Markus “ Janganlah takut sebab Aku ini menyertai engkau (Yesaya 43:6) “

May 28, 2018
Markus  “  Janganlah takut sebab Aku ini menyertai engkau (Yesaya 43:6) “

Biodata

Nama : Markus Edi Sucipto

Anak ke3 dari 6 bersaudara : 3 putera dan 3 puteri

Tempat/Tanggal Lahir : Sukabumi, 23 April 1987

Nama Orangtua  : Bapak Yustinus Sukidi dan Ibu Elisabet Wasinem

Asal Paroki  : Trinitas, Bangunsari BK III, Buay Madang OKU Timur Sumatera Selatan

Moto  : Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau (Yes 43:6)

 

Riwayat Pendidikan

1995-2001 : SD N 1 Sumber Agung, Buay Madang OKU Timur Sumatera Selatan

2001-2004 : SMP Charitas 03 Tegal Sari BK IV, Buay Madang OKU Timur Sumatera Selatan

2004-2007 : SMA Pangudi Luhur Sukaraja, Buay Madang OKU Timur Sumatera Selatan

2007-2009 : Seminari Menengah Santo Paulus Palembang

2009-2010 : Tahun Orientasi Rohani Santo Markus Pematangsiantar

2010-2014 : Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas Medan

2014-2015 : Tahun Orientasi Pastoral di Unit Pastoral Santo Paulus Pinang Raya Bengkulu Utara

2015-2017 : Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Santo Yohanes  Pematangsiantar

2017 – sekarang : Penpas di Paroki Santo Yoseph Palembang

Catatan awal

Konsili Vatikan II menamakan keluarga menurut sebuah ungkapan tua “ecclesia domestica” (Gereja rumah tangga). Dalam pangkuan keluarga “hendaknya orang tua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka. Orang tua wajib memelihara panggilan mereka masing-masing, secara istimewa panggilan rohani (KGK no. 1656-1658). Dalam hal itu sangat besarlah sumbangan keluarga-keluarga, yang dijiwai semangat iman dan cinta kasih serta ditandai sikap bakti, menjadi bagaikan seminari pertama (OT, no. 2). Dalam keluarga saya diajari banyak hal. Namun beberapa hal menonjol adalah diajari bersikap sopan, berdoa, hidup sederhana, rapi dan bersih, belajar bertangung-jawab atas tugas yang dipercayakan, mau mendengarkan. Saya bangga dengan keluarga saya: sebuah keluarga sederhana dan cukup harmonis. Keluarga inilah tempat pertama kali saya dipersiapkan Sang Pemanggil.

Keluarga saya adalah seminari pertama saya, nilai-nilai kristiani ditanamkan oleh orang tua. Dalam keluarga inilah, awal mula saya tertarik menjadi Romo. Saat  kelas 3 SD saya sudah aktif dalam kegiatan misdinar perjumpaan dengan romo setiap akan misa membuat saya tertarik untuk menjadi imam/romo. Saya tertarik dengan penampilan Romo yang ramah dengan umat dan yang lebih menarik bagi saya adalah ‘pakaian’ (kasula) yang dipakainya saat Misa Kudus.

Bukan pengalaman luar biasa tetapi pengalaman biasa-biasa

Keinginan menjadi romo bukan melalui pengalaman luar biasa, seperti pengalaman Saulus (Kis 9 : 1-9), tetapi melalui pengalaman biasa. Dalam kisah ini, saya akan mengisahkan beberapa pengalaman biasa yang membuat aku ingin menjadi romo. Pada saat perarakan Misa Kudus, saya melihat pakaian romo yang berbeda dengan pakaian petugas liturgi lainnya. Bagiku pakaian romo itu menarik sekali. Dan bila dipakai menampakkan kemegahan dan keagungan yang luar biasa. Pengalaman biasa lainnya, selesai Misa kudus, romo langsung berdiri di pintu depan gereja. Ia menyapa, menyalami, sambil berkata: “Berkah Dalem”. Sebagai anak kecil, tindakan romo ini mengesankan, selain itu, saya melihat sosok imam yang berkarya di paroki kami begitu dekat dan disenangi umat semakin menarik hati saya untuk menjadi imam.

