Umat Diajak Untuk Melayani Tanpa Keuntungan

April 3, 2021
Umat Diajak Untuk Melayani Tanpa Keuntungan

Rangkaian Perayaan Paskah 2021 umat Katolik diawali dengan Minggu Palma yang diadakan 25 Maret 2021 lalu, kemudian memasuki tri hari suci, terdiri dari : Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah dan berakhir Minggu Paskah. Perayaan Kamis Putih di Gereja Santo Yoseph Palembang berlangsung 1 April 2021 pukul 17.00 yang dipimpin oleh RD. Joko Susanto Silvester dan pukul 20.00 Wib dipimpin oleh Rm. Hans Rettob, MSC.

Perayaan Kamis Putih Kamis Putih adalah hari ketika Yesus merayakan Paskah terakhirnya dengan murid-murid-Nya. Yesus memimpin murid-muridnya dalam tindakan pertama persekutuan di mana ia melambangkan kematian dan kebangkitan-Nya melalui roti dan anggur Perjamuan Paskah. Pada hari Kamis Putih sebelum penyalibanNya Yesus memberi murid-muridnya mandat atau perintah baru untuk saling mengasihi. Selain merayakan perjamuan bersama Tuhan juga dilakukan upacara mencuci kaki yang mengingatkan umat Katolik akan pengorbanan Yesus yang tidak mementingkan diri serta panggilan untuk saling mengasihi dan melayani.

Dalam homilinya RD. Joko Susanto Silvester mengatakan ada 2 unsur yang ada di dalam Perayaan Kamis Putih yang dilakukan tradisi Gereja. Kamis Putih menjadi bagian Misa Krisma, dengan pemberkatan minyak dan pembaharuan janji imamat di hadapan Uskup, para imam ditetapkan, diingatkan kembali akan tugas dan tanggung jawabnya dengan pembekalan dan meterai tugas imamat yang ada. Pembekalan dengan menerima minyak yang telah di berkati, yaitu : minyak katekumen, krisma dan pengurapan untuk orang sakit, sebagai bekal dan sarana pelayanan para iamam yang melayani hendaknya memampukan diri bersama dengan kekuatan perjamuan yang dirayakan dalam imam menghadirk Yesus.

Ekaristi mengingatkan kembali akan pelayanan kaum tertasbih oleh Uskup sekaligus pemberian bekal dalam melaksanakan tugas pelayanan. Imam diingatkan tri tugasnya sebagai imam, raja dan nabi melalui tahbisan dan diterima oleh umat dengan pembaptisan. Umat mendapatkan imamat umum dan kita semua diajak mengarahkan kepada kesempurnaan sebagaimana dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Melalui perjamuan malam terakhir Yesus mengungkapkan rasa cintanya kepada muridnya secara totalitas dan bahkan memberikan diri, tubuh dan darahnya sebagai jaminan untuk mendapatkan hidup yang kekal.

Teladan yang diwariskan kepada murid dengan membasuh kaki adalah sarana Yesus menampilkan diri sebagi seorang hamba, belajar untuk rendah hati dicontohkan Yesus dengan membasuh kaki murid-muridNya. Kita sebagai pengikut Kristus pada masa kini maka kesaksian iman Katolik sangat diperlukan dengan melayani kepada siapapun tanpa harus meminta keuntungannya. Inilah Kekatolikan kita yang kita contoh keteladan Kristus yang merendahkan diri sampai mengosongkan diri menjadi seorang hamba.

Semoga kita semua yang mengaku diri sebagai pribadi pengikut Kristus bisa memberi contoh yang baik yang telah diterima dengan teladan, diwujudkan di tengah keluarga, lingkungan maupun di tengah masyarakat.

Seusai Perayaan Kamis Putih dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus menuju ke Gedung Aula Serbaguna untuk ditahtakan dan diteruskan dengan Tuguran berjaga bersama Tuhan Yesus menemani detik-detik terakhir sebelum penderitannya hingga wafat di kayu salib.

Leave a Reply


7 + 1 =