Sukari “ Tunjukkanlah selalu jalan lurus-Mu, ya Tuhan (Mzm 27:31 ”

May 28, 2018
Sukari  “ Tunjukkanlah selalu jalan lurus-Mu, ya Tuhan (Mzm 27:31 ”

 

Data Pribadi

 

Nama                                  : Ignatius Sukari

Tempat/Tanggal Lahir    : Kumpulsari, 09 Juni 1988

Baptis                                  : Kumpulsari, 23 Juli 1988

Krisma                                : Gereja St. Petrus Sukaraja, Paroki  Trinitas Bangunsari, 05 Juni 2004.

Nama orang tua                : Bapak Paulus Karlin & Ibu Theresia Parmiati

Adik                                     : Robertus Krisyono &  Matius Junianto

 

Riwayat Pendidikan

  • (1996-2002) : SDN 2 Sukaraja-Dalam, Buay Madang OKU Timur
  • (2002-2008) : SMP-SMAPangudi Luhur Sukaraja Dalam, Buay Madang OKU Timur
  • (2008-2009) : Seminari Menengah Santo Paulus Palembang
  • (2009-2010)  : TOR Santo Markus
  • (2010-2017)   : Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar
  • (2010-2014)   : Study Filsafat di STFT Santo Yohanes
  • (2014-2015)    : TOP di Santo Mikael Tanjungsakti
  • (2015-2017)    : Study Theology di STFT Santo Yohanes

 Perjalanan Panggilan

 

 

Sejarah panggilan

Aku telah memanggil engkau dengan namamu,

Engkau kepunyaan-Ku.

(Yes 43:1)

 Awalnya adalah keterpesonaan terhadap sosok dan pribadi para seminaris juga para romo yang pernah berkunjung dan berkarya di Paroki Trinitas Bangunsari. Keterpesonaan itu menghantar saya melangkahkan kaki semakin dekat. Keterpesonaan awal itu saya renungkan sebagai undangan awal dari Tuhan sendiri. Saya menjawab, Ya! Dalam proses bina yang saya jalani, saya semakin yakin bahwa Tuhan memanggil saya. Ia memberi kepastian “Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau kepunyaan-Ku” (Yes 43:1). Itulah keyakinan saya sehingga saya berada di Seminari, mengikuti seluruh proses bina yang ada. Di sini, di seminari, saya bertemu dengan para sahabat seperjuangan dan sepanggilan dengan cerita panggilan masing-masing. Panggilan itu unik. Tuhan tak kehabisan cara untuk memanggil siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Bersama rekan-rekan sepanggilan, kini berdua puluh dan enam dari Keuskupan yang sama, saya berada di seminari ini. Seminari ini adalah komunitas orang-orang yang terpanggil. Seminari Tinggi ini menjadi tempat menghayati, menimba pengetahuan dan iman, memupuk keyakinan akan panggilan Tuhan. Dan Tuhan sendirilah yang mempertemukan dan mempersatukan saya bersama sahabat-sahabat sepanggilan. Tuhanlah yang memilih. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” (Yoh 15:16).

Perutusan baru pun saya dapat  “ supaya kamu pergi dan menghasilkan buah ”. Kepergian itu untuk menghasilkan buah. Berbuah di tengah umat, sebab Allah yang menghendaki supaya kelak kami berada di tengah-tengah umat-Nya. Ia akan mengangkat dan menjadikan saya dan teman-teman gembala pilihan. Gembala yang sesuai hati-Nya. “Aku akan mengangkat bagi kamu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.” (Yer 3:15).

Menjadi imam (Romo atau Pastor) berarti ada dan berada untuk dan di tengah-tengah umat. Menjadi imam berarti menjadi seperti Kristus, wujud dan wajah kerahiman Allah. Yesuslah cinta sempurna Allah. Saya menjawab ya, untuk menjadi imam-Nya. Saya sadar akan segenap kelemahan dan kerapuhan saya. Saya tidaklah sempurna. Tapi saya akan selalu berusaha dan belajar terus- menerus menjadi serupa dengan Kristus, Yesus. Ia adalah gembala sejati. Hidup-Nya memancarkan kasih dan cinta Allah, selalu dan di mana-mana.

