15 Agustus 2013 merupakan momen penting tahbisan imamat bagi RD. Dionisius Anton Liberto, 12 tahun lalu. Untuk merayakan HUT ke 12 Imamat Romo Liberto, DPP Santo Yoseph Palembang mengadakan Perayaan Syukur, Senin 18 Agustus 2025 pukul 12.00 Wib di Pastoran. Acara diawali dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh RD. Yohanes Agung Apriyanto yang dihadiri oleh Uskup Agung Palembang, Yohanes Harun Yuwono, Vikjen RD. Yohanes Kristianto, para imam, biarawan-biarawati, para seminaris dan umat Paroki Santo Yoseph Palembang.
Dalam sambutannya RD. Hyginus Gono Pratowo, Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang mengucapkan syukur dan terima kasih atas segala rahmat Allah yang diberikan kepada kita yang boleh mensyukuri rahmat imamat Romo Dionisius Anton Liberto yang ke 12. Beliau ini merayakan ulang tahun, tepatnya tanggal 15 Agustus 2025, tetapi karena beliau kemarin itu ada kunjungan ke Keuskupan Padang, maka kita tunggu kedatangannya sampai dengan hari ini. Romo Liberto di Paroki kita yang paling banyak SK nya, maka kita doakan, semoga Romo Liberto tetap sehat, tetap tabah dalam menjalani rutinitasnya dan tetap kuat dalam iman. Kami Komunitas Pastoran juga dari hati yang terdalam mengucapkan profisiat kepada Romo Liberto, semoga selalu sehat, selalu ceria dan selalu rendah hati dalam tugas dan karya.
Kemudian Ambrosius Anto Suprihanto, selaku Wakil DPP menyampaikan bahwa angka 12 ini menjadi angka keramat, kami mengucapkan profisiat, semoga ini menjadi momen yang baik, dan anugerah bagi imamatnya. Romo Liberto ini posturnya kecil, tapi suaranya bagus, ini salah satu kesan dari kami. Tolong, kami dibimbing, jangan lupa walaupun banyak tugasnya, terima kasih atas hal yang boleh kami terima dan selamat atas imamatnya, semoga diberi kesehatan.
Sementara itu RD. Dionisius Anton Liberto menceritakan ketika merayakan ulang tahun Imamat persis tanggal 15 Agustus kami bersama Romo Vikjen ada di salah satu Paroki, yaitu : Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga, Kayu Aro yang secara teritori masuk daerah Provinsi Jambi tetapi secara Pastoral dilayani oleh Keuskupan Padang dan umatnya sekarang ada 300-an awalnya sekitar seribuan. Ketika melihat itu Romo Vikjen mengatakan ini adalah sisa-sisa Israel, yang harus tetap dijaga dan dipelihara, didampingi dan dibimbing. Disana daerahnya dingin, mungkin lebih dingin dari Sindang sekarang ini.
12 tahun yang lalu, saya tahbisan bersama satu teman angkatan tetapi saya satu-satunya Imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang yang lain itu Imam-Imam Hari Kudus. Waktu itu saya juga mengatakan, kami barangkali juga adalah sisa-sisa Israel yang tetap ingin setia dalam panggilan imamat, tentu doa dan harapan kami, biarlah sisa-sisa Israel ini menjadi setia sampai akhir hayat seperti bangsa Israel yang tetap setia kepada YAHWE. Bukan berarti yang lain itu tidak benar, tapi mereka sedang kembali ke jalan yang benar dan kami tetap memilih ini sebagai jalan yang benar dalam panggilan Imamat.
Dalam dua Korintus dua belas ayat sepuluh, motto tahbisan saya “ Jika aku lemah, maka aku kuat,”. Dalam panggilan imamat saya, tentu ada banyak rahmat, kasih Tuhan, melalui Bapa Uskup, para Romo, para Biarawan-Biarawati yang ada di Keuskupan ini dan sekarang tentu melalui umat yang ada di Paroki Santo Yoseph Palembang, DPP, DPH, DPP Inti dan DPP Pleno dan saat ini teman perjalanan saya dimana rahmat kasih Tuhan itu melimpah.
Untuk motto tahbisan kami bersama, yaitu : Inilah aku, utuslah aku dari Yesaya 6 bab 6 ayat 6, melihat kondisi yang ada di Paroki itu, saya mengatakan kepada Romo Vikjen kalau seandainya Paroki ini bagian dari Keuskupan Agung Palembang, saya siap diutus. Inilah aku, utuslah aku. Karena ini menjadi tanda ungkapan di tengah situasi keterbatasan, kelemahan dan kekurangan, saya siap diutus dimana saja.
Terima kasih teman-teman komunitas yang ada di Paroki ini yang setiap hari terlibat di tempat ini. Saya ingin mengatakan bahwa imamat itu seperti kopi, kadang ada pahitnya, ada manisnya. kami ini, Romo-Romo yang ada disini, tidak ada satu hari pun, hidup tanpa meminum kopi. Tapi intinya bahwa hidup kami setiap hari pasti selalu minum kopi dan itulah juga yang menjadi kekuatan untuk melangkah. Ketika imamat itu seperti kopi maka biarlah menjadi kesadaran saya bahwa imamat itu anugerah Tuhan yang tetap akan memberikan dorongan bagi saya untuk melangkah dan harapannya sampai akhir menjadi seorang imam. Pahitnya dimana manisnya dimana, yang jelas ketika itu dicampur menjadi satu, maka menjadi sangat nikmat dan setiap hari membutuhkan kesadaran agar imamat itu semoga menggerakkan saya untuk tetap melangkah sampai akhir. Terima kasih atas doanya dan tentu kita saling mendukung satu sama lain.
Rangkaian acara Perayaan Syukur diisi dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama kemudian Romo Liberto mengipasi tumpeng dan memotong kue sebagai tanda ulang tahunnya. Setelah itu menyerahkan potongan kue kepada Uskup Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Dalam HUT ke 12 Imamatnya Romo Liberto juga mendapatkan hadiah ulang tahun dari Bapa Uskup, Yohanes Harun Yuwono dan acara diakhiri dengan menikmati santap siang bersama dengan seluruh umat yang hadir.





