesuai yang tercantum
dalam Hukum Gereja Kan. 1244-1253 (lihat juga Statuta Regio Sumatera
Pasal 65 dan 66) adalah sebagai berikut:

  1. Puasa dalam arti yuridis adalah: boleh makan kenyang hanya sekali
    dalam sehari; sedangkan pantang berarti: tidak mengkonsumsi
    makanan atau minuman atau melakukan hobi/ kesenangan tertentu,
    atau hal-hal lain. yang hendaknya dipilih sendiri.
  2. Setiap hari Jumat sepanjang tahun adalah hart pantang (bdk. pasal 69 ayal 2), kecuali jika hart itu kebetulan jatuh hari yang terhitung sebagai hari raya.
  1. Dalam masa pra-Paskah. hart puasa dan pantang adalah: hari Rabu
    Abu dan hari Jumat Agung. Sedang hari pantang adalah hari Rabu dan hari 3umat sepanjang masa pra-Paskah itu.
  2. Yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang sehat dan
    berumur antara 18 s/d 60 tahun; sedangkan yang wajib pantang
    adalah semua orang Katolik yang sehat dan berumur antara 14 s/d
    60.
  3. Selama masa pra-Paskah semua umat beriman hendaknya diajak
    nutuk terlibat secara aktif “dalam kegiatan kerohanian” dan kegiatan
    Aksi Puasa Pembangunan (APP) , baik yang bersifat lokal maupun
    nasional. Peraturan puasa dan pantang tersebut berada di bawah judul besarWaktu Suci, yang pengertiannya adalah sebagai berikut :
  1. Yang dimaksudkan dengan waktu suci adalah pengudusan hari Minggu
    dan hart raya wajib serta han-hart yang dikhususkan untuk pelaksanaan
    tobat, mati raga, dan usaha kesalehan demi peningkatan hidup rohani.
  2. Sesuai dengan tradisi Gereja, waktu tobat meliputi hart Jumat sepanjang
    tahun dan masa pra- Paskah.
  3. Tidak ada larangan nutuk melangsungkan perkawinan. pcmbaharuan kaul, atau tahbisan pada masa pra-Paskah. namun hendaknya dihindari pesta meriah yang tidak sesuai dengan semangat mati raga dan pertobatan.

Jika kita cermati dengan baik peraturan tersebut, pada hari puasa dan pantang pun kita masih boleh makan, dan pantangnya hendaknya dipilih
sendiri. Tidak ada paksaan bahwa kita harus berpantang makanan tertentu. Dalam Injil Markus ada orang-orang yang datang kepada Yesus dan bertanya, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa tetapi murid-murid-Mu tidak?”. Yesus menjawab merek “Dapatkah sahabat-sahabat rnempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?” (Mrk 2: 18 — 19). Di sini jelas bahwa bukan Yesus yang mereka persoalkan, melainkan murid-murid-Nya. Apakah pada waktu itu Yesus sendiri sedang berpuasa? Jika Yesus adalah Mempelai Laki-laki dari Gereja (bdk. Ef5: 25-27). maka Gereja harus berpuasa ketika Mempelai diambil dari tengahtengahnya. Ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani, para murid lari kocar-kacir. Apakah di saat itu seharusnya mereka berpuasa? Lalu apa artinya berpuasa? Kita bisa mengatakan bahwa puasa berarti setia kepada Tuhan dalam situasi apapun (bdk. 2 Kor 11: 2; Ef 5: 25-27).

