Marilah Semua Keluarga Hidup Benar, Jujur, Beriman Dan Setia Kepada Allah

December 27, 2025
Marilah Semua Keluarga Hidup Benar, Jujur, Beriman Dan Setia Kepada Allah

Palembang – Umat Katolik merayakan kelahiran Yesus Kristus, sang Juru Selamat yang membawa kasih, harapan dan damai sejahtera bagi dunia setiap tanggal 25 Desember. Perayaan Hari Raya Natal di Gereja Santo Yoseph Palembang, Kamis 25 Desember 2025 diadakan dua kali  pada pukul 06.30 dan 08.30 Wib. Uskup Agung Palembang. Mgr. Yohanes Harun Yuwono memimpin Perayaan Hari Raya Natal pukul 06.30 Wib didampingi oleh RD. Hyginus Gono Pratowo dan RP. Alexander Pambudi, SCJ diawali dengan perarakan pelayan liturgi menuju kedalam Gereja Santo Yoseph Palembang. Setelah menghormat Altar, Mgr. Yuwono mendupai Altar dan Kanak-Kanak Yesus di depan Gua Natal.

Dalam Homilinya Mgr. Yuwono mengatakan, kesatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus  melekat, erat, tak terpisahkan ini  bukan perkara matematis  tetapi teologis, Allah mewahyukan dirinya, memperkenalkan dirinya  sebagai Bapa yang maha baik,  sebagai Putra yang menebus, sebagai roh yang menyertai kita  kemanapun dan kapanpun, dimanapun kita berada. Allah yang penuh kerahiman, yang tak pernah sedetik pun meninggalkan kita tetapi dalam kasih yang total, menebus. Allah begitu maha rahim sehingga  kasihnya tanpa pamrih, tanpa pilih kasih  dan total.  Semoga Allah yang tunggal, tiga pribadi  yang tak terpisahkan satu sama lain  menjadi dasar hidup berkeluarga kita. Keluarga harus menjadi satu kesatuan, tak terpisahkan, keluarga harus saling menyayangi, keluarga harus rela tanpa pamrih, tanpa pilih kasih, saling menguatkan, meneguhkan.

Tema Natal kita  tahun ini secara Nasional  dicanangkan : Allah datang  untuk menyelamatkan keluarga. Allah menyelamatkan keluarga  sebab keluarga merupakan institusi sosial terkecil  yang didirikan oleh Allah sendiri. Seluruh anggotanya haruslah satu kesatuan  dalam kasih  dan ketika keluarga ini utuh  tak terbagi,  tak terceraikan, tak terpisah-pisahkan, keluarga ini  akan sehat. Bukan hanya keluarga yang akan sehat tapi  setiap anggota keluarganya pun  akan sehat  dan masyarakat juga  akan sehat Gereja Katolik  tetap mempertahankan nilai-nilai luhur pernikahan dan kesatuan  antara laki-laki dan perempuan  seumur hidup. Bukan karena ingin berbeda dengan kelompok lain  melainkan karena ingin  melaksanakan, mengikuti dan ingin setia  pada ajaran Tuhan,  dua pribadi dalam membentuk keluarga, laki-laki dan perempuan, bukan lagi dua  melainkan satu (Kejadian 2 ayat 24). Maka ajaran lain  atau kepentingan duniawi apapun  tidak boleh mengalahkan kehendak  dan perintah Tuhan, keluarga sekali lagi adalah institusi sosial  yang didirikan oleh Allah sendiri. 

Saya ingin mengajak kita semua  menyadari sungguh-sungguh bahwa  keluarga-keluarga masa kini  mendapatkan ancaman dari gaya hidup negatif  yang bisa meruntuhkan  nilai-nilai luhur keluarga  karena itu dapat mengancam kedamaian umat manusia seluruh dunia. Gaya hidup negatif itu seumpama penyakit  yang menggerogoti, yang mengancam kesehatan keluarga. Gaya hidup negatif yang dimaksudkan adalah  permisif  yang mengabaikan iman, mengabaikan moral, kemanusiaan dan kesusilaan. Awaslah terhadap kecenderungan mentalitas hidup materialis, konsumeris, hedonis  dan mentalitas instan  yang membuat manusia  melaksanakan dan menghidupi egonya sendiri, karena itu tak peduli dengan siapapun, tidak ada empati pada siapapun.

Saya meyakini  setiap pasangan pengantin juga para imam, biarawan, biarawati atau siapapun dalam profesi apapun  ketika memulai hidup panggilannya, memulainya dengan penuh gelora berapi-api, dengan segala idealisme baik, dalam kematangan pribadi yang merdeka. Kita memilih dan kita semua tahu bahwa hidup tidak selamanya mulus, tanpa gangguan atau rintangan, kita sadari bukan hanya akan ada saat-saat  yang bisa disebut untung tetapi juga ada saat-saat yang bisa disebut malang. Dalam kesadaran seperti itu  kita mulai melangkah  dalam kesadaran yang terus-menerus, memelihara gelora api di awal  agar tetap menyala, melakukan tindakan bijaksana  yang mengungkapkan kedalaman jiwa kemanusiaan kita, yang unggul dibandingkan dengan ciptaan yang lain.

Jika kita mengalami tantangan dalam hidup ini dan kita menyerah, orang akan mengatakan kita lebay maka jika kita semakin mendapatkan tantangan  yang harus kita hadapi dan kita menghadapinya dengan gelora yang semakin berapi-api. Ketika kita fight, tanpa menyerah dan tanpa kenal-lelah walaupun  sampai harus berdarah-darah, kita akan dikenang sebagai orang hebat, orang unggul, teladan, panutan, bahkan pahlawan.  Pastilah Yesus dididik dengan sangat baik, dengan keteladanan yang sangat luar biasa  dari Yosef dan Maria. Yesus sebagai anak,  saya yakin tumbuh baik  dan menjadi manusia yang matang, dewasa  karena diajar dan belajar  dari cara hidup Maria dan Yosef.

Marilah kita mengajak semua anggota keluarga kita  untuk hidup benar, adil, jujur  dan beriman dengan setia kepada Allah. Marilah sungguh-sungguh menyadari bahwa keluarga adalah  sekolah ikhlas  domestika, Gereja kecil  keluarga adalah sekolah iman, sekolah kasih, kemanusiaan  dan peradaban  yang dikendaki dan diberkati oleh Allah sendiri. Marilah kita tetap bangga  sebagai orang Katolik  dengan mempertahankan nilai-nilai luhur keluarga Kristiani, beriman, hidup jujur, berkeadilan  dalam kebenaran  dengan rasa kemanusiaan dan toleransi membangun persaudaraan yang sejati. Tetaplah teguh  menghidupi cinta kasih,  tak kena lelah  untuk melahirkan generasi muda yang beriman, beradab  dan manusiawi. Semoga kesatuan ala Tritunggal, Bapa, Putra dan Roh Kudus yang tak terpisahkan itu  menjadi dasar spiritualitas dan semangat hidup keluarga kita. 

Leave a Reply


8 + 7 =