Berdasarkan pengalaman tersebut saya mencoba kembali menuliskan refleksi panggilan sejarah penggilan, motivasi awal dan motivasi saya saat ini. Motivasi awal saat saya masih SD saya merasa sangat tertarik untuk menjadi imam. Saat itu benih panggilan telah tumbuh dalam hidup saya. Saya tertarik ingin menjadi imam karena saya melihat sosok imam yang berkarya di paroki kami begitu dekat dan disenangi umat. Pelan-pelan benih panggilan yang tumbuh dalam hati saya luntur. Saat itu saya mengalami kejenuhan dalam hidup studi. Saya memilih untuk berhenti sekolah dan belajar membengkel. Orang tua dan saudara-saudara saya cukup cemas dan gelisah dengan keputusan saya untuk tidak melanjutkan sekolah. Saat itu saya tidak mau mendaftar sekolah, akhirnya kakak saya memasukan saya di SMP Pangudi Luhur. Saya dipaksa sekolah dan dengan terpaksa saya melanjutkan sekolah.

Satu bulan saya sekolah di SMP Pangudi Luhur dan bulan agustus saya pindah ke SMP Charitas 03 Tegal Sari dan tinggal di Paroki. Selama tinggal di Paroki saya tidak memiliki ketertarikan untuk menjadi imam. setelah lulus SMP saya pulang kerumah dan sekolah di SMA Pangudi Luhur Sukaraja. Saya sekolah sambil membantu orang tua entah disawah maupun dirumah. Saat saya di rumah saya memelihara kambing maka setiap sore saya harus mencari rumput, selain itu saya juga memelihara ayam untuk hiburan dan memenuhi kebutuhan hidup. Ketertarikan saya untuk menjadi imam muncul ketika saya SMA.

Ketika saya duduk di bangku SMA saya  bersama ketiga temanku mengobrol tentang rencana liburan natal. Saat berbincang-bincang entah mengapa kami berempat berbicara tentang seminari. Setiap kami berkunpul kami berbicara tentang seminari dan akhirnya kami berempat memutuskan untuk masuk seminari. Saya ikut mendaftar ke seminari dengan motivasi iseng-iseng, ikut-ikutan dan melihat kota Palembang. Setelah beberapa bulan pengumuman hasil tes pun keluar dan saya membaca surat yang sudah di pegang oleh salah satu temanku.

Saya sangat terkejut dengan isi surat itu yang menyatakan bahwa saya diterima karena IQ saya pas dengan standar yang di berikan oleh seminari. Saya merasa senang dengan hasil yang telah saya dapat namun disisi lain saya merasa kecewa mengapa saya diterima dan temanku yang lebih cocok justru tidak di terima. Berdasarkan hasil ini saya harus memutar otak apakah saya akan berangkat ke seminari atau tidak. Keputusan dari dalam diriku menyatakan untuk tidak berangkat ke seminari namun karena desakan teman-teman yang sudah berada dan lulus seminari sayapun berangkat ke seminari. Proses panggilan di seminari menengah saya jalani dengan terseok-seok. Saya terus berjuang membentuk diri sesuai tuntutan seminari. Saat di seminari mula-mula saya merasa tidak cocok untuk melanjutkan panggikan saya di seminari ini.

Saat mendapat kesempatan libur saya mengutarakan maksud saya untuk keluar. Ibu saya mendukung tetapi bapak saya tidak setuju. Beliau memberikan justru memberikan pertanyaan kepada saya “ Yang mau masuk seminari dulu siapa? Kamu kalau sudah memilih sesuatu jangan toleh-toleh kebelakang. Kamu harus mencoba dan memberikan diri masukkanlah dirimu kedalam lumpur itu dan nikmatilah. Kamu harus memberikan diri. Pesan ini sangat menantang saya dan saya pun mencoba untuk maju. Pelan-pelan saya menanamkan dalam diri saya ketertarikan menjadi imam. Saya bermimpi menjadi seorang imam yang dekat dengan umat dan hidup bersama umat sehingga bisa mengerti keadaan dan situasi umat. Inilah dasar motifasi saya dalam meniti hidup panggilan saya.

Meniti panggilan di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang

Di seminari ini pula, saya merefleksikan secara serius arah panggilan hidupku. Saya terus melakukan discernment dan bertanya: “Apakah Tuhan sungguh memanggilku? Ataukah saya hanya merasa dipanggil? Apakah saya sendiri dengan sengaja memasukan diri kedalam jaring perangkap penangkap panggilan” Di dalam refleksi, saya menemukan sebuah jawaban bahwa Tuhan sungguh memanggilku. Kesungguhan bahwa Tuhan yang memanggilku membuat saya semakin yakin bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai dan membimbing perjalanan panggilanku.

