Palembang – Umat Katolik merayakan kelahiran Yesus Kristus, sang Juru Selamat yang membawa kasih, harapan dan damai sejahtera bagi dunia setiap tanggal 25 Desember. Perayaan Hari Raya Natal di Gereja Santo Yoseph Palembang, Kamis 25 Desember 2025 diadakan dua kali pada pukul 06.30 dan 08.30 Wib. Uskup Agung Palembang. Mgr. Yohanes Harun Yuwono memimpin Perayaan Hari Raya Natal pukul 06.30 Wib didampingi oleh RD. Hyginus Gono Pratowo dan RP. Alexander Pambudi, SCJ diawali dengan perarakan pelayan liturgi menuju kedalam Gereja Santo Yoseph Palembang. Setelah menghormat Altar, Mgr. Yuwono mendupai Altar dan Kanak-Kanak Yesus di depan Gua Natal.
Dalam Homilinya Mgr. Yuwono mengatakan, kesatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus melekat, erat, tak terpisahkan ini bukan perkara matematis tetapi teologis, Allah mewahyukan dirinya, memperkenalkan dirinya sebagai Bapa yang maha baik, sebagai Putra yang menebus, sebagai roh yang menyertai kita kemanapun dan kapanpun, dimanapun kita berada. Allah yang penuh kerahiman, yang tak pernah sedetik pun meninggalkan kita tetapi dalam kasih yang total, menebus. Allah begitu maha rahim sehingga kasihnya tanpa pamrih, tanpa pilih kasih dan total. Semoga Allah yang tunggal, tiga pribadi yang tak terpisahkan satu sama lain menjadi dasar hidup berkeluarga kita. Keluarga harus menjadi satu kesatuan, tak terpisahkan, keluarga harus saling menyayangi, keluarga harus rela tanpa pamrih, tanpa pilih kasih, saling menguatkan, meneguhkan.
Tema Natal kita tahun ini secara Nasional dicanangkan : Allah datang untuk menyelamatkan keluarga. Allah menyelamatkan keluarga sebab keluarga merupakan institusi sosial terkecil yang didirikan oleh Allah sendiri. Seluruh anggotanya haruslah satu kesatuan dalam kasih dan ketika keluarga ini utuh tak terbagi, tak terceraikan, tak terpisah-pisahkan, keluarga ini akan sehat. Bukan hanya keluarga yang akan sehat tapi setiap anggota keluarganya pun akan sehat dan masyarakat juga akan sehat Gereja Katolik tetap mempertahankan nilai-nilai luhur pernikahan dan kesatuan antara laki-laki dan perempuan seumur hidup. Bukan karena ingin berbeda dengan kelompok lain melainkan karena ingin melaksanakan, mengikuti dan ingin setia pada ajaran Tuhan, dua pribadi dalam membentuk keluarga, laki-laki dan perempuan, bukan lagi dua melainkan satu (Kejadian 2 ayat 24). Maka ajaran lain atau kepentingan duniawi apapun tidak boleh mengalahkan kehendak dan perintah Tuhan, keluarga sekali lagi adalah institusi sosial yang didirikan oleh Allah sendiri.
Saya ingin mengajak kita semua menyadari sungguh-sungguh bahwa keluarga-keluarga masa kini mendapatkan ancaman dari gaya hidup negatif yang bisa meruntuhkan nilai-nilai luhur keluarga karena itu dapat mengancam kedamaian umat manusia seluruh dunia. Gaya hidup negatif itu seumpama penyakit yang menggerogoti, yang mengancam kesehatan keluarga. Gaya hidup negatif yang dimaksudkan adalah permisif yang mengabaikan iman, mengabaikan moral, kemanusiaan dan kesusilaan. Awaslah terhadap kecenderungan mentalitas hidup materialis, konsumeris, hedonis dan mentalitas instan yang membuat manusia melaksanakan dan menghidupi egonya sendiri, karena itu tak peduli dengan siapapun, tidak ada empati pada siapapun.
Saya meyakini setiap pasangan pengantin juga para imam, biarawan, biarawati atau siapapun dalam profesi apapun ketika memulai hidup panggilannya, memulainya dengan penuh gelora berapi-api, dengan segala idealisme baik, dalam kematangan pribadi yang merdeka. Kita memilih dan kita semua tahu bahwa hidup tidak selamanya mulus, tanpa gangguan atau rintangan, kita sadari bukan hanya akan ada saat-saat yang bisa disebut untung tetapi juga ada saat-saat yang bisa disebut malang. Dalam kesadaran seperti itu kita mulai melangkah dalam kesadaran yang terus-menerus, memelihara gelora api di awal agar tetap menyala, melakukan tindakan bijaksana yang mengungkapkan kedalaman jiwa kemanusiaan kita, yang unggul dibandingkan dengan ciptaan yang lain.
Jika kita mengalami tantangan dalam hidup ini dan kita menyerah, orang akan mengatakan kita lebay maka jika kita semakin mendapatkan tantangan yang harus kita hadapi dan kita menghadapinya dengan gelora yang semakin berapi-api. Ketika kita fight, tanpa menyerah dan tanpa kenal-lelah walaupun sampai harus berdarah-darah, kita akan dikenang sebagai orang hebat, orang unggul, teladan, panutan, bahkan pahlawan. Pastilah Yesus dididik dengan sangat baik, dengan keteladanan yang sangat luar biasa dari Yosef dan Maria. Yesus sebagai anak, saya yakin tumbuh baik dan menjadi manusia yang matang, dewasa karena diajar dan belajar dari cara hidup Maria dan Yosef.
Marilah kita mengajak semua anggota keluarga kita untuk hidup benar, adil, jujur dan beriman dengan setia kepada Allah. Marilah sungguh-sungguh menyadari bahwa keluarga adalah sekolah ikhlas domestika, Gereja kecil keluarga adalah sekolah iman, sekolah kasih, kemanusiaan dan peradaban yang dikendaki dan diberkati oleh Allah sendiri. Marilah kita tetap bangga sebagai orang Katolik dengan mempertahankan nilai-nilai luhur keluarga Kristiani, beriman, hidup jujur, berkeadilan dalam kebenaran dengan rasa kemanusiaan dan toleransi membangun persaudaraan yang sejati. Tetaplah teguh menghidupi cinta kasih, tak kena lelah untuk melahirkan generasi muda yang beriman, beradab dan manusiawi. Semoga kesatuan ala Tritunggal, Bapa, Putra dan Roh Kudus yang tak terpisahkan itu menjadi dasar spiritualitas dan semangat hidup keluarga kita.