Kita tahu bahwa Yesus bukan anti puasa. Dia pernah berpuasa selama 40 hart 40 malam. Tetapi Dia berpuasa tidak di depan orang dan terutama bukan untuk mendapatkan pujian orang (lihat Mat 4: 1 — 11, par;bdk. Mat 6: 16 – 18). Bagi Yesus, puasa bukan sekedar ritual keagamaan melainkan praksis hidup yang harus berbuah kasih. Puasa dalam arti tidak makan dan tidak minum sifatnya sangat pribadi dan karena itu dapat dilakukan juga pada waktu yang bisa dipilih sendiri (bdk. Mat 6: 16 18). Di padang gurun,
ketika Yesus berpuasa, Dia digoda Setan nutuk meninggalkan Allah. Yesus
dengan tegas menolak (lih. Mat 4: 1-11, par). Lain, keselamatan dalam
ungkapan narasi pengadilan terakhir disebutkan kasih kepada Allah yang tak terpisahkan dengan kasih kepada sesama (Mat 25: 31-46). Maka bagi Yesus puasa itu seharusnya merupakan sikap hidup dan ungkapan keteguhan iman kepada Allah dan ungkapan perbaîkan relasi kepada sesama. Maka unsur pertobatan sangat mendapatkan penekanan, dan pertobatan itu hendaknya menghasilkan buah-buah kebaikan. Berpuasa itu seharusnya berani hidup benar, adil dan jujur, mengasihi sesama tanpa pamrih dan tanpa pilih kasîh, dan rela berkorban tanpa mengharapkan balasan, hidup rukun bersahabat dengan harmonis dengan semua orang tanpa pandang bulu dan tanpa membeda-bedakan, sehati seperasaan dan senasib sepenanggungan, terutama dengan mereka yang menderita (bdk. kisah pengadilan terakhir, Mat 25: 3 — 46; bdk, Lumen Gentium 1).

Bahkan berpuasa dengan aktivitas rohani tetapi hanya menjadikan
orang sombong dan munafık, tidak berkenan pada Allah (bak. Yes 58: 1 — 5). Yesaya dengan jelas mengatakan puasa yang dikehendaki Tuhan, “Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang supaya engkau memberi dia pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri … apabila engkau tidak menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah …” (Yes 58: 6 – 19). Di sini juga tidak disinggung bahwa orang harus berpantang atan tidak boleh makan.

Di tahun 2025 ini kita menjalani masa pra-Paskah di tengah aktivitas melaksanakan Ardas Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Marilah kita
melihat ke dalam kebersamaan keberadaan kita: apakah persekutuaan kita
solid dan kompak oleh ikatan kasih atau terpecah-pecah oleh egoisme,
sektarian dan primordialisme? Apakah kita mengasingkan diri dari komunitas kita atau mengasingkan orang lain yang tidak sepaham dengan kita? Apakah kita ambil bagian secara aktif dalam kehidupan menggereja dan bcrmasyarakat atau kita hanya sebagai penonton pasif yang tidak punya hati dan perasaan sehingga tidak tergerak scdikitpun untuk bersama dengan orang lain di sekitar kita melakukan karya baik bagi sesama’? Sebagai murid-mıırid Yesus. apakah kita mempunyai semangat bermisi, yakni menghidupi lnjil dengan sukacita atau hidup kita jauh dari keutamaan-keutamaan Injili?

Jika kita menghidupi ajaran Yesus dengan benar, Rita sudah melakukan karya misi. Karya misi adalah kesaksian hidup kita sebagai murid-murid Yesus {bdk. Evungeli Gauâium 14-15). Maka bermisi adalah hidup benar, adil dan jujur dalam kehidupan schari-hari, dan tidak menjadi batu sandungan bagi sesama kita. Karena kita ini saudara dan saudari satu sama lain (lihat Ensiklik Fratelli Tutti – 3 Oktober 2020) maka puasa, berarti marilah meneguhkan hati untuk berperilaku penuh kasih dan empati, solider dan setia kawan, senasib sepenanggungan, saling bergandengan tangan dalam kehidupan, bahumembahu, berbela rasa dengan orang lain. Marilah kita terus-menerus mengamalkan nilai- nilai lııhur iman dan kemanusiaan kita. Marilah kita saling mcmberi keteladanan hidup jujur, adil dan benar sesuai dengan semangat hidup Tuhan Ycsus.

Palembang, 3 Maret 2025

Mgr. Yohanes Harun Yuwono
Uskup Keuskupan Agung Palembang

Leave a Reply


1 + 8 =