Karena itu, saya tidak perlu takut, tidak perlu cemas dan khawatir akan perjalanan panggilan dan tujuan hidupku. Sebaliknya sikap yang mesti saya tumbuhkembangkan adalah sikap terbuka, pasrah, dan percaya kepada penyelenggaraan Ilahi. Seminari Menengah Santo Paulus Palembang menjadi langkah awal untuk menjalani hidup sebagai calon imam. Saya tidak tahu persis mau menjadi imam apa kelak : SCJ? Diosesan KAPal? Pokoknya jalani proses dengan sebaik mungkin, itu saja niat saya waktu itu.

Saya menikmati dan menjalani proses pembinaan dengan berusaha sebaik-baiknya. Saya merasa semakin berkembang dalam olah rohani. Saya semakin tahu bagaimana belajar dengan baik. Apalagi situasi memaksa yakni mayoritas angkatan saya adalah orang-orang yang ‘lima kilo lebih maju’ dalam intelektual, dibangdingkan dengan saya yang berangkat dari ‘kilo meter nol’. Hanya lulusan SMA PL Sukaraja. Saya menikmati hari-hari sebagai calon imam dengan penuh semangat. Pola hidup 4 S (Santitas, Scientia, Sanitas, Sosialitas) menjadi pola dasar yang terus dikembangkan dan dihidupi sebagai calon imam.

Motivasi saya masuk Seminari Menengah adalah ikut-ikutan dan ingin menjadi imam. Keinginan menjadi imam karena melihat kenyataan bahwa di paroki saya sangat kekurangan pelayanan imam, terutama di Stasi-stasi. Sebuah motivasi yang praktis, muncul dari pengalaman hidup yang nyata.

Selama menimba panggilan di Seminari Menengah, saya mengalami kebahagiaan selama pembinaan. Secara khusus dalam beberapa peristiwa penting. Pertama,saya bisa mengembangkan diri dalam pembinaan dengan lancar. Bukan berarti tanpa perjuangan dan usaha. Kedua, saya merasa angkatan kami sangat kompak dan saling mendukung. Sehingga keterbatasan saya ‘terkikis’ dengan kesempatan belajar dan bantuan dari teman-teman. Ketiga, saya mampu memutuskan pilihan untuk menjadi calon imam diosesan KAPal. Saya belum pernah menyesal dengan pilihan ini. Bukan hal mudah bagi saya dalam menentukan pilihan ini apalagi secara umum Diosesan dianggap jelek di mata umat. Saya berani memutuskan pilihan Diosesan karena begitulah suara hati saya begitu kuat untuk memilih hal itu. Keempat, lamaran saya diterima oleh Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ.

Terpikat Keuskupan Agung Palembang

Saat pemilihan akhir saya mengalami kebimbangan dalam memilih dan akhirnya saya menjatuhkan pilihan saya  unuk melamar menjadi calon imam Keuskupan Agung Palembang. Saya memilih Keuskupan Agung Palembang denga motivasi “Aku cinta Keuskupanku”. Motivasi ini lahir karena saya melihat bahwa imam di Keuskupan ini masih sedikit, terlebih pelayanan di paroki asal saya yang masih belum lancar dilayani oleh imam karena jumlah imam yang sedikit itu. Motivasi ini terus saya gali sampai saya memantapkan diri untk menjadi imam Keuskupan Agung Palembang.

“Tinggal, belajar dan mengembangkan iman bersama umat ”. Inilah motivasi yang sampai saat ini saya hidupi dan terus saya perjuangkan. Motivasi ini terus saya olah dan kembangkan dengan menikmati rangkaian kegiatan selama di STSP. Tugas-tugas seksi saya coba jalankan dengan sebaik mungkin. Tugas-tugas yang diberikan kepada saya, saya emban dengan penuh tanggungjawab dan saya sadari tugas ini telah membantu saya semakin berkembang dalam menjalani dan menghidupi panggilan saya

Tahun-tahun Menggembleng Panggilan

Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar, tempat bina ini adalah awal saya meniti panggilan saya sebagai calon imam diosesan KAPal, tentu dibuka dengan pembinaan rohani di TOR Santo Markus (2008-2009). Selama menjalani hidup di TOR saya menyadari bahwa Saya tidak pernah merasa spesial dengan siapa pun. Saya sulit menonjokan diri diantara yang lain (diantara teman-teman). Saya juga tidak bermimpi menjadi orang yang spesial dan terkenal. Saya lebih suka menjadi orang yang biasa-biasa saja, tidak hebat-hebat.

