Gereja di seluruh dunia merayakan Hari Minggu Misi Sedunia ke 99 dan tema dari Bapa Suci Paus Fransiskus sebelum wafat, yaitu : Misionaris Pengharapan Diantara Segala Suku Bangsa. Perayaan Minggu Misi Sedunia ke 99 dirayakan umat Paroki Santo Yoseph Palembang, Sabtu-Minggu, 18-19 Oktober 2025 dan RD. Daniel Depan Pratama memimpin Perayaan Ekaristi, Sabtu 18 Oktober 2025 pukul 17.30 Wib.
Melalui homilinya Romo Daniel menyampaikan, kita bersama-sama merayakan Hari Minggu Misi Sedunia dan pesan yang akan disampaikan oleh Paus Fransiskus sebelum wafat mengingatkan setiap murid Kristus, seluruh Gereja, komunitas dan orang-orang yang dibaptis akan panggilan mendasar kita yaitu, menjadi pembawa pesan dan pembangun pengharapan dengan mengikuti jejak Yesus sendiri dari identitas misioner Kristiani. Setiap orang Kristen, orang Kristiani dipanggil untuk mengikuti jejak Kristus sebagai pembawa pengharapan dan Gereja juga diutus untuk menjadi terang di tengah dunia yang diliputi kegelapan.
Ada lima poin yang cocok direnungkan di dalam hidup kita, yang pertama, Paus Fransiskus mengajak dan juga mendorong kita bahwa Yesus sebagai teladan misionaris pengharapan. Dimana Yesus telah membawa kabar baik, Yesus menyembuhkan dan menghidupkan pengharapan, terutama bagi mereka yang miskin dan tertindas. Yesus sendiri mengalami penderitaan di dalam hidupnya di dunia ini, namun Ia tetap senantiasa menyerahkan dirinya pada kehendak Allah. Yang kedua, Gereja melanjutkan misi Kristus, Gereja dipanggil untuk meneruskan karya Kristus, karya menyembuhkan dan juga karya yang menguatkan umat manusia. Gereja bukanlah statis tetapi misioner dan terus berjalan bersama dengan Allah. Gereja akan terus bermisi dan juga berjalan bersama dengan Allah di dalam zaman ini.
Lalu yang ketiga, umat Kristiani sebagai pembawa pengharapan, di inspirasi oleh semangat dari Konsili Vatikan kedua, yaitu : berempati pada penderitaan umat manusia sebagai aksi nyata dari cinta kasih Kristus sendiri, cinta kasih Allah dan Injil membawa keselamatan yang melampaui dunia ini, membawa kita dan mengarahkan kita pada kehidupan yang kekal. Kmudian yang keempat, mengenai tantangan zaman dan juga harapan dari Injil itu sendiri. Di dunia yang modern ini menghadapi krisis kemanusiaan, dimana manusia sering mengalami kesepian, sering mengalami individualisme dan manusia mengalami materialisme. Disitulah Injil hidup dalam komunitas yang dapat mengembalikan kemanusiaan yang sejati, perlunya aksi nyata dan kedekatan personal, terutama kepada mereka yang miskin dan juga yang terpinggirkan.
Lalu poin yang kelima, dimana spiritualitas Paskah dan doa, misionaris pengharapan perlu menimba kekuatan dari misteri Paskah dan juga Ekaristi, dimana doa adalah tindakan misioner pertama dan kekuatan utama dalam pengharapan. Mazmur dan sabda Allah menjadi sumber inspirasi dan semangat dalam hidup menggereja. Dimana misi tidak berhenti pada pewartaan awal, tetapi senantiasa membentuk komunitas iman yang matang. Evangelisasi adalah sebuah paradigma seluruh karya Gereja, yaitu : pewartaan pembinaan iman dan kesaksian hidup.
Paus Fransiskus dalam ajakannya dan pesannya meminta kepada seluruh umat dari anak-anak, kaum muda, orang dewasa untuk aktif dalam misi Gereja melalui doa, kesaksian hidup, pengorbanan dan kemurahan hati. Paus mempercayakan doa dan harapan misioner kepada Maria, Bunda Pengharapan. Harapan agar cahaya pengharapan Kristiani senantiasa menerangi seluruh dunia. Sebagai umat beriman, hendaknya kita juga tidak putus asa terhadap pengharapan iman kita, tidak putus asa terhadap penderitaan, terhadap tantangan maupun kesulitan di dalam hidup kita, yang penting kita harus senantiasa mengandalkan Allah sendiri dan senantiasa mempunyai pengharapan kepada Allah sendiri yang selalu berjalan bersama dengan kita.
Sebagai umat beriman, kita kembali diajak untuk merenungkan bagaimana kita menjadi pengharapan atau kita menjadi harapan di tengah sesama kita, terlebih ketika kita berada di masyarakat maupun di dunia itu sendiri. Bagaimana kehadiran kita senantiasa membawa pengharapan bagi sesama kita dan juga kita senantiasa diundang untuk senantiasa mengandalkan Allah di dalam hidup kita sebagai satu-satunya pengharapan yang akan senantiasa mendengarkan dan juga menjawab kesulitan-kesulitan, tantangan-tantangan dan juga doa-doa kita. Yang penting kita tetap setia mengimani bahwa Allah adalah sumber pengharapan itu sendiri, seperti pada tahun ini kita juga merayakan Tahun Yubelium di mana harapan itu tidak akan mengecewakan kita jika kita berharap kepada Allah sendiri.




