Pelatihan Praktis Rangkaian Bunga Hydrangea

August 26, 2025
Pelatihan Praktis Rangkaian Bunga Hydrangea

Sebanyak 80 peserta mengikuti pelatihan praktis rangkaian bunga hydrangea yang diadakan oleh Seksi Kewanitaan (Bidang Persekutuan) bekerjasama dengan Seksi Dekorasi Altar dan Komunitas Tim Bunga, (Bidang Liturgi) DPP Santo Yoseph Palembang. Narasumber pada pelatihan ini berasal dari Santa Farm Jakarta (Spesialist Perkebunan Hydrangea), yaitu : Juliana Dharmadi, Sabtu 23 Agustus 2025 pukul 09.00-12.00 Wib di Gedung Aula Serbaguna Santo Yoseph Palembang.

Ketua Panitia, Lorensia M. Sukadaryati menjelaskan ada 80 peserta yang ikuti serta dari Paroki Santo Yoseph Palembang, Paroki Hati Kudus, Stasi Santo Hilarius dan peserta non Katolik. Tujuan diadakannya pelatihan merangkai bunga ini untuk mengembangkan keterampilan dan kreatifitas dalam hal merangkai bunga, terlebih dalam menghias altar dan sekitarnya. Juga menambah ilmu dalam seni merangkai bunga.
Harapannya semoga semakin banyak umat yang mau terlibat dalam pelayanan di Gereja khususnya dalam menghias altar karena Gereja adalah milik dan tanggung jawab bersama.

Sementara itu RD. Hyginus Gono Pratowo, Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan pelatihan mengatakan, kita syukuri segala hal yang boleh kita alami pada hari ini, tentunya atas pengalaman hidup, kesempatan hidup yang masih Tuhan berikan kepada kita,  sehingga kita bisa berkumpul dan  berjumpa dengan  Ibu Juliana dari Jakarta.  Terima kasih atas kesediaan Ibu dan dedikasi untuk umat Paroki Santo Yoseph Palembang di mana Ibu akan membagikan pengalaman dalam merangkai bunga untuk kemuliaan Tuhan.

Tujuannya adalah untuk kemuliaan Tuhan, apa yang kita lihat di tempat ini adalah juga ciptaan Allah yang sungguh dapat kita rasakan kehadiran Allah yang nyata dalam rupa bunga hidup yang sangat indah ini. Mari kita gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, tentu kita meselaraskan apa yang menjadi seruan Bapa Paus kita beberapa tahun yang lalu  tentang Laudato Si, yang diterjemahkan bagaimana kita mencintai alam, alam ciptaan.  Saya kira dengan merangkai bunga berarti kita tidak merusak alam, justru kita memadukan ciptaan Tuhan dengan tetap menjaga keutuhan, keselarasan dan keseimbangan alam. Laudato Si mengharapkan kita untuk menjaga alam, bukan merusak alam.  Ketika kita misalnya menanam sesuatu, ketika kita menggunakannya lalu mati, maka kita harus menggantinya terus menerus, bukan menghilangkan. Tetapi bagaimana kita terus mengupayakan bahwa ciptaan Tuhan yang hidup, termasuk bunga ini adalah ciptaan Tuhan, tetap diupayakan untuk terus berkembang.

Maka itu adalah langkah konkret ketika kita melakukan menjaga keseimbangan alam itu.  Mari kita gunakan ini sambil merefleksikan betapa agung dan indahnya kasih Allah ciptaan Tuhan dalam kehidupan, kita mengkolaborasi, apa yang ada di Paroki kita. Jadi menghias altar tidak semata-mata hanya menggunakan bunga potong tetapi kita kolaborasi dengan bunga yang hidup, artinya bunga yang dipot, tetap kita gunakan, lalu kita kolaborasikan. Nah ini menjadi langkah konkret bagaimana kita tetap menjaga keseimbangan alam,  ciptaan alam dan ciptaan Tuhan dalam kehidupan ini. Sekali lagi mari kita sungguh menggunakan kesempatan ini dengan baik bersama dengan Ibu Juliana yang nanti akan memperkenalkan apa namanya dan sebagainya, supaya kita punya juga pandangan, kita juga punya pengertian dan juga punya hal yang baik tentang ini. 

Juliana Dharmadi dalam pengantarnya menceritakan tentang  asal-usul Santa Farm. Santa Farm ini kalau dilihat namanya Santa itu diambil dari nama Santa Maria, kalau kita buka Instagramnya Santa Farm, itu logonya gambar Bunda Maria.  Santa Farm memang terbentang luas, seluas 30 hektar di pegunungan Gunung Gede Jawa Barat dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut yang suhunya 17 derajat. Santa Farm ini bergerak awalnya tidak langsung 30 hektar , tapi kita merintis pelan-pelan, memang kita bekerja sama dan bahkan izin kerja Santa Farm itu lambang burung Garuda yang artinya dari Menteri Perhutani langsung. Di Santa Farm ini bibitnya diimpor dari negara Ekuador, China dan Belanda yang kami mulai membudidayakannya tahun 2016.  Dengan proses yang begitu panjangnya dari 2016 hingga 2022 artinya 6 tahun  kami membudidayakannya.  

Hingga akhirnya di 2022 kami mulai melakukan penjualannya dan pertama kali kita menjual di Jakarta dan ternyata responnya sangat bagus, terutama untuk para florist dan dekorasi.  Karena tadinya untuk jenis yang seperti ini, yang bulat-bulat ini namanya bunga hydrangea atau bahasa Indonesianya hortensia. Hortensia memang ada di Indonesia, tapi jenis lokalnya biasanya berwarna hijau. Kalau Santa Farm punya yang lokal warnanya hijau sebesar piring makan satu batangnya dan namanya super. Jadi di Santa Farm bunga hortensia lokal ini  kami menanamnya dengan kualitas premium dan berbagai macam warna. Selain itu Santa Farm juga memproduksi Bio Furifier untuk penyegar tanaman dan spon bunga.

Peserta pelatihan terdiri dari umat Paroki Santo Yoseph Palembang dan beberapa Paroki lain yang mengikuti kegiatan dengan penuh semangat hingga akhir acara. Pada kesempatan ini juga dilakukan lomba merangkai bunga bagi tiga kelompok peserta, mereka bisa langsung mempraktekkan hasil pelatihannya dalam waktu lima belas menit. Kemudian Juliana Dharmadi memberikan penilaian dan masukan hasil rangkaian bunga peserta yang mengikuti lomba.

Leave a Reply


4 + 5 =