Pesan Prapaskah Paus Fransiskus : ‘Jangan Serakah’

March 5, 2019
Pesan Prapaskah Paus Fransiskus : ‘Jangan Serakah’

Pebruari 27, 2019

Pesan Prapaskah Paus Fransiskus: ‘Jangan Serakah’

Paus Fransiskus ketika merayakan Misa di Basilika St Petrus, 2 Februari (Foto oleh Tiziana Fabi/AFP)

Masa Prapaskah mengingatkan umat Katolik bahwa mengikuti kesenangan pribadi yang berlebihan merusak persekutuan dengan Allah, dengan orang lain dan dengan ciptaan, kata Paus Fransiskus.

Kegagalan untuk hidup sebagai anak-anak Allah dapat memberi jalan kepada dosa, yang “mengambil bentuk keserakahan dan pengejaran akan kenyamanan yang tidak terkontrol, kurangnya perhatian untuk kebaikan orang lain dan bahkan diri sendiri,” kata paus dalam pesannya untuk Prapaskah, yang dimulai 6 Maret untuk umat Katolik ritus Latin.

“Jika kita tidak secara terus-menerus mengarah menuju Paskah, menuju cakrawala Kebangkitan, mentalitas yang dinyatakan dalam slogan-slogan ‘Aku menginginkan semuanya dan aku menginginkannya sekarang!’ dan ‘Terlalu banyak tidak pernah cukup,’ akan berada di atas angin, ” kata paus.

Pesan Prapaskah paus, yang dirilis di Vatikan 26 Februari, berpusat pada satu ayat dari Surat Santo Paulus kepada orang-orang di Roma di mana rasul mengungkapkan kerinduan ciptaan untuk menyatakan anak-anak Allah.

Kerinduan ini, kata paus, adalah “perjalanan dari Paskah ke Paskah menuju pemenuhan keselamatan” yang telah diterima semua orang Kristen melalui kematian dan kebangkitan Yesus.

Merefleksikan pada “perjalanan pertobatan,” Prapaskah, paus menjelaskan bahwa ketika orang Kristen hidup sebagai anak-anak Allah, semua ciptaan mendapat manfaat dari rahmat penebusan.

Namun, ia mengingatkan bahwa keharmonisan yang dihasilkan oleh penebusan terus-menerus terancam oleh kuasa dosa dan kematian.

Dosa, yang merupakan akar dari semua kejahatan, mengganggu persekutuan manusia dengan Tuhan dan “merusak hubungan kita yang harmonis dengan lingkungan” dan membuat “manusia menganggap dirinya dewa penciptaan,” kata paus.

“Ini mengarah pada eksploitasi ciptaan, baik manusia maupun lingkungan, karena ketamakan yang tak terpuaskan yang memandang setiap keinginan sebagai hak dan cepat atau lambat menghancurkan semua yang ada dalam cengkeramannya,” tambah paus.

Perjalanan menuju Paskah, lanjutnya, adalah masa di mana orang Kristen dapat memperbarui diri melalui “penyesalan, pertobatan, dan pengampunan.”

“Prapaskah adalah tanda sakramental dari pertobatan ini,” kata paus.

“Prapaskah mengundang orang-orang Kristen untuk mewujudkan misteri paskah secara lebih mendalam dan konkret dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial, terutama dengan berpuasa, berdoa, dan memberi sedekah.”

“Puasa menuntun orang-orang Kristen menjauh dari godaan untuk ‘melahap’ segala sesuatu untuk memuaskan ketamakan kita, sementara doa mengajar kita untuk meninggalkan segala bentuk berhala dan ego kita,” kata Paus Fransiskus.

Selain itu, sedekah membantu orang-orang Kristen “bebas dari kegilaan menimbun segala-galanya bagi diri sendiri, dalam keyakinan ilusi bahwa kita dapat mengamankan masa depan yang bukan milik kita.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa melalui perjalanan Prapaskah, orang-orang Kristen dapat pula membawa harapan Kristus kepada ciptaan, sehingga ia dapat terbebaskan dari ikatan untuk membusuk dan memperoleh kebebasan mulia dari anak-anak Allah.

“Jangan biarkan masa rahmat ini berlalu dengan sia-sia!” kata paus.

“Mari kita memohon kepada Tuhan untuk membantu kita memulai jalan pertobatan sejati.”

 

Sumber Berita : https://indonesia.ucanews.com

Leave a Reply


7 + 2 =