Presiden Jokowi kunjungi biarawati Katolik di Timor Leste

January 30, 2016
Presiden Jokowi kunjungi biarawati Katolik di Timor Leste
Presiden Jokowi kunjungi biarawati Katolik di Timor Leste
 29/01/2016

Presiden Jokowi kunjungi biarawati Katolik di Timor Leste thumbnail

Presiden Joko Widodo ditunjukkan oleh salah satu biarawati OCD tentang profilnya sejak ia sebagai walikota Solo hingga presiden pada kunjungannya ke susteran OCD di Dili di sela-sela kunjungan kenegaraan di Timor Leste, Selasa (26/1). (Foto: Setpres RI)

Presiden Joko Widodo di tengah kunjungan kenegaraan ke Timor Leste mengunjungi susteran Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) di Dili. Di sana ia sempat bertemu dengan Suster Margaretha Mariadi OCD, adik mendiang Menteri Sekretaris Negara era presiden Soeharto.

Peristiwa menarik itu terjadi pada Selasa (26/1) setelah Presiden Jokowi melakukan blusukan ke Pasar Ledicere Dili ditemani Presiden Taur Matan Ruak dan Perdana Menteri Rui Maria de Araujo. Mereka sebelumnya sudah menyelesaikan pertemuan bilateral dan menandatangani lima dokumen kerja sama.

Presiden Jokowi kemudian dijadwalkan mengunjungi Taman Makam Pahlawan Metinaro. Di pemakaman untuk para pejuang kemerdekaan Timor Leste ini, ia meletakkan karangan bunga. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju Taman Makam Pahlawan Seroja, tempat pemakaman para Tentara Nasional Indonesia.

Tapi di tengah perjalanan, seperti dilansir satuharapan.com, Presiden blusukan ke rumah biarawati yang dihuni belasan ‎biarawati OCD. Di sini Presiden bertemu dengan mantan Presiden dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao, dan sempat berdialog dengan biarawati di tempat pelayanan kesehatan bagi warga yang tidak mampu.

Para biarawati yang memang masih Warga Negara Indonesia turut mendoakan, “Kami berdoa semoga Bapak berhasil memimpin NKRI,” ucap salah satu suster senior Suster Margaretha berusia 77 tahun dan merupakan adik kandung mendiang Moerdiono, Menteri Sekretaris Negara di era Presiden Soeharto.

Sebelumnya, Suster Margaretha menyambutnya dengan sukacita. “Maturnuwun sanget Bapak sampun kersa tindak,” ungkapnya dalam bahasa Jawa. Maksudnya, “Terima kasih banyak Bapak karena sudah berkenan untuk datang.”

Menurut Xanana Gusmao para biarawati tersebut telah tinggal di Timor Leste selama 22 tahun.

Biarawati OCD

Para suster OCD hidup dan tinggal di dalam biara kontemplatif. Karya kerasulan yang utama adalah mendoakan kepentingan Gereja Kudus Allah dan seluruh umat manusia.

Ordo ini didirikan pada 24 Agustus 1562 oleh St. Teresa Avila yang memugar Ordo Karmel dan membentuk kelompok kecil dengan nama: Ordo Karmel tak Berkasut. Dalam perkembangannya Komunitas OCD untuk pria berdiri pada 1580.

Kedatangan OCD di Indonesia bermula pada tahun 1635 dengan pionir Rm Dionisius OCD dan Br Redemptus OCD. Mereka mendarat di Aceh, namun terbunuh. Akibatnya misi OCD di Indonesia terhenti.

Pada tahun 1939, berganti para suster OCD yang datang ke Indonesia melalui negeri Belanda dan membangun Biara suster OCD di Lembang, Bandung.

Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, para suster OCD dari Belanda ditawan dan biara mereka diduduki oleh polisi Jepang. Setelah Indonesia merdeka mereka dibebaskan.

Sementara menanti kejelasan untuk kembali ke Lembang, Uskup Ende, Mgr Hubertus Antonius Thijssen SVD, meminta kepada para suster OCD untuk membuka biara di Ende. Maka pada tahun 1953, berlayarlah para suster OCD menuju Ende, Flores. Para suster memilih kota dingin Bajawa menjadi tempat tinggal.

Pada tahun 1960 biara OCD di Lembang kembali dibuka. Pada tahun 1994 atas permintaan Uskup Dili, Timor Leste, suster-suster OCD membuka komunitas di Hera, Dili.

Sumber : indonesia.ucanews.com

Leave a Reply


2 + 6 =