Petugas Liturgi Sabtu & Minggu 7 & 8 September 2024

August 31, 2024
Petugas Liturgi Sabtu & Minggu 7 & 8 September 2024

SABTU Sore
17.30 : Koor Pembina BIA Santo Yoseph Organis : Maggie
Tata Lakssana : Lingkungan Santo Kristoforus Martir

MINGGU Misa I
06.30 : Koor Lingkungan Santo Titus Organis : Brigita
Tata Laksana : Lingkungan Emmanuel 3

MINGGU Misa II
08.30 : Koor : PS. Cicilia Organis : PS Cicilia
Tata Laksana : Komunitas Priskat

MINGGU Misa III
17.00 : Koor : Wilayah I Organis : Lala
Tata Laksana : Lingkungan Santo Blasius

Saran Lagu: PS. 337, 364, 365, 366, 367, 368, 369, 370, 371, 372, 373,

Penanggalan Liturgi Minggu Ini

Minggu 1 September 2024 : Hari Minggu Biasa XXII: Hari Minggu Kitab Suci Nasional (H) Ul. 4:1-2,6-8; Mzm. 15:2-3a,3cd-4ab,5; Yak. 1:17-18,21b22,27; Mrk. 7:1-8,14-15, 21-23.
Senin 2 September 2024 : Hari Bisa (H) 1Kor 2:1-5; Luk 4:16-30.
Selasa 3 September 2024 : PW St. Gregorius Agung (P) 1Kor 2:10b-16; Luk 4:31-37;
Rabu 4 September 2024 : Hari Bisa (H) 1Kor 3:1-9; Luk 4:38-44.
Kamis 5 September 2024 : Hari Bisa (H) 1Kor 3:18-23; Luk 5:1-11.
Jumat 6 September 2024 : Hari Bisa (H) 1Kor 4:1-5; Luk 5:33-39.
Sabtu 7 September 2024 : Hari Bisa (H) 1Kor 4:6b-15; Luk 6:1-5.
Minggu ke 3, 8 September 2024 : Hari Minggu Biasa XXIII (H) Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37.

RENUNGAN Mrk. 7:1-8,14-15, 21-23 : Aturan

Dalam kehidupan hidup sehari-hari tentunya kita tidak asing lagi
dengan yang namanya aturan. Ada aturan lalulintas yang terangkum dalam
rambu-rambu. Dalam kehidupan beragama juga diperlukan lembaga hukum, aturan, tatacara, upacara, dan pemahaman kisah-kisah sakral (Kitab Suci) untuk menumbuhkan dan mengembangkan hidup rohani. Dalam kenyataan kerap tujuan dan sarana saling bertukar. Misalnya, tata upacara atau hukumhukum agama menjadi makin dipentingkan dan menyingkirkan semua yang dirasa tidak sejalan. Akibatnya, kelembagaan lambat laun menjadi tujuan beragama, bukan lagi sarana. Orang bisa mulai merasa sesak, kurang leluasa.

Sering dalam keadaan ini ada pembaruan untuk menjernihkan
tujuan semula. Hidup beragama biasanya berada di antara dua kutub itu. Bisa lebih dekat dengan yang satu, bisa menjauh dari yang lain. Ada
kecenderungan untuk hanya melihat tujuan sehingga sarana kelembagaan
disepelekan. Tapi ada juga tarikan untuk mementingkan sarana dengan akibat tujuan menjadi kabur. Hari ini Yesus ditanyai orang Farisi dan ahli Taurat, mengapa muridmuridnya tidak menaati adat warisan turun-temurun membasuh tangan sebelum makan. Orang-orang itu curiga Yesus dan murid-muridnya ini kaum yang tidak peduli lagi akan lembaga agama. Dari jawaban yang diberikannya, dapat disimpulkan bahwa Yesus bukannya hendak mengurangi wibawa kelembagaan agama. Ia malah ingin memurnikannya sehingga dapat membawa ke tujuan yang sesungguhnya. Ia memakai bahasa yang amat nyata seperti pernyataan bahwa yang perlu dibasuh bukannya tangan atau piring
mangkuk, melainkan batin manusia.

Kaum Farisi adalah orang-orang yang sebetulnya dengan sungguhsungguh mau hidup menjalankan perintah agama secara radikal. Mereka mau
menunjukkan beginilah hidup mengikuti ajaran agama turun-temurun. Mereka berpengaruh besar dalam Sanhedrin, yakni lembaga peradilan agama dan pemerintahan di kalangan orang Yahudi. Mereka punya keyakinan, hidup seperti yang mereka jalani itu nanti akan berlangsung juga di akhirat. Jadi mereka mau menyucikan hidup duniawi sehingga menjadi semacam antisipasi hidup nanti. Di kalangan seperti inilah mulai tumbuh upaya-upaya kesalehan yang lebih besar dari yang biasa diatur dalam adat dan hukum agama. Mari kita bercermin diri, bagaimana kita menghidupi iman kita apakah hanya sebatas aturan atau memang lahir dari dalam diri kita sehingga kita makin terlibat dalam kegiatan umat.

Leave a Reply


5 + 7 =