Selama menjalani masa pembinaan di TOR dan di STSP saya belajar bagaimana bergaul dengan teman-teman yang berbeda latar belakangnya (suku, seminari menengah, karakter, dll). Saya semakin intensif menata diri supaya kelak menjadi imam diosesan KAPal yang berkualitas (kualitas dalam kepribadian, kualitas dalam hidup rohani, kualitas dalam pengetahuan dan berkualitas dalam berpastoral).

Tahun 2010-2017 Saya dipercaya untuk mengemban pendidikan di STFT Santo Yohanes Pematangsiantar dan menjalani formatio di Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar. Di universitas ini, aku belajar filsafat dan teologi. Pembelajaran mata kuliah tersebut tidaklah menggoncangkan imanku dan tidak pula membuat saya menjadi ateis, sebaliknya pembelajaran itu semakin meneguhkan imanku kepada Kristus. Saya semakin mencintai Kristus dan menempatkan Kristus sebagai pusat dari hidup panggilanku. Saya menyadari mengikuti proses studi di kampus bukanlah hal yang gampang saya harus berjuang keras agar dapat menangkap dan mengerti materi yang dosen berikan.

Tahun 2014-2015, saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di unit pastoral Santo Paulus Ketahun. Di Unit pastoral tersebut, saya belajar mengenal situasi umat, belajar mengenal karya-karya parokial, dan belajar menjadi seorang gembala yang baik, sebagaimana Yesus yang adalah gembala yang baik (lih. Yoh 10). Pengalaman selama TOP sungguh memperkaya dan meneguhkan perjalanan panggilanku. Hal ini saya yakini sebagai bekal bagi karya pelayanan yang kelak akan dipercayakan kepadaku.

Tahun 2015-2017, saya melanjutkan pembelajaranku di STSP menyelesaikan studi teologi dan jenjang imamat, pelajaran yang baru saja saya terima semakin menyadarkan dan menegaskan identitasku bahwa saya ini hanyalah seorang pelayan. Pelayan yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani (Bdk. Mat 20 : 28). Spiritualitas pelayanan inilah yang ingin saya kembangkan dari hari ke hari.

Perutusan yang baru

Sejak tanggal 25 Juli 2017 saya tinggal Paroki Santo Yoseph Palembang, di tempat inilah saya menjalani masa penpas dan masa persiapan tahbisan diakonat serta masa diakonat. Pada masa ini, saya berusaha memberanikan diri masuk ke aneka pelayanan yang ada di paroki. Saya sadar hidup di Santo Yoseph itu tidak gampang segala mata tertuju kesana sebab, Santo Yoseph adalah ukuran dan patokan segala hal. Saya harus memberanikan diri menyelami dunia baru ini yakni terjun kedalam kehidupan dan kesibukan Santo Yoseph.

Banyak rahmat yang saya peroleh dari pengalaman perjumpaan dengan umat Allah. Pengalaman tersebut meneguhkan panggilan dan proses berpastoral di tempat ini. Saya bersyukur boleh mengalami semua itu dan semua itu saya yakini sebagai tanda kemurahan hati Allah. Kemurahan hati Allah inilah yang menggerakkan dan menjiwai saya untuk berbuat yang sama : “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6 : 36). Karena itu, harapanku setelah saya ditahbiskan kelak, saya ingin menjadi pelayan yang murah hati bagi seluruh umat Allah. Saya yakin dan percaya bahwa harapanku itu akan menjadi kenyataan, jika saya membuka diri kepada Tuhan sebab Tuhan pernah berjanji bahwa Ia menyertai senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28 : 20).

