RUANG KATEKESE

December 8, 2024
RUANG KATEKESE

Masa Adven. Struktur Liturgi Masa Adven
Masa Adven terdiri dari 4 minggu. Selain memperhatikan kesatuan tema penantian seperti yang dapat dijumpai dalam rumusan doa dan bacaan Kitab Nabi Yesaya pada Misa Harian, Masa Adven secara praktis dibentuk dalam dua periode : Pertama sejak hari Minggu Adven pertama sampai 16 Desember : lebih diutamakan penantian eskatologis ; umat diajak merenungkan misteri edatangan mulia Kristus pada akhir zaman ; didukung oleh bacaan-bacaan Misa, khususnya kutipan dari kitab para nabi, terutama Yesaya. Kedua, dari 17 Desember sampai 24 Desember, baik dalam Ekaristi maupun Ibadat Harian, semua rumusan diarahkan lebih jelas kepada persiapan menyongsong perayaan Natal, dengan seruan Yohanes Pembaptis dan kisah Maria dan Yusuf.

Teologi Masa Adven.
Adven mengandung isi teologis yang kaya karena merangkum keseluruhan misteri kedatangan Tuhan di dalam sejarah sampai kepada pemenuhannya. Berbagai aspek dari misteri ini saling berkaitan satu sama lainnya, yang justru sekaligus mendasari kesatuan pewartaan yang mengagumkan :
Adven mengingatkan dimensi historis-sakramental keselamatan Tuhan yang dinantikan adalah Tuhan di dalam sejarah umat manusia . Tuhan itu telah datang sepenuhnya dalam diri Yesus dari Nazaret demi keselamatan umat manusia. Dalam diri Yesus inilah Allah menampilkan wajah-Nya (bdk. Yoh 14:9). Dimensi historis pewahyuan diri ini menunjukan betapa konkretnya penyelamatan; manusia dalam keseluruhan hakikatnya dan
menyangkut seluruh umat manusia di atas muka bumi ini.

Adven adalah masa liturgi yang menampilkan secara jelas dimensi eskatologis kehidupan para pengikut Kristus. Allah telah memelihara kita demi keselamatan kita (bdk. 1 Tes. 5:9) ; suatu warisan yang akan tampak secara sempurna pada akhir zaman (bdk. 1 Ptr. 1:5).
Sejarah kehidupan manusia adalah pelaksanaan secara aktual janji-janji Allah yang mengarah kepada Hari Tuhan (bdk. 1 Kor.1:8; 5:5). Kristus sungguh datang dalam wujud daging manusia. Ia pun akan tampil dan menampakkan diri sebagai yang telah bangkit setelah mengalami kematian kepada para rasul dan para saksi mata pilihan Allah (bdk. Kis. 10:40-42; dan ia akan menampakkan diri-Nya pada akhir zaman (bdk. Kis. 1:11).
Dalam pengembaraannya di dunia ini, Gereja hidup dalam kelangsungan proses antara sudah diselamatakan Kristus dan belum terwujudnya keselamatan itu sepenuhnya didalam diri kita sampai kedatangan Kristus yang diutus Bapa, serta berpangkal pula pada kedatangan Roh Kudus yang diutus oleh Bapa dan Putra.

Spiritualitas Masa Adven
Masa adven mengajak umat sekalian untuk menghayati beberapa sikap dasar demi pengungkapan semangat injili di dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu sikap siap siaga menanti dengan gembira, optimisme dalam pengharapan, sikap bertobat dan berpaling kepada Bapa.
Sikap menanti dengan gembira dan penuh harapan adalah ciri sikap Gereja dan segenap umat beriman sebab Allah yang mewahyukan diri kepada kita adalah Allah yang berjanji bahwa Kristus adalah kepenuhan janji Allah; Kristus adalah Kabar Gembira; dalam Kristus dan melalui Kristus Allah menyatakan kesetiaan-Nya dalam kepastian-Nya kepada manusia, “sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan ‘amin’ untuk memuliakan Allah” (2 Kor. 1:20).

