Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 dirayakan oleh umat Paroki Santo Yoseph Palembang dalam Perayaan Ekaristi, Sabtu-Minggu 16-17 Agustus 2025. Pada Perayaan Ekaristi, Minggu 17 Agustus 2025 pukul 08.30 Wib dipimpin oleh RD. Hyginus Gono Pratowo, diawali dengan perarakan pelayan liturgi dan pembawa bendera Keuskupan serta bendera merah putih oleh empat orang OMK Santo Yoseph Palembang. Setelah sampai di depan altar semua umat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilanjutkan dengan pemberian dupa di sekitar altar oleh Romo Gono.
Dalam homilinya Romo Gono menyampaikan, 80 tahun yang lalu, bangsa Indonesia menyerukan kata merdeka dengan penuh semangat. Kata merdeka dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 di alinea yang ketiga, ditegaskan bahwa selain merupakan hasil perjuangan anak-anak bangsa Indonesia, kemerdekaan juga merupakan anugerah atau rahmat Allah Yang Mahakuasa. Itulah sebabnya, sebagai bentuk penghargaan diri sedalam-dalamnya, sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya kepada para pejuang kemerdekaan dan sebagai bentuk syukur kepada Allah Yang Mahakuasa, kita memperingati kemerdekaan Republik Indonesia sebagai sebuah hari raya, tingkat tertinggi dalam perayaan liturgi Gereja Katolik.
Kemerdekaan adalah anugerah atau rahmat Allah Yang Mahakuasa sekaligus merupakan panggilan hidup sebuah anak bangsa. Kita semuanya, tanpa terkecuali, apapun latar belakang, kita dipanggil kepada kemerdekaan. “ Kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih,” ulangan Mazmur ini sangat indah dan penting sebagai panggilan outentik, dipanggil untuk kemerdekaan. Rasul Petrus dalam bacaan kedua menegaskan, “ Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan untuk menutupi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah, hiduplah sebagai orang merdeka dan sebagai hamba Allah.” Hiduplah sebagai warganegara yang merdeka, yang dengan bebas sesuai dengan panggilannya dalam Gereja, dalam masyarakat dan dalam bangsa Negara Republik Indonesia. Ikut terlibat untuk mempertahankan, ikut terlibat untuk memelihara anugerah atau rahmat kemerdekaan dari Allah Yang Mahakuasa.
Sebagai bentuk menghargai kemerdekaan, kita merefleksikan dalam kehidupan kita sebagai rakyat Indonesia, maka sebagai orang yang mau mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah berusia 80 tahun ini, ada tiga hal yang bisa kita lakukan, yaitu :
Yang pertama, Rasul Petrus memberi nasehat, hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaraku, takutlah akan Allah, hormatilah raja. Menghormati semua orang karena memiliki martabat hidup yang sama adalah hal mendasar sebagai orang yang beradab, sebagai orang yang beriman. Takutlah akan Allah mesti terukur konkrit, dapat dilihat Allah, dapat dirasakan oleh sesama saudara lewat sikap saling menghormati, sekalipun agama berbeda, sekalipun suku berbeda dan bahasa berbeda, mereka adalah saudara, kita menghormati sesama.
Yang kedua, sang bijak dalam iman kerasulan, dalam bacaan pertama juga memberikan nasihat kepada kita, “ Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu, apapun kesalahannya dan jangan berbuat apa-apa, terpengaruh oleh nafsu.” Menaruh benci kepada sesama, yang agama sesama saudara sebangsa setanah air, jelas melukai dan mencederai pengorbanan para pejuang kemerdekaan dan anugerah kemerdekaan dari Allah Yang Mahakuasa.
Melarang orang berdoa, melarang orang mendirikan tempat ibadah dan membubarkan mereka yang sedang berdoa adalah sikap melukai hati para pejuang, para pahlawan dan para pendampingan. Kemerdekaan bangsa Indonesia tidak hanya diperjuangkan oleh sekelompok orang saja, tidak dicapai oleh karena agama, karena ras, karena suku tetapi yang menjadikan kekuatan adalah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu, maka semuanya bersatu dan tercapailah kemerdekaan itu. Inilah yang harus disadari oleh seluruh rakyat Indonesia, inilah yang harus terus-menerus dikembangkan bahwa perjuangan para pahlawan itu tidak memandang suku, agama, tidak memandang siapakah kamu, tetapi semua perjuangan ini dimulai dari persatuan, apapun, siapapun kita.
Hari ini bangsa Indonesia telah 80 tahun merdeka, semangat kemerdekaan meski tampak nyata semangat saling menghormati sebagai warga negara Indonesia, bukan sebaliknya semangat membudi, semangat membenci, semangat memecah belah, itu harus disingkirkan dari bangsa Indonesia. Mesti terus kita hidupi semangat saling mengampuni apapun kesalahan, kata orang bijak, bukan dengan saling menaruh benci, tetapi menaruh cinta kasih.
Hal yang ketiga yang bisa kita lakukan, ini saatnya bukan hanya sekedar mempertahankan dan memelihara kemerdekaan namun juga meningkatkan dan memajukan bangsa ini, antara lain kita berbagi inspirasi untuk kemajuan negeri. Kita telah dianugerahi rahmat kemerdekaan, namun kita juga dipanggil untuk kemerdekaan yang sejati, mari kita berjuang untuk menjadikan anak-anak Allah yang berbeda. Anak-anak Allah yang membela kebenaran, anak-anak Allah yang selalu menceritakan kebaikan.




