Romo Wardjito, Bersemangat, Kritis Dalam Berpikir, Peduli Dengan Orang Miskin dan Terabaikan

February 26, 2026
Romo Wardjito, Bersemangat, Kritis Dalam Berpikir, Peduli Dengan Orang Miskin dan Terabaikan

Palembang – Setelah Misa Requiem di Gereja Santo Yoseph Palembang, jenazah RP. Hadrianus Wardjito, SCJ dibawa ke Pemakaman Taman Getsemani Charitas untuk dimakamkan yang dipimpin oleh Superior Provinsialat RP. Andreas Suparman, SCJ, Rabu 25 Februari 2026.

Saat memberikan sambutan Romo Wilibrordus Murdani, CM mengatakan, saya mewakili Bapak Yohannes Yahudi Yatisuwirjo, dan Theresia Tentrem.  Tadi saya datang ke sini ditemani oleh teman saya seorang Imam dari Kongregasi Misi  yang sama-sama bertugas di Kalimantan saat ini.  Saya atas nama keluarga mengucap syukur atas karya Tuhan yang terjadi pada kakak kami, terima kasih kepada Keluarga para Romo SCJ,  juga Bapa Uskup, Mgr. Emeritus Aloysius Sudarso, Mgr. Yohanes Harun Yuwono,  juga para Provinsial yang sekarang maupun yang sebelumnya. Karena kakak kami boleh ambil bagian dalam karya Tuhan bersama para romo,  tapi juga tentu bersama banyak orang, banyak umat yang juga setia hadir di sini serta para Suster. Atas nama keluarga menyampaikan mohon maaf kalau ada banyak hal yang tidak berkenan di hati para umat, para suster, para romo, Bapa Uskup dalam diri kakak kami, yaitu : Romo Wardjito.  Sekali lagi atas nama keluarga kami mengucap syukur,  berterima kasih dan mohon maaf atas segala yang telah terjadi pada Romo Wardjito. 

Sementara itu Superior Provinsial SCJ Indonesia, RP. Andreas Suparman, SCJ mengatakan, peristiwa yang bertubi-tubi sungguh memang menyesakkan namun sekaligus bagi kami  dan bagi kita semuanya itu menjadi peristiwa iman yang senantiasa  mengingatkan kita akan ketidak berdayaan kita di hadapan Allah  dan yang menuntut kita suatu sikap berjaga-jaga dan waspada. Di dalam ketidakberdayaan itu nampak juga semangat solidaritas dan persekutuan yang bisa kita alami bersama. Keprihatinan dan kegelisahan hati Yesus ini nampaknya yang juga mewarnai kehidupan Romo Hadrianus Wardhjito kita tahu bahwa ia tidak pernah bisa merasa tenang dengan pikiran, perasaan, perkataan dan jari-jarinya. Dengan lugas ia sering melontarkan pikiran-pikirannya yang tajam dan sering keras terhadap situasi negara, Gereja, Kongregasi, bahkan pribadi-pribadi terutama pribadi-pribadi kami anggota SCJ.

Ia sering memprotes pembangunan-pembangunan Gereja yang megah. Ia juga banyak protes tentang pembangunan rumah-rumah Komunitas kami, biara-biara yang kelihatan megah dan ia anggap itu bertentangan dengan hakikat Gereja yang miskin. Perhatiannya kepada orang-orang kecil, miskin, terabaikan, bagi suku-suku terasing, suku anak dalam  dan juga suku-suku lain di Sumatera  amat besar.  Ia sangat keras menyoroti para imam, biarawan-biarawati yang hidup kurang sesuai dengan hakikatnya, yang semestinya menampakkan semangat rohani, kegembalaan, kesederhanaan, kemurnian serta yang bertentangan dengan kepatutan sebagai seorang imam, biarawan-biarawati.  Itulah yang selalu menggelisahkan hatinya, seolah baginya angkatan ini adalah angkatan yang jahat. 

Terlepas dari apakah ia telah mengungkapkannya dan menyikapinya dengan baik, bijaksana, namun kiranya kegelisahan yang dirasakan oleh romo kita ini patut kita hargai dan kita perhatikan.  Saking tidak tahannya, maka ia meminta izin kepada saya untuk hidup menyendiri di rumah dan kebun di Bakauheni. Ia ingin hidup lebih dekat dengan Allah dalam doa dan persembahan diri dan menghayati hidup amat sederhana, pergi kemana-mana dengan kendaraan umum yang paling ekonomis serta kelengkapan pribadinya juga sangat sederhana. Terhadap semua itu tampaknya Allah menganugerahkan kepadanya tanda Nabi Yunus.  Tiga hari ia dirawat di rumah sakit Emanuel Lampung dan pada hari ketiga ia dimuntahkan dari rumah sakit, dari dunia ke dalam kehidupan abadi.

Terima kasih kepada keluarga yang sudah mempersembahkan Romo Djito bagi Gereja dan semua saja yang selama ini bekerja sama dan mendukung hidup serta pelayanannya.  Ia banyak malang melintang di dalam pelayanannya baik internal Kongregasi, Gereja dan masyarakat. Alumni KMPKS (Keluarga Mahasiswa Pelajar Katolik Sumatera Selatan) yang dulu di Yogya sudah kembali di sini dan juga masih bergabung dengan yang lain-lain, dulu diawali oleh Romo Wardjito ini.  Mohon maaf bila Romo Wardjito pasti menyakiti hati saudara-saudari semuanya dan juga sudah ada yang mengungkapkan perdamaian pada akhir hayatnya, terima kasih atas kelapangan hati saudara-saudari semua dan kita tetap melanjutkan perjuangan Romo Wardjito di dalam hidup juga persembahan diri kita. 

Mgr. Emeritus Aloysius Sudarso, SCJ memiliki cerita singkat tentang Romo Wardjito ketika dia diutus untuk belajar di Roma dan sering kirim surat sama Ibunya. Bapak Romo Wardjito itu bukan orang Yahudi tetapi namanya Yahudi, pada waktu itu saya sebagai Provinsial datang ke rumah Romo Wardjito bersama dengan anggota Dewan Jenderal.  Kemudian kami disuguhi makan oleh Bapak dan ibu, dia tanya kepada saya, Romo Wardjito itu di Itali kurang makan nasi, dia bilang memang disana tidak makan  nasi. Kenapa dia kok masih sekolah terus sementara teman-temannya sudah bekerja, apa dia saking bodohnya? 

Tapi memang Romo Wardjito suka belajar, mendokumentasi, merekam dan memfoto. Dia banyak dokumentasi serta suka belajar,  suka berdiskusi, berdebat juga ada kawan kelasnya Pak Hendro, teman berdebat dan teman berdiskusi. Maka mari kita tiru semangat belajar, semangat mengamati apa yang terjadi dalam hidup dan juga berbela rasa terhadap sesama. Sebagai Komunitas semangat Romo Wardjito harus kita teruskan tapi juga sikap-sikap kita bagaimana mendampingi saudara-saudara yang punya kelebihan seperti dia. Terima kasih kepada seluruh keluarga, seluruh umat yang hadir pada kesempatan ini dan Romo-Romo yang banyak dan sering kena kritik Romo Wardjito tentang hidup imam yang seharusnya menurutnya untuk melayani umat yang bermacam-macam pribadi dan kepentingannya. 

Leave a Reply


2 + 2 =