RUANG KATEKESE

February 22, 2025
RUANG KATEKESE

Hari Sabat: Sabtu atau Minggu?

Beberapa Gereja Protestan dari denominasi Adven Hari Ketujuh, Baptis Hari Ketujuh, dan beberapa Gereja Protestan lainnya menuduh Gereja Katolik mengubah hari Tuhan-hari untuk berhenti beraktivitas supaya hanya memuji dan memuliakan Allah- dari hari Sabtu ke hari Minggu. Menurut mereka, para pengikut Kristus seharusnya menguduskan hari Sabat, dan itu adalah hari Sabtu. Tuduhan atau klaim semacam ini sebetulnya diasalkan pada sebuah buku karya Ellen G. White, pendiri Gereja Protestan denominasi Adven Hari Ketujuh. Buku yang diberi judul The Great Controversy (terbit tahun 1858) itu mengklaim bahwa Gereja Katolik telah mengubah hari Sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu sejak masa pemerintahan Kaisar Konstantinus (abad ke-4 M), karena ingin menyesuaikannya dengan perayaan keagamaan orang Romawi kafir, yakni Hari Matahari (the day of the Sun), dan itu adalah hari Minggu (Sunday).

Bagaimana seharusnya menyikapi hal ini? Betul bahwa Perjanjian Lama menyebut ‘hari ketujuh’, tetapi apakah hari ketujuh itu adalah hari Sabtu atau hari Minggu tidak dikatakan secara jelas. Hari ketujuh dianggap sebagai hari Sabtu itu murni tradisi Yahudi. Sebagai orang Katolik, kita seharusnya tidak ikut-ikutan memahami hari Sabat sebagai hari Sabtu. Pemahaman kita seharusnya berpusat pada terang Perjanjian Baru dan ajaran Yesus Kristus itu sendiri. Jika tidak demikian, bagaimana kita bisa memahami reaksi Yesus terhadap orang Farisi yang menuduh murid-murid-Nya melanggar hari Sabat (Mat. 12:1-8; Luk. 13:10-16), ketika Dia menegaskan bahwa ‘Anak Manusia memang lebih besar dari hari Sabat?’ Juga bahwa ‘Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat’ bahwa ‘Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.’ Demikianlah, sejak Perjanjian Baru, orang Kristen tidak lagi mengikatkan diri pada hari Sabat dan tuntutannya, melainkan kepada Hari Tuhan, yakni Hari Minggu (Kis 2:7; 1Kor 16:2; Kol 2:16-17, Why 1:10. Lihat juga KGK 2173). Benar bahwa Gereja Katolik, berdasarkan otoritas Yesus Kristus, mengubah tradisi hari Sabat Yahudi dari hari Sabtu ke Hari Tuhan (hari Minggu). Memang ada tradisi yang mengasalkan perubahan ini padamasa kekuasaan Konstantinus di abad ke-4 masehi. Tetapi sebenarnya jauh sebelum itu, karena berdasarkan pada cara pandang dan sikap Yesus sendiri terhadap hari Sabat.

Sejak Perjanjian Baru, hari Sabat atau Hari Tuhan itu adalah hari Minggu atau hari kedelapan atau hari pertama dalam pekan. Bagi orang Katolik, dua hal penting terjadi pada hari Minggu. Pertama, kebangkitan Tuhan Yesus terjadi pada hari Minggu Paskah, yakni hari pertama dalam minggu (lih. Yoh. 20:1 dst). Kedua, Roh Kudus turun atas Gereja dan para murid pada hari Minggu Pentakosta (lih. Kis 2:1 dst). Juga setelah kebangkitan, Yesus dua kali menampakkan diri-Nya kepada para murid di hari Minggu (Yoh. 20:19, 26). Inilah sebabnya mengapa orang Katolik memaknakan hari Minggu sebagai Hari Tuhan (Lord’s Day).Demikianlah, harus dikatakan bahwa Gereja Katolik berdasarkan otoritas Yesus Kristus sendiri memaknakan hari Sabat sebagai Hari Tuhan, dan itu adalah hari Minggu. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan ini dalam dua perspektif (lih. KGK 2174-2175). Pertama, hari Minggu sebagai hari kebangkitan dan hari ciptaan baru. Kebangkitan Yesus Kristus pada hari pertama dalam minggu (Hari Minggu) mengingatkan kita akan ‘penciptaan pertama’. Dan sebagai ‘hari kedelapan’ sesudah Sabat menunjuk kepada ciptaan baru yang datang sesudah kebangkitan Kristus. Kedua, hari Minggu sebagai penyempurnaan hari Sabat. Di sini hari Sabat tentu berbeda dengan hari Tuhan (hari Minggu). Sebagai penyempurnaan hari Sabat, orang Kristen merayakan hari Tuhan sehari sesudahnya. Sebagai realisasi dari Paskah Kristus, hari Minggu memenuhi arti rohani sebagaimana yang hendak dicapai dalam hari Sabat. Di hari Minggu, seluruh tuntutan Sabat, terutama pentingnya beristirahat dari segala aktivitas manual demi memuji dan memuliakan Allah, kini mendapatkan kepenuhannya, yakni ‘memberitakan istirahat abadi di dalam Allah’.

