Mari Mengobarkan Api Cinta Kasih Dan Mewarnainya Dalam Keluarga

December 22, 2025
Mari Mengobarkan Api Cinta Kasih Dan Mewarnainya Dalam Keluarga

Palembang – Umat Paroki Santo Yoseph Palembang masih setia mengikuti Novena Kanak-Kanak Yesus (KKY) yang dimulai 13 sampai 23 Desember 2025 dengan tema : Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga. Pada Novena KKY hari kedelapan, Senin 22 Desember 2025 pukul 04.30 Wib mengambil tema : Keluarga yang melayani yang dipimpin oleh RD. Yohanes Kristianto, Vikjen Kesukupan Agung Palembang (KAPal).

Dalam renungan Novena Kanak-Kanak Yesus Romo Kris mengajak umat untuk merenungkan tema : Keluarga yang melayani. Tuhan Yesus hadir dengan landasan kasih, tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa untuk sahabat-sahabatnya, itulah kehadirannya yang sangat berarti bagi kita.  Kasih yang diterjemahkan dalam sebuah semangat memberikan diri “ Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Seluruh hidup Yesus diwarnai dengan dua hal penting dan pokok yaitu : mengasihi dan melayani.  Dia memberikan diri tanpa syarat untuk kebahagiaan dan keselamatan kita.  Bagi kita yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus,  orang yang terikat dengan Kristus,  orang yang mengatakan diri sehati dan sevisi dengan Yesus.  

Apakah kita juga menyadari bahwa melayani adalah bagian penting dari identitas Kristiani kita?  Tentu saja kita menghayati betul panggilan Kristiani kita, salah satu caranya dengan sungguh-sungguh menghayati dan menghidupi semangat Yesus, “ Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Dalam konteks ini, keluarga Kristiani yang dibangun atas dasar cinta kasih suami istri  tentu mempunyai kewajiban besar agar kasih itu bukan hanya sekedar rumusan kata-kata  yang juga terungkap dalam janji tetapi sungguh menjadi sebuah semangat yang dihayati dan dihidupi.  Pasutri yang menghayati semangat cinta kasih  maka mereka akan menerjemahkannya dalam keinginan untuk saling menghargai,  saling menghormati, saling meneguhkan, saling menguatkan, bahkan juga saling mengampuni.  Itulah bagian dari wujud kasih yang diterjemahkan dalam keinginan saling membahagiakan. 

Karena itu pasangan suami istri yang sudah diikat dalam kasih  dan menghayatinya dalam upaya saling melayani, mencoba mewariskannya dalam diri anak-anaknya, yang tidak akan membiarkan anak-anaknya bertumbuh dan berkembang dipengaruhi hanya oleh ego dan kepentingan diri sendiri.  Karena hambatan untuk melayani dengan sungguh memang adalah dominasi cinta diri.  Ukuran yang dipakai adalah diri sendiri, kepentingan, kesenangan, kemauan, untung atau rugi, suka dan tidak suka, bukan untuk dilayani, bukan untuk melayani tetapi dilayani. Semakin ego menguasai maka semakin tipis keinginan untuk memberikan diri.  Semakin tipis kadar dalam hati untuk berani rela melayani, sekalipun ada tetapi terlihat hanya untuk kepentingan diri sendiri untuk gengsi, untuk harga diri dan untuk popularitas.  Keluarga yang kehilangan kasih maka keluarga menjadi rapuh dan lemah, keluarga yang kehilangan semangat untuk melayani maka kehilangan keharmonisannya.

Oleh karena itu pada masa Adven, menjelang kita merayakan kelahiran Tuhan, marilah mengobarkan api cinta kasih di dalam diri kita.  Mari kita mengobarkannya dan mewarnainya dalam keluarga kita masing-masing. Mari kita merefleksikan sejauh mana kadar kasih yang menggerakkan untuk saling melayani yang ada di dalam keluarga kita.  Kalau kita merasa bahwa api cinta kasih itu melemah, mari kita pada hari-hari menjelang perayaan Natal ini mengobarkan dan menghidupkannya kembali.  Supaya pada perayaan Natal nanti, sungguh kita menghayati kehadiran kasih Allah di tengah-tengah kita.

Allah yang hadir untuk melayani kita melalui Putranya sendiri, karena itu biarlah Natal akan menjadi menghadirkan suasana sukacita yang besar kepada kita.  Mari kita jujur dalam diri kita masing-masing dan kita berbenah diri, menata diri, kembali menemukan semangat cinta kasih sejati di dalam keluarga kita. Serta semakin mengobarkan juga keinginan untuk saling melayani, saling membahagiakan, dan menjadi saluran berkat bagi yang lainnya.

Sementara itu lewat homilinya Romo Kris mengatakan, kita diajak memaknai setiap perjumpaan yang boleh terjadi  dimana saja dan kapan saja, terutama di dalam keluarga. Bagaimana perjumpaan itu  sungguh menjadi perjumpaan yang berharga  antara setiap anggota keluarga, perjumpaan yang membawa sukacita,  perjumpaan yang membawa berkat  dan perjumpaan yang membahagiakan. Bisa jadi selama ini perjumpaan hanya sekedar aksesoris,  hanya sekedar basa-basi , hanya sekedarnya saja tanpa ada makna yang dalam  maka hari-hari ini kita diajak untuk menjadikan perjumpaan dengan orang-orang yang dipercayakan oleh Tuhan pada kita setiap hari  menjadi sesuatu yang sangat bermakna  supaya pada saatnya  kita dijumpai oleh Tuhan dalam perayaan Natal  kita pun mengalami sukacita yang besar , bukan lagi formalitas, bukan lagi sekedar ritual dan bukan hanya sekedar basa-basi  tapi kita sungguh menghayati Allah yang mengasihi, Allah yang melayani dan Allah yang menjumpai kita

Leave a Reply


2 + 2 =