SPIRITUALITAS PERKAWINAN

August 26, 2024
SPIRITUALITAS PERKAWINAN
  1. Allah Sang Kreator Perkawinan
    “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan
    PENOLONG baginya yang sepadan dengan dia.” Berbicara tentang spiritualitas, tentu nilai-nilai rohani itu akan semakin terlihat secara nyata dalam kitab suci. Bercermin pada Kitab kejadian 2: 18: “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Akuakan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”, menandaskan bahwa lembaga perkawinan itu didirikan oleh Allah sendiri. Keberadaan wanita sebagai pribadi melengkapi suaminya sudah ditunjukkan dalam kisah tentang penciptaan wanita (Kej 2, 1825), dimana wanita diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk laki-laki, mahluk penolong yang sepadan “ēzer” (Gen 2, 18). Kitab kejadian menunjukkan pentingnya seorang teman yang sepadan dan bisa menjadi penolong, dan itulah peranan seorang isteri/suami. Kehadiran seorang isteri/suami sangat penting dalam mengemban rencana dan proyek Allah yang dipercayakan kepada manusia. Menjadi jelas bahwa keberadaan pria dan wanita dengan segala bentuk relasinya di dalam sebuah keluarga adalah relasi yang komplementer. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Allah menangkap kebutuhan dasar manusia ini, maka Allah berinisiatif untuk menyatukan pria dan wanita dalam institusi keluarga.
  1. Perkawinan sebagai Sakramen
    Yang dimaksud dengan sakramen adalah tanda dan sarana
    kehadiran Allah. Hidup perkawinan diangkat oleh Allah untuk
    menggambarkan cinta Allah kepada manusia. Karena perkawinan itu
    menjadi gambaran dari Cinta Kristus kepada manusia, maka spirit atau
    roh nya adalah cinta kasih Kristus yang total. Kehidupan keluarga dan
    perkawinan sering digunakan dalam Kitab Suci untuk menggambarkan
    relasi antara Allah dan umatnya. Secara khusus dalam Hosea 1-3 menggambarkan hubungan seksual nabi dengan wanita pendosa. Persekutuan adalah sebuah kontrak, dimana semua pihak diajak untuk setia. Makna kontrak ini nampak dalam ungkapan Umatku dan Allahku (Hosea 2,25). Cinta dalam perkawinan ditemukan dalam refleksi cinta Allah kepada umat. Dalam surat pada jemaat di Efesus 5, 21-33, Paulus
    membicarakan hak dan kewajiban. Kewajiban suami adalah mencintai
    isterinya seperti dirinya sendiri. Maka tidak membenci sifat daging
    seperti seks. Tunduk diartikan bukan menjadi hamba tetapi ketaatan
    pada cinta, karena model cinta suami isteri adalah Kristus sendiri.
    Amanat moral yang berasal dari codice domestica adalah semangat
    “menjadi satu daging”yang menjadi tanda kesatuan Kristus dengan Gereja.
  1. Cinta kasih (Agape) : Dasar Perkawinan
    Kesepakatan: dasar perkawinan (Kan. 1057). Kesepakatan adalah unsur yang “membuat” perkawinan, atau satu-satunya yang menyebabkan terjadinya perkawinan. maupun jasmani sebagaimana seperti yang telah ditunjukkan oleh Kristus sendiri. Maka suami-istri diharapkan meneladani Kristus yang taat, setia dan rela berkorban sampai wafat di kayu salib (Fil 2:8). Maka: mutlak, tak dapat diganti oleh kuasa manusiawi mana pun.
  • Adanya kesepakatan adalah tuntutan kodrati, artinya perkawinan terjadi asal telah ada kesepakatan (konsensus) bersama, meski belum disempurnakan dengan persetubuhan.
  • Gereja menegaskan dasar perkawinan/ sahnya kan. 1057 : kesepakatan, menurut hukum mampu (tak terhalang hukum kodrat maupun gereja), dinyatakan dengan sah/tanda kelihatan (kata-kata, tertulis, gerak-gerik) bukan batin.

Perkawinan dibangun atas dasar cinta kasih seorang pria
dan wanita yang diberikan secara bebas, sungguh dan penuh
kesadaran. Tanpa cinta kasih mustahil bahwa perkawinan itu akan
terbentuk dan membawa kebahagiaan. Cinta itu memadukan segi
manusiawi dan ilahi mengantar suami isteri pada serah diri bebas dan
timbal balik, yang dibuktikan dengan perasaan dan tindakan mesra
serta meresapi seluruh hidup mereka. ( Gaudium et Spes 49). Konsili
memahami bahwa dalam mengatur hidup perkawinan secara laras
serasi, suami-isteri sering dihambat oleh berbagai situasi hidup jaman
sekarang. Kesetiaan cinta kasih dan penuhnya persekutuan hidup
sering tidak mudah dipertahankan. Bila kemesraan hidup terputus,
tidak jarang nilai kesejahteraan terancam dan kesejahteraan anak
dihancurkan. Ciri dari kasih suami istri dalam sebuah perkawian
menurut Paulus XVI: manusiawi secara penuh, total, kesetiaan dan subur ( Bdk. GS 51).

