Prapaskah Mengajak Kita Mengolah Diri dan Berdamai Dengan Tuhan

March 6, 2019
Prapaskah Mengajak Kita Mengolah Diri dan Berdamai Dengan Tuhan

Prodiakon sedang memberikan abu di dahi seorang umat

Umat Katolik mulai memasuki masa Prapaskah melalui pantang dan puasa diawali dengan Rabu Abu, umat menerima abu di dahi sebagai tanda pertobatan, silih atas dosa, ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus dan berdoa bagi perdamaian dunia. Ratusan umat memadati Gereja Santo Yoseph Palembang dalam Perayaan Rabu Abu, 6 Maret 2019 pukul 05.45, 08.00 dan 18.00 Wib. Dalam Perayaan Rabu Abu pukul.05.45 Wib dipimpin oleh RD. Laurentius Rakidi, pukul 08.00 oleh RD. Markus dan pukul 18.00 dipimpin olhe RD. Stefanus Surawan didampingi oleh RD. Avien.

RD. Laurentius Rakidi dan dalam homilinya mengatakan dengan masa Prapaskah kita diajak untuk tetap bersukacita guna mengolah kehidupan kita supaya semakin tajam untuk memahami makna kehidupan dan akhirnya hidup kita sungguh berkenan di hadapan Tuhan dan sesama.

Umat menerima abu sebagai tanda pertobatan

Masa Prapakash mau mengingatkan kita bahwa hidup ini perlu diasah dan diolah supaya hidup kita menjadi semakin baik, bisa berkenan di hadapan Tuhan,  berdamai dengan Tuhan dan sesama. Tujuan pantang dan puasa hendaknya membawa kedamaian dan sukacita yang merupakan sarana untuk mendekatkan diri kita dengan Tuhan dan sesama sehingga hidup kita sungguh-sungguh bisa berdamai dengan Tuhan dan sesama serta sungguh-sungguh mengalami sukacita yang sejati.

Dalam pesan Prapaskahnya Bapa Suci Paus Fransiskus memberikan beberapa penekanan yaitu : pantang dan puasa bukan dalam arti yg lahiriah tapi adanya suatu perubahan sikap. Bapa Suci mengajak kita berpantang dari kata-kata yang menyakitkan, berpantang dari kesedihan, keluhan-keluhan, berpantang amarah, berpantang dari rasa khawatir, berpantang komplain, berpantang tekanan-tekanan, berpantang kepahitan, berpantang mengutamakan diri sendiri, berpantang bersungut-sungut dan berpantang berbicara banyak. Kita mohon agar Tuhan memampukan diri kita semua untuk  mengolah diri kita selama masa Prapaskah dan dalam kehidupan selanjutnya sehingga hidup kita semakin berkenan di hadapan Tuhan dan semakin bisa berdamai dengan Tuhan dan sesama.

 

RD. Laurentius Rakidi usai membacakan Injil dalam Perayaan Rabu Abu

Seusai memberikan homili RD. Laurentius Rakidi memberkati abu yang akan digunakan  dan memerciki dengan air suci. Kemudian RD. Rakidi membuat tanda salib dengan abu di dahi sebagai tanda pertobatan dilanjutkan dengan memberikan tanda abu di dahi para Prodiakon. Dilanjutkan dengan umat yang berbaris satu persatu untuk menerima abu dari para Prodiakon mulai anak kecil, remaja, orang dewasa dan orang tua turut ambil bagian.

Dalam masa Prapaskah umat juga diajak untuk berpantang dan berpuasa, yang wajib berpuasa adalah umat Katolik berusia 17 sampai 60 tahun serta yang wajib berpantang adalah mereka yang berusia 14 tahun ke atas.

Umat yang menghadiri Perayaan Rabu Abu di Gereja Santo Yoseph Palembang

Leave a Reply


7 + 4 =