Apa yang dapat disimpulkan dari uraian ini? Pertama, hari ketujuh dalam tradisi Yahudi adalah hari Sabtu dengan seluruh kewajiban hukum dan ritual yang menyertainya. Orang Katolik tidak mengikatkan diri pada hari Sabat (Yahudi) karena Tuhan Yesus sudah menyempurnakannya menjadi hari kedelapan (satu hari sesudah Sabat) atau hari pertama dalam minggu. Itulah hari Tuhan. Kedua, hari Minggu adalah hari Paskah Kristus. Kebangkitan Kristus telah menyempurnakan Sabat (Yahudi), yakni menegaskan sebuah penciptaan dan penegasan akan penciptaan yang baru, yakni keselamatan manusia yang berpusat pada diri Yesus Kristus. Ketiga, tuduhan apapun dan dari pihak manapun bahwa Gereja Katolik mengganti hari Sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu adalah tuduhan yang tidak berdasar, baik dari segi fakta historis maupun pemahaman doktriner Gereja Katolik itu sendiri. Semoga bermanfaat.

Serba-serbi Mengenal Warna Liturgi

Warna Putih/Kuning/Emas

Warna putih/kuning/emas melambangkan sukacita dan kemenangan, kekudusan dan kemurnian, serta cahaya ilahi dan kebangkitan. Melalui warna ini, kita diingatkan akan peristiwa gembira dalam kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda-Nya, juga kesucian para orang kudus. Warna ini juga digunakan dalam ibadat harian dan misa pada Masa Paskah dan Natal, pada perayaan-perayaan Tuhan Yesus (kecuali peringatan sengsara-Nya), begitu pula pada Pesta Santa Perawan Maria, para malaikat, para kudus yang bukan martir, pada Hari Raya semua Orang Kudus.

Warna Merah

Warna merah melambangkan darah, pengorbanan Kristus dan para martir-Nya. Merah juga melambangkan api kasih Allah yang bernyala-nyala. Warna ini digunakan pada hari Minggu Palma memperingati Sengsara Tuhan dan pada hari Jumat Agung; pada hari Minggu Pentakosta, dalam perayaan-perayaan Sengsara Tuhan, pada pesta para rasul dan pengarang Injil, dan pada perayaan-perayaan para martir.

Warna Hijau

Warna hijau melambangkan kesuburan, pepohonan dan tunas-tunas hijau, yang melambangkan harapan dan pengharapan besar dalam misteri keselamatan Allah. Warna ini digunakan dalam ibadat harian dan misa selama Masa Biasa sepanjang tahun.

Warna Ungu

Warna Ungu melambangkan simbol bagi kebijaksanaan, keseimbangan, sikap berhati-hati, mawas diri dan kerendahan hati. Warna ini digunakan dalam Masa Adven dan Prapaskah. Tetapi dapat juga digunakan dalam ibadat harian dan misa arwah.

Warna Merah Muda

Warna Merah Muda melambangkan sukacita dan cinta kasih. Warna ini digunakan pada hari Minggu Gaudete (Minggu Adven III) dan hari Minggu Laetare (Minggu Prapaskah IV).

Leave a Reply


7 + 1 =