Selama masa adven Gereja tidak seperti orang Yahudi yang masih
menantikan Mesias terjanji. Gereja bahkan menghidupkan penantian Israel dalam tingkat kenyataan yang sudah ada, dan bukti kenyataan itu adalah Yesus Kristus. “Karena kita sekarang melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” (1 Kor. 13:12). Gereja menghayati penantian ini dalam sikap berjaga-jaga penuh
kegembiraan; oleh karena itu, Gereja berdoa ‘maranatha’ : datanglah Ya Tuhan Yesus (bdk. Why. 22:17.20). jadi, merayakan adven berarti merayakan misteri Allah pokok pengharapan kita” (bdk. Rm. 8:24-25). Sejak minggu I adven, Mazmur 24/25 selalu didengungkan, “… barang siapa berharap pada-Mu, tak pernah akan dikecewakan.”

Allah yang masuk ke dalam sejarah hidup manusia itu menghayati
kehidupan sebagai manusia. Jadi, kehidupan manusia menjadi fokus. Kedatangan Allah dalam pribadi Putra meminta sikap tobat yang terus-menerus. Berita Injil dalam pribadi Kristus menuntut kesediaan yang pasti untuk “… bangun dari tidur” (bdk. Rm 13:11-14). Terutama lewat seruan Tobat Yohanes Pembaptis, Gereja mengajak kita mempersiapkan jalan bagi Tuhan dan menjemput Tuhan yang datang.
Akhirnya, Adven mendidik kita untuk menghayati sikap “para miskin
Yahwe” yang lembut hati, rendah hati, selalu siap sedia demi kebaikan, yang dijuluki Yesus: kaum yang berbahagia (bdk. Mat.5:3-12).

Serba-serbi. DOGMA MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

8 Desember 1854 dalam bulla Innefabilis Deus. Dogma ini menyatakan dengan tegas bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal. Dogma
menyebutkan bahwa dari saat pertama keberadaannya ia dijaga oleh Tuhan dari segala kehilangan kekudusan yang merundung manusia. Sebaliknya ia dipenuhi oleh rahmad ilahi. Lebih jauh lagi dipercaya bahwa Bunda Maria sepanjang kehidupannya terbebas sepenuhnya dari dosa.
Gereja Katolik percaya bahwa dogma ini didukung oleh Kitab Suci.

Misal : Maria disapa oleh malaikat Gabriel sebagai yang penuh rahmad atau yang sangat dicintai oleh sensus fides yang sering menggelari Bunda Maria sebagai sang Perawan Suci (Luk 1 : 28). Teologi Katolik menyatakan bahwa oleh karena Yesus menjadi daging didalam tubuh sang Perawan, maka adalah satu hal yang bisa diyakini apabila Bunda Maria bebas dari segala dosa. Karena itulah ia bisa menyatakan penyerahan dirinya atas kehendak ilahi.

Bagi Gereja Katolik dogma ini menjadi penting setelah penampakan Bunda Maria di Lourdes. Empat tahun setelah pengajaran oleh Paus Pius IX, (1858) Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, Prancis (di grotto Massabielle) selama 18 kali kepada Bernadette Soubirous, gadis berumur 14 tahun. Dalam penampakan yang ke 16 Bunda Maria mengatakan bahwa dirinya sebagai Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa atau the immaculate conception, yang oleh Bernadette tidak dipahami maknanya karena ia gadis desa yang buta huruf. Pernyataan Bunda Maria ini mengkonfirmasi ajaran Paus Pius IX dan dengan demikian membuktikan infalibitas ajaran tersebut.

Penampakan di Lourdes oleh Gereja Katolik telah diakui sebagai penampakan yang otentik. Dogma ini telah dirintis oleh Paus Sixtus IV pada abad 16 diteruskan sampai zaman Paus Pius IX (abad 19). Namun sesungguhnya pengajaran tersebut sudah merupakan hal yang diyakini oleh Gereja sejak abad awal seperti yang dinyatakan oleh St. Ephraem (abad 4), St. Agustinus (abad 5) berdasarkan pemikiran St. Irenius (abad 2).
Sumber : Katolisitas.org

Leave a Reply


3 + 8 =