Menjadi imam berarti menjadi satu dan serupa dengan Kristus, menjadi pemimpin kehidupan dengan teladan, dan menjadi pewarta dengan berbagi pengetahuan dan pengertian tentang sabda Allah. Menjadi imam berarti menjadi pelaksana cinta Allah. Cinta dan kasih Allah sendiri yang menjiwai karya, misi dan perutusan, dan pembentuk tindakan. Menjadi imam memang tidak mudah. Tapi saya percaya Allah tidak akan berpangku tangan terhadap orang yang menjawab “Ya” atas undangan dan panggilan-Nya. Kelak saya akan menjadi imam di Keuskupan Agung Palembang di bawah pimpinan Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ dan para penggantinya.

Saya akan berusaha menjiwai imamat seperti Kristus; Imam yang memperkenalkan Allah lewat cara dan kesaksian hidup sorang imam, imam yang memancarkan kerahiman lewat tatapan yang menyejukkan, dan menjadi imam yang melihat orang lain dalam kenyataanya. (Melihat orang lain dalam kenyataanya selalu merupakan permulaan cinta. Dengan begitu, berani melepas prasangka, kepentingan-kepentingan ego, dan harapan-harapan pribadi supaya dapat dan mampu menerima orang lain apa adanya).

Saat ini saya sedang berjalan melewati jalan yang telah saya pilih dengan kehendak bebas saya. Saya telah menjawab “Ya” pada undangan dan panggilan Tuhan. Perjalanan yang sedang saya tempuh dan alami bukanlah sekedar “jalan-jalan”. Saya berjalan mengikuti JALAN itu sendiri. Ia yang mengetuk hati dan pribadi saya, mengundang saya untuk mengikuti-Nya, sebab Ia sendiri yang telah berkata “Akulah JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”. Itulah jaminan kepastian langkah perjalanan yang saya jalani saat ini.

Untuk itulah saya berada di tempat ini, merenung dan menuliskan semua ini. JALAN itu yang sedang saya ikuti. KEBENARAN itu yang sedang saya pelajari dan berusaha saya hidupi, dan HIDUP bersama dia selamanya adalah tujuan akhir perjalanan hidup saya. Dalam seluruh proses dan permenungan ini, saya menjadi semakin yakin atas jawaban saya. Saya percaya bahwa Tuhan memanggil dengan nama saya dan menjadikan milik kepunyan-Nya. ”Aku telah memanggil engkau dengan namamu, Engkau kepunyaan-Ku.” (Yes 43:1).

Seseorang pernah menulis demikian:

“Hidup kita masing-masing mempunyai tujuan. Kita diciptakan untuk menggapai tujuan itu, dan dengan demikian ikut serta dalam rencana ilahi yang lebih agung daripada yang dapat kita bayangkan. Sesungguhnya, tujuan itu menggebu-gebu dalam lubuk hati, dan mendesak untuk dipenuhi.” (Quentin Harenewert)

Tujuan menjadi pastor (imam) saya alami dari keinginan masa kecil. Saat kecil saya kagum dengan sosok dan pesona imam dan calon imam. Para seminaris yang pulang liburan tampak cerah, segar, rapi dan ceria. Juga imam yang setiap dua kali satu bulan merayakan ekaristi di stasi, tampak mempesona, pribadinya ramah penuh sapa dan tawa serta disayangi umat. Keinginan itu membawa saya melangkah lebih jauh untuk mencapainya.

Selama berjalan menapaki asa cita suci ini, saya berkeyakinan bahwa menjadi imam merupakan panggilan yang luhur dan mulia. Betapa tidak? Imam menjadi jembatan bagi Tuhan kepada manusia dan manusia kepada Tuhan. Imam menjadi Pewarta (Nabi), Guru (imam) dan Pemimpin (Raja). Imam juga penyalur rahmat dan berkat.

Memang tidak mudah bagi saya dalam berusaha menapaki asa cita suci ini. Setelah berada di seminari, bertemu dengan imam setiap hari, saya semakin memahami bahwa menjadi imam tidak mengubah seseorang menjadi sempurna seketika. Imam-imam pun tetap selalu dalam perjuangan untuk setia dan membina kepribadian. Terkadang saya menjadi khawatir, “ mampukah saya, bisakah saya, dengan segala kekurangan dan kelemahan saya ini”.

Menjadi imam tetaplah tujuan yang menjadi kerinduan saya. Sekalipun masih harus berjalan dengan segala suka-duka, tantangan dan kegembiraannya, keinginan itu tetap menggebu-gebu dalam hati. inilah yang menguatkan saya “ emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu ” (Kis 3:6).

Leave a Reply


1 + 4 =