Palembang – Lingkungan Mgr. Soegijapranata (Sugiyopranoto) berdiri 6 Februari 1986, memakai nama pelindung Mgr. Soegijapranta, SJ sebagai Uskup Pribumi pertama dan pahlawan Nasional yang memimpin Keuskupan Agung Semarang, lahir di Surakarta tanggal 25 November 1896 serta memiliki semboyan ” 100 % Katolik, 100 % Indonesia “.
Sebagai ucapan syukur atas perjalanan panjang hingga usia 40 tahun, umat Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto (Wilayah VI, Paroki Santo Yoseph Palembang) mengadakan Perayaan Ekaristi bersama. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Aloysius Albertri Danier didampingi oleh RD. Daniel Depan Pratama sebagai Romo Pendamping Wilayah VI, Senin 9 Februari 2026 pukul 17.30 Wib di rumah Keluarga Drovin Chandra, JL. Mandiri belakang Amaris Hotel. Acara dihadiri oleh umat Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto, Pengurus Lingkungan Santo Timotius dan Ketua Wilayah VI yang diawali dengan penyampaian sejarah berdirinya Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto oleh F.A.Y. Sukarman sebagai pendiri dan Ketua pertama tahun 1986.
Dalam homilinya, Romo Danier mengingatkan, kita rindu untuk berkumpul dan melakukan yang baik, bahkan kita merindukan acara ulang tahun. Kita tidak mau merindukan sakit karena terkadang kita tidak bisa berbuat apapun, hanya bisa terbaring ataupun duduk sebentar dan kita berkata pun akan susah. Kalau orang sedang dalam keadaan sakit yang harus dilakukan adalah berjumpa dengan Tuhan. Tabut perjanjian dalam perjanjian lama yang kita dengar tadi melambangkan hadirnya Tuhan, Gusti Allah hadir disitu. Ketika tabut itu berada di antara mereka, maka orang akan mengalami sukacita dan kesembuhan. Tetapi ketika tabut itu pergi dari tempat itu, maka orang akan mengalami entah itu tulah, kesakitan dan sebagainya, sehingga tidak ada orang yang sanggup untuk memegang Tabut itu. Ketika para imam berada disekitar tabut itu tidak mengalami kekuatan dan akhirnya selalu mengatakan, Allah menciptakan semua alam semesta ini, sehingga siapapun yang berada di bawahnya akan mengalami belas kasih Allah.
Ketika kita merayakan ulang tahun ini, sudah 40 tahun, apakah kita terus meringkuk dalam kesakitan? Kita diajak berkumpul bersama, muncul banyak alasan, keluarga muda mengatakan, tidak punya waktu, kami bekerja dari pagi sampai malam mau pertemuan lagi malam, capek dan sebagainya. Keluarga setengah tua, kami sedang begini begitu, sedang menata keluarga dan sebagainya. Lalu keluarga yang sudah sepuh mungkin, nanti kami kalau malam tidak bisa melihat dalam perjalanan. Akhirnya diskusi-diskusi, maka tadi sudah disebut yang dulunya pertemuan jam tujuh malam berubah menjadi jam empat sore. Tapi paling tidak kita sungguh sadar bahwa kita punya sakit itu dan Sabda Tuhan mengatakan, kalau kita sakit kita datang kepada Tuhan dan mohon. Maka kalau kita bisa bermimpi melihat Allah lalu kita mengalami kesembuhan, itu adalah suatu mukjizat dan ini menjadi kesaksian bagi setiap orang yang mengalami karena tidak semua orang bisa mengalaminya. Tentu membutuhkan kedekatan imannya, kedalaman batinnya untuk berjumpa dengan Allah.
Ketika kita mau sembuh dari sakit, kita mau mengajak orang untuk ikut dalam pertemuan KBG, Lingkungan dan bahkan dalam Perayaan Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak hidup Kristen. Mungkin kita pernah mengajak orang, kita pernah menyentuh dan terkadang sentuhan ini membuat kita tergantung mood. Padahal iman itu tidak berdasarkan pada mood or bad mood, iman diwujudkan ketika kita mau mengalami kesembuhan datang kepada Allah, bukan karena aku suka dan aku tidak suka. Mungkin ada satu atau beberapa alasan orang untuk tetap mengalami sakit, sehingga tidak mau ikut berkumpul, maka kadang kita menikmati sakit itu, kita tidak sadar kalau kita sedang sakit. Kita lupa dengan Lingkungan dan pertemuan di Lingkungan.
Maka semoga rahmat sabda dan Perayaan Ekaristi yang kita rayakan hari ini, membuat kita mengalami kerinduan berjumpa dengan Allah dan berjumpa dengan sesama. Banyak orang menggunakan metode Katolik untuk berkumpul bersama dan untuk melakukan banyak kegiatan. Tetapi mengapa kita orang Katolik yang mulai pelan-pelan meninggalkan tradisi baik yang sudah ditanamkan oleh para pendahulu. Kita bersyukur atas iman kita dan atas segala sakit kita yang sudah telah disembuhkan oleh Allah, tetapi terkadang kitalah yang kurang mau datang kepada Allah. Ada saudara kita yang mengajak untuk sembuh, tetapi kita menolaknya, ada banyak tawaran-tawaran dunia yang lebih menggiurkan daripada kita merayakan iman.
