Palembang – Umat Paroki Santo Yoseph Palembang mengawali misteri Paskah Tuhan, yaitu : sengsara, wafat dan kebangkitanNya dengan mengenang saat Yesus memasuki kota Yerusalem, Sabtu-Minggu 28-29 Maret 2026 dalam Perayan Minggu Palma. Perayaan Minggu Palma diawali dengan upacara pemberkatan daun palma di Taman Maria Hati Kudus Yesus, Minggu 29 Maret 2026 pukul 09.00 Wib yang dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang. Kemudian Imam dan Prodiakon berkeliling untuk memerciki daun palma yang dipegang oleh umat. Setelah itu dilakukan perarakan meriah, para imam, prodiakon dan pelayan liturgi disambut umat dengan lambain daun-daun palma dilanjutkan umat yang ikut berjalan untuk masuk ke dalam Gereja Santo Yoseph Palembang.
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Harun Yuwono menyampaikan bahwa Yesus Kristus, demi keselamatan manusia, tidak merasa hina untuk merendahkan diri, kesetaraannya dengan Allah bukan sebagai milik yang harus dipertahankan. Dia rela menjadi manusia, bahkan setelah menjadi manusia, dia rela menanggung derita yang tidak kecil. Kita manusia yang tinggi hati, merasa sering lebih hebat dari yang lain, bukan hanya mudah tersinggung, tetapi juga gampang marah, dan melakukan kekerasan. Bahkan bukan hanya terhadap orang lain, melainkan juga dalam diri keluarga kita sendiri, sering ada KDRT sebagai wujud dari kesombongan dan keangkuhan diri kita.
Yesus diaku sebagai Raja orang Yahudi, Dia Raja yang menginginkan perdamaian dan bukan perang. Itulah sebabnya Dia menaiki keledai memasuki Yerusalem. Keledai adalah binatang dungu, simbol kelas rendah dan simbol penghinaan. Namun pengertian tersