RUANG KATEKESE

May 21, 2025
RUANG KATEKESE

Bulan Liturgi Nasional

Bulan Mei selain menjadi bulan khusus untuk Bunda Maria, Gereja Indonesia mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Liturgi Nasional. Pada bulan liturgi Nasional ini Gereja diharapkan supaya Liturgi mendapat perhatian khusus selama bulan Mei : dialami, dirancang, disiapkan, dan dilaksanakan dengan lebih baik. Untuk kegiatan pendalaman liturgi, kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang disiapkan Komisi Liturgi Keuskupan Agung Palembang dan Komisi Liturgi KWI. Yang menjadi perhatian dalam pendalaman bulan Liturgi Nasional tahun ini adalah mengenai Doa Syukur Agung. Doa Syukur Agung adalah pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi. Karena begitu sentral dan pentingnya DSA, maka aturan di sekitar DSA sangat terinci dan boleh dikatakan sangat ketat. Mengapa? Karena dalam DSA dihadirkan seluruh misteri penebusan Kristus bagi kita di atas altar. Dari sisi teologis, dalam DSA seluruh misteri karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui peristiwa Yesus Kristus yang berpuncak dalam wafat dan kebangkitan-Nya kini dirayakan oleh seluruh Tubuh Mistik Kristus, yaitu Kristus dan Gereja-Nya, berkat Roh Kudus. Secara liturgis, perayaan misteri penebusan Kristus itu dipimpin oleh imam yang in persona Christi dan pelayan seluruh Gereja, dalam bentuk perjamuan sakramental di altar.

Dari sisi yuridis, validitas atau sahnya perayaan Ekaristi tergantung pada materia yang digunakan (roti dan anggur) dan forma sacramenti-nya, yakni keseluruhan DSA sebagai satu kesatuan untuk Ekaristi. DSA harus didoakan oleh pelayan yang sah (yaitu imam yang sah dan tak terkena hukuman). Pengaturan yang jelas dan tegas secara yuridis ini sebenarnya hanya mau menjamin agar perayaan Ekaristi itu sungguh suatu perayaan yang menghadirkan misteri penebusan Kristus itu, sehingga pada gilirannya keselamatan kita juga terjamin! Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) menerangkan Doa Syukur Agung (DSA) sebagai berikut :
“Pusat dan puncak seluruh perayaan sekarang dimulai, yakni Doa Syukur
Agung, suatu doa syukur dan pengudusan. Imam mengajak jemaat untuk
mengarahkan hati kepada Tuhan dengan berdoa dan bersyukur. Dengan demikian, seluruh umat yang hadir diikutsertakan dalam doa ini. Ini disampaikan oleh imam atas nama umat kepada Allah Bapa, dalam Roh
Kudus, dengan pengantaraan Yesus Kristus. Adapun maksud doa ini ialah agar seluruh umat beriman menggabungkan diri dengan Kristus dalam memuji karya Allah yang agung dan dalam mempersembahkan kurban.”(PUMR 78)

Istilah dan Makna Doa Syukur Agung. Istilah Doa Syukur Agung dipakai untuk menerjemahkan kata Latin prex eucharistica. Dalam bahasa Yunani, eucharistia, berarti puji syukur. Kata eucharistia merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani berakhah yang merupakan doa berkat dalam tradisi perjamuan makan Yahudi. Maka istilah DSA menunjuk pada isi dan sekaligus bentuk seluruh Perayaan Ekaristi; yakni puji syukur atas misteri karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Itulah
sebabnya dari awal hingga akhir DSA, warna dan suasananya adalah pujian dan syukur kepada Allah Bapa, dengan pengantaraan Yesus Kristus, dan dalam Roh Kudus. Istilah lain DSA yang dipakai di Gereja Barat ialah canon [bhs.Latin]. Canon berasal dari bahasa Yunani kanon, yang berarti : patokan, garis petunjuk, aturan, pedoman. Seperti sebuah garis yang menjadi patokan, canon dipakai untuk mengukur apakah sesuatu sudah lurus, benar, atau malah menyimpang. Kata canon untuk DSA ini merupakan singkatan dari Canon actionis gratiarum; yakni norma atau
patokan untuk tindakan memuji dan bersyukur atau ber-Ekaristi.

Isi Doa Syukur Agung
a. Permohonan. Doa Syukur Agung [DSA] juga memuat doa permohonan. Tapi doa permohonan dalam DSA berbeda dengan doa umat. Doa permohonan dalam DSA terutama untuk mendoakan kepentingan seluruh Gereja, baik pimpinan, umat yang berkumpul, maupun seluruh anggota Gereja, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Doa permohonan dalam DSA meliputi: (1) doa untuk Paus sebagai pemimpin Gereja seluruh dunia dan wakil Kristus di dunia. Dengan menyebut nama Paus, kita menyatakan kesatuan dengan seluruh umat beriman yang disatukan oleh Paus; (2) menyebut uskup setempat. Ini mengungkapkan kesatuan dengan Gereja setempat yang dipimpin uskup; (3) doa untuk para imam, diakon, yang ditahbiskan untuk membantu uskup; (4) doa untuk seluruh umat beriman; (5) doa untuk umat beriman yang sudah meninggal. Dalam DSA II dan III, disebutkan nama orangorang yang sudah meninggal yang secara khusus didoakan dalam Ekaristi; agar mereka diperkenankan menikmati kebahagiaan abadi di surga. Dalam doa permohonan dikenangkan pula para kudus di surga. Ini menunjukkan kesatuan Gereja, yang terdiri dari mereka yang masih hidup dan berziarah di dunia, dan mereka yang telah meninggal. Kita membedakan mereka yang sudah meninggal dan membutuhkan doa-doa agar diterima di surga; dengan mereka yang sudah masuk surga, yaitu : para kudus. Kita berharap agar para kudus mendoakan kita yang masih ada di dunia ini. Dari barisan para kudus di surga, yang disebut pertama adalah Santa Perawan Maria, Bunda Allah, karena Bunda Maria adalah orang yang paling dekat dengan Tuhan Yesus.

b. Doxologi Penutup. Bagian terakhir dari Doa Syukur Agung (DSA) adalah doxologi penutup. Doxologi berasal dari kata Yunani doxa, artinya : kemuliaan. Rumusan doxologi penutup semua sama dalam DSA. Imam
menyanyikan/mengucapkan: “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan, sepanjang segala masa.” Umat menjawab dengan mantap dan meriah: “Amin”. Kata “amin” berasal dari bahasa Ibrani “amen”, artinya: “Setuju, ya demikianlah”. Yang diamini adalah pujian syukur dan hormat kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Pujian syukur ini sebenarnya sudah dilambungkan umat sepanjang DSA. Tapi, di akhir DSA dilambungkan pujian syukur penutup. Itulah sebabnya maka disebut doxologi penutup. Jawaban “Amin” dari umat sebenarnya tidak hanya mengamini pujian syukur pada doxologi penutup ini saja, tetapi juga mengamini seluruh DSA yang telah didoakan oleh imam.

Serba-serbi

Ketika Menghadapi Masalah. Apakah yang kita lakukan ketika menghadapi sebuah masalah? Mungkin kita mengatakan bahwa kita cukup cerdas untuk menyelesaikan sebuah masalah yang kita hadapi. Yang lain mungkin berkata bahwa masih ada saudara yang akan menolong untuk keluar dari permasalahan itu. Dalam hal ini, jawaban yang selalu diberikan adalah berpusatkan kepada diri sendiri dan mengandalkan kekuatan orang lain. Tapi dalam segala hal, kita harus berpedoman kepada Tuhan dan memohon perlindunganNya, agar kita diberi kekuatan arahan dan tuntunan yg akan membawa kepada jalan keluar. Pikiran kita yang cerdas, otot kita yang kuat, saudara kita yang kaya adalah kekuatan yang patut dibanggakan. Padahal semua itu adalah Lemah dan tak dapat diandalakan kerena tak dapat berbuat apa-apa Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan itu maha kuasa, berarti Dia adalah kuat dan lebih daripada yang kuat tapi kenapa kita tidak mengandalakan Dia? Kenapa ketika masalah semakin rumit dan kelihatan tak ada jalan keluar baru kita datang kepada-Nya?
Mari kita menyerahkan segala hal keinginan kita kepada Tuhan. Jangan
melihat kekuatan sendiri dan org lain di dlam menghadapi segala sesuatu, tapi mari untuk membiasakan diri melihat kekuatan Tuhan yang Maha Dahsyat dengan selalu berdoa Kepadanya. Sebab Yeremia berkata
“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh
harapannya Pada Tuhan”. Yer. 17:7. ****

Leave a Reply


3 + 4 =