Semoga perayaan ini menumbuhkan kembali semangat pendiri, semangat pelindung Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto dengan slogannya : 100 % Katolik, 100 % Indonesia. Mungkin kita belum sampai 100 %, kadang-kadang low bad dan kita membutuhkan dicas kembali, maka pertemuan KBG dan Perayaan Ekaristi adalah kesempatan bagi kita untuk mengecas kembali iman kita yang sudah loyo serta lemah. Biarlah Sabda Allah dan kebijaksanaannya meneguhkan kita untuk kembali memilah-memilih, memberikan waktu kepada Allah, datang kepadaNya dan mengalami sukacita dari Allah sendiri.
Pada kesempatan ini RD. Daniel Depan Pratama mewakili Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang mengucapkan, profisiat dan selamat untuk kita semua atas ulang tahunnya, semoga melalui ulang tahun yang ke 40, Lingkungan kita semakin bersemangat di dalam kehidupan menggereja, terutama tadi sudah disampaikan oleh Romo Danier, dimana kita juga harus membawa teman-teman kita yang sakit untuk datang kepada Tuhan, supaya kita semua mendapatkan rahmat kesembuhan dan juga kebahagiaan di dalam kehidupan kita masing-masing.
Seusai Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan perayaan syukur sederhana yang diisi acara ramah tamah, pemotongan tumpeng, pembagian doorprize dan santap malam bersama. Untuk pemotongan tumpeng diwakili oleh FAY. Sukarman sebagai Ketua Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto yang pertama (1986-1996) dan Andreas Hartriyanto, Ketua Lingkungan keempat (2006-2012). Kemudian potongan tumpeng diserahkan oleh F.A.Y. Sukarman kepada RD. Daniel Depan Pratama dan Andreas Hartiyanto menyerahkan kepada RD. Aloysius Albertri Danier. Dalam kesempatan ini Auxentius Eko Budi Prasetyo, Ketua Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto yang sekarang memberikan cinderamata bagi para Ketua Lingkungan Purnabakti, yaitu : FAY. Sukarman, ST. Kasidjan, Markus Bastomi dan Andreas Hartriyanto.
Sejarah singkat Mgr. Sugiyopranoto
Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto berdiri pada tanggal 6 Februari tahun 1986, pada awal pendiriannya bernama Kring Sugiyopranoto terdiri dari 22 Kepala Keluarga rata-rata dari keluarga guru dan pegawai, untuk kepengurusan periode yang pertama pemilihan saat itu dilaksanakan di rumah Bpk F.A.Y Sukarman dan terpilih sebagai Ketua Kring yang diresmikan oleh Rm. Titus Purba SCJ. Dalam peta organisasi Paroki Santo Yoseph saat ini lingkungan Mgr. Sugiyopranoto masuk dalam Wilayah VI meliputi Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto, Lingkungan Timotius dan Lingkungan Elisabeth.
Pada saat awal sebelum terbentuknya, Kring Mgr. Sugiyopranoto adalah merupakan bagian dari Lingkungan Santa ANA, pada waktu itu sekitar tahun 1983 Lingkungan Santa ANA sudah menjadi Kring/Lingkungan yang besar, warga lingkungan Santa Ana sudah terlalu banyak sehingga pada acara-acara pertemuan, rumah yang berketempatan menyelenggarakan selalu tidak muat, sehingga pertemuan dipecah menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu :
a. Kelompok untuk warga lingkungan yang ada di sekitar Kamboja atas dengan Mess Guru-guru Frater dipimpin oleh Bpk. F.A.Y Sukarman.
b. Kelompok Kamboja dalam dipimpin oleh Bpk. Ngadirin yang kemudian menjadi Lingkungan Magdalena.
c. Kelompok Pakjo dipimpin oleh Bpk. T.M. Supono Adi.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan pada awal tahun 1986 Bpk F.A.Y Sukarman pindah ke Pakjo, atas permohonan ketua Kring Santa ANA yang saat itu dijabat oleh Bpk. F.A.Y Sukarman mengusulkan agar kelompok Pakjo dibentuk Kring tersendiri dengan nama Kring Mgr. Sugiyopranoto dan permohonan dikabulkan oleh Pastor Paroki.
Peta Lingkungan
Kedudukan Sekretariat Lingkungan Mgr. Sugiyopranoto saat ini di rumah Auxentius Eko Budi Prasetyo Jl. Wirajaya 1 Gang Seluang No.386 Rt.02 Rw.02 Kelurahan Siring Agung Kec. Ilir Barat 1 Palembang, HP. 081927735140 & HP. 081271711650. Meliputi wilayah : Jln. Dwikora, Jln. Trikora, Jln.Ariodillah III dan IV, Jln. Radio, Jln. Inspektur Marzuki, Lrg. Mandiri, Jln. Sei Selan, Jln. Wirajaya I dan II, Komplek Arhanud, Jln. Swadaya Pakjo, Jln. Jend. Sudirman, Komplek Korem Gapo, Jln. Let. Murod, Jln. Demang Lebar Daun, Jl.Enim.
Batas-batas wilayah :
Utara : Talang Ratu, Korem Gapo Km. 5 dan Pakjo Ujung
Timur : Jl. Jend. Sudirman berbatas dengan Santo Stephanus dan Santa Ratu Rosario.
Selatan : Jl. Angkatan 45, Jl. Dwikora, Jl.Ariodillah dan Jl.Letnan Hadin berbatasan dengan Lingkungan Santa Maria Magdalena dan Lingkungan Santa Elisabeth
Barat : Jl. Way Hitam, Jl. Enim dan Angkatan 45 berbatasan dengan Lingkungan Santo Timotius.
Catatan: Saat ini mayoritas anggota Lingkungan sudah tua, kebanyakan pensiunan dan bahkan sudah menjadi duda atau janda, anggota usia remaja sedikit karena ada yang sekolah dan bekerja di luar kota .