Perjalanan tugas peutusan Penpas saya nikmati dengan penuh keterbukaan. Saya terbuka pada realita paroki yang ada keadaan umat paroki maupun anggota komunitas pastoran Santo Yoseph. Saya bersyukur karena di paroki inilah saya belajar untuk menyiapkan diri menyambut rahmat tahbisan diakonat dan imamat. Rahmat tahbisan diakonat yang saya terima pada 7 Januari 2018 lalu semakin memantapkan diri saya akan panggilan suci ini. Saya sangat bersyukur ditempatkan di paroki ini yang kaya akan latar belakang, suku, budaya dan pendidikan. Saya belajar dari rekan sekomunitas bagaimana memberikan diri secara total dalam pelayanan pastoral di paroki ini.

Saya menyadari saya harus berjuang keras untuk masuk ke dunia kehidupan umat Santo Yoseph. Saya harus banyak mengenal orang, kelompok kategorial dan lingkungan yang begitu banyak di Santo Yoseph ini. Tidak jarang saya merasa asing di tempat ini. Apalagi kesibukan umat dan paroki yang luar biasa tidak seperti yang saya alami dan jumpai sebelumnya. Saya berusaha mengenal umat yang ada dan saya menikmati kehidupan di komunitas Santo Yoseph dengan penuh suka cita. Saya senang karena masih bisa merawat bunga yang ada di komunitas kami ini. Saya belajar menimba pengalaman bersama anggota komunitas, para karyawan dan seluruh umat yang ada di paroki Santo Yoseph. Kegiatan-kegiatan yang ada di paroki saya hidupi dan nikmati dengan penuh syukur.

Mimpi gambaran imam kelak

Di bagian akhir dari kisah perjalanan panggilanku, saya ingin merumuskan beberapa harapan/impiansebagai imam kelak. Impian saya tentang gambaran Imam Diosesan yang baik adalah Imam yang memancarkan Kasih Allah. Gambaran Imam Diosesan yang memancarkan Kasih Allah itu memiliki beberapa ciri khas, antara lain : Pertama, saya menjadi imam yang saleh, agar dapat menghantar dan membawa umat untuk semakin dekat, semakin terarah dan semakin mencintai Allah sang sumber kehidupan. Kedua, saya menjadi imam yang setia, yang peka terhadap kebutuhan umat, serta dekat dengan umatnya, sehingga umat dapat merasakan kehadiran Allah dalam diri imam-Nya. Ketiga, saya menjadi imam yang meneladan semangat hidup Sang Gembala yang baik di dalam setiap pelayanan: “Bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Keempat, saya menjadi yang murah hati dan rendah hati dalam pelayanan kepada umat Allah.

Keputusan

Pengalaman panggilan ini membawa saya untuk terus maju dengan pasti dengan moto “Ini aku utuslah aku” Yes 6:8. Saya sadar bahwa Ia memanggil saya untuk menjadi alatnya. Saya memutuskan untuk teap setia akan jalan panggilan yang telah ditanamkan dalam diri saya. “Bagaimana pun juga, Ia yang memulai pekerjaan yang baik di dalam saya, akan meneruskannya sampai pada akhirnya” Filipi 1:6.

Saya semakin memantapkan diri untuk terus menjalani panggilan ini dengan prinsip sebagaimana Yesaya wartakan Yesaya 43:5 “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau.” Jujur saya memang sering mengalami ketakutan. Takut gagal ditengah jalan. Kini ketakutan itu membawa kepastian untuk tidak takut. Jangan takut sebab Aku menyertai engkau inilah kata-kata nabi Yesaya yang menguatkan saya untuk terus menapaki hidup panggilan ini.

Catatan akhir

Bila Tuhan memanggil seseorang untuk menjadi pekerja-Nya, Ia dapat menggunakan pelbagai sarana dari yang sederhana hingga yang luar biasa, untuk menggerakkan hati setiap orang yang dipilihan-Nya hingga mereka membulatkan tekad menjalani hidup untuk berkarya di kebun anggur-Nya. Benih-benih panggilan itu muncul secara unik namun nyata sejak masa kecilnya, yang tak pernah lepas dari pembinaan iman yang setia oleh kedua orangtua, hingga turut menumbuhkan kecintaannya kepada Tuhan dan Gereja. Cinta itu membuahkan ketetapan hati untuk mengikuti panggilan Tuhan. Berbagai peristiwa dalam keseharian dipakai Tuhan untuk menyatakan penyertaanNya yang setia sepanjang perjalanan panggilan.

 

 

Leave a Reply


6 + 8 =