  1. Keluarga sebagai Ecclesia Domestica
    Keluarga sebagai gereja kecil atau seperti kata St.Yohanes
    Christotomus sebagai gereja rumah tangga adalah tempat Yesus
    Kristus hidup dan berkarya untuk keselamatan manusia dan
    berkembangnya kerajaan Allah. Angggota-anggota keluarga yang
    terpanggil untuk iman dan hidup kekal adalah”peserta-peserta dalam
    lingkup kodrat ilahi” (2 Pet 1,4). Artinya setiap anggota keluarga itu
    mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Paus Paulus VI mempertajam
    pengertian keluarga sebagai gereja kecil dalam ensikliknya Evangelii
    Nutiandi, beliau menulis: ”…Keluarga patut diberi nama yang indah
    yaitu sebagai Gereja rumah tangga (domestik). Ini berarti bahwa di
    dalam setiap keluarga Kristiani hendaknya terdapat bermacam-macam
    segi dari seluruh Gereja.” Sebagai Gereja, keluarga itu merupakan
    tubuh Yesus Kristus. Sebagai Gereja juga, setiap keluarga dipanggil
    untuk menyatakan kasih Allah yang begitu luar biasa baik di dalam
    maupun di luar keluarga. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga
    diberi makan sabda Allah dan sakramen-sakramen. Mereka pun
    seharusnya bisa mengungkapkan diri dalam cara pikir dan memiliki tingkah laku yang sesuai dengan semangat injil. Sebagai Gereja kecil, keluarga mempunyai tugas imamat keluarga untuk menguduskan anggota keluarga melalui doa bersama, tugas kenabian dengan mewartakan kebaikan dan kebenaran, serta tugas rajawi dengan memimpin seluruh anggta keluarga pada jalan kebenaran dan keselamatan.

5. Apa tugas dan peranannya
Keluarga sebagai gereja mini diharapkan menjadi tempat yang
baik bagi setiap orang untuk mengalami kehangatan cinta yang tak
mementingkan diri sendiri, kesetiaan, sikap saling menghormati dan
mempertahankan kehidupan. Inilah panggilan khas keluarga Kristen
dan apabila mereka menyadari panggilannya ini, maka keluarga
menjadi persekutuan yang menguduskan, di mana orang belajar
menghayati kelemahlembutan, keadilan, belaskasihan, kasih sayang,
kemurnian, kedamaian, dan ketulusan hati. (bdk.Ef 1:1-4).
Keluarga sebagai gereja mini memiliki beberapa hal yang
menjadi tugas dan perannya dalam setiap rumah tangga Kristen. Saya
merangkum beberapa tugas keluarga Kristen sebagai gereja mini
yaitu: membangun persekutuan cinta di antara pribadi-pribadi dalam
keluarga, memberikan pendidikan iman yang baik kepada anak-anak,
mempersiapkan, memelihara dan melindungi berbagai panggilan yang
ditumbuhkan Allah, dan berperan serta dalam kehidupan dan misi gereja

KESIMPULAN
Suami-istri yang dipersatukan dengan sakramen dipanggil
Allah kepada kekudusan. Dalam seluruh realitas hidupnya sebagai
suami-istri, mereka selalu terarah kepada nilai kekudusan itu. Melalui
sakramen yang mereka terima juga cinta kasih mereka disucikan. Di
sana rahmat Tuhan bekerja atas hidup mereka yakni rahmat yang
menyempurnakan. Dengan rahmat itu mereka dikuatkan, diteguhkan
untuk tetap tekun dalam hidup suci, rela berkorban, sehati-seperasaan
dan tetap saling mencintai. Saling cinta antara mereka itu didasari dan dilandasi oleh cinta Kristus pada Gereja-Nya. Atas dasar ini maka suami-istri tetap dituntut untuk tetap saling mencintai dan setia sampai kekal. Kesetiaan sampai kekal itu dihayati atas karya Roh Kudus. Dan ini akan
terlaksana dalam hidup mereka jika mereka selalu mempunyai iman,
harapan dan kasih yang mendalam. Kedalaman hidup inilah yang
menghantar suami-istri menuju kekudusan dan kesucian (bdk. GS.
52/53). Dalam menghayati spiritualitas perkawinan kristiani
dibutuhkan sikap intimitas dan kesetiaan. Intimitas harus tampak nyata
dalam sikap pemberian diri dan pengorbanan, baik secara rohani maupun jasmani sebagaimana seperti yang telah ditunjukkan oleh Kristus sendiri. Maka suami-istri diharapkan meneladani Kristus yang taat, setia dan rela berkorban sampai wafat di kayu salib (Fil 2:8).

Leave a Reply


6 + 6 =