Palembang – Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) Provinsi Indonesia kembali berduka setelah berpulangnya Konfrater RP. Valentinus Teja Anthara, SCJ, Sabtu 21 Februari 2025 dan dibawa ke Pringsewu Lampung untuk dimakamkan hari Senin 23 Februari 2026. Kabar meninggalnya RP. Hadrianus Wardjito di Rumah Sakit Imanuel Way Halim Bandar Lampung diterima hari Senin 23 Februari 2026 pukul 11.33 Wib, kemudian jenazah disemayamkan di Rumah SCJ Teluk Betung dan diadakan Misa Arwah pukul 18.00 Wib selanjutnya dibawa ke Provinsialat SCJ Palembang. Sementara Misa Requiem yang dipimpin oleh Mgr. Emeritus Aloysius Sudarso, SCJ diadakan di Gereja Santo Yoseph Palembang, Rabu 23 Februari 2026 pukul 10.00 Wib, dilanjutkan pemakaman di Taman Getsemani Charitas Palembang.
Dalam homilinya Mgr. Emeritus Aloysius Sudarso, SCJ menyampaikan, kita menghormati jenazah Romo Djito karena dengan tangannya, dia dulu mengurapi kita, dengan wajahnya mengungkapkan perasaannya kepada kita. Kita semua tentu kenal dengan Romo Djito, saya kira keterlibatan dia secara Pastoral dalam Keuskupan ini selama lebih dari lima tahun. Masih banyak dulu orang-orang muda yang sekarang hadir disini, mengenal Romo Djito, tentu kita sangat dikejutkan oleh kematiannya. Walaupun demikian kita harus menyadari kapan giliran saya mempersiapkan diri untuk itu. Romo Wardjito, saya kira mempunyai relasi berbeda-beda, waktu berkarya disini, terutama perhatiannya pada orang-orang muda, karyawan-karyawan muda yang perlu kebersamaan.
Dia juga bekerja di rumah retret mengundang anak-anak sekolah untuk retret, itulah sebenarnya awal pelayanan di Keuskupan ini. Romo Wardjito menerima anugerah terakhir dari Tuhan dalam hidup adalah kematian. Kematian itu pemberian terakhir Tuhan kepada kita msing-masing. Memang Romo Wardjito itu khas orangnya, dia sangat bersemangat tapi juga mengikuti siapa yang dulu dibimbingnya masih dikontak sampai sekarang, kadang-kadang didatangi, saya kira pengalaman dari Alumni KMPKS yang dia juga ikut bersama Romo Yus. Kita sangat berterima kasih, Tuhan telah memberikan dia untuk berkarya bagi orang-orang muda yang masih juga ada pada saat ini. Sangat kita butuhkan orang-orang muda yang harapannya bisa menjadi relawan-relawan kemanusiaan di tanah air kita ini.
Paroki-Paroki kita perlu orang-orang muda yang dapat menjadi relawan dan mengetengahkan nilai-nilai keberanian, belas kasih, peduli pada mereka yang menderita. Kita membutuhkan orang-orang muda seperti itu yang mungkin sangat diharapkan oleh Romo Wardjito. Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Romo Wardjito di tengah-tengah Gereja terutama di Sumatera Selatan dan mohon maaf kalau mungkin kurang bisa meladeni kerinduan Romo Wardjito. Ketika di Jambi dia menginginkan perhatian kepada orang-orang tua dan suku-suku anak dalam dan menginginkan disana ada Perguruan Tinggi.
Romo Wardjito selalu berpikir untuk Gereja, Kongregasi dan hidupnya sederhana, maka kita pantas berdoa mohon agar spirit Romo Wardjito, semangat doanya, semangat pelayanannya, pertemuannya dengan siapapun yang dilayani tumbuh dan berkembang dalam Gereja kita terutama juga dalam Komunitas Kongregasi kita. Semoga harapannya diteruskan oleh Gereja, Kongregasi, kita, orang-orang muda yang rela menjadi relawan-relawan kemanusiaan di tengah-tengah kehidupan yang serba sulit di Gereja maupun di negara ini. Pada saatnya kita juga akan menerima pemberian terakhir dari Tuhan di dunia ini, yaitu : kematian tapi kita bersyukur bahwa kematian itu sudah di kalahkan oleh Kristus. Saya yakin bahwa Romo Wardjito mungkin sudah menghadap pada Tuhan tetap hadir di tengah-tengah kita dengan caranya sendiri, karena kalau dekat dengan Kristus pasti dekat dengan kita, pasti Dia hadir dengan cara yang beda juga mungkin akan kita alami pada hari-hari yang akan datang.
Mgr. Sudarso juga mengingatkan pada masa Prapaskah ini kita diharapkan untuk bertobat agar dapat melihat kehadiran Yesus, menyertai kita dalam misteri Ekaristi, itu adalah tanda kehadiranNya. Dalam Ekarisi Dia hadir, dalam sakramen-sakramen, dalam perbuatan kasih terhadap sesama, Dia hadir di tengah-tengah kita. Kita semua diharapkan semakin menyadari, Tuhan hadir dalam misteri, Tuhan hadir dalam Ekaristi, kita harus melihat dengan mata iman bahwa Kristus yang menebus berkorban di salib itu, dihadirkan kembali berkatnya untuk kita dalam perjuangan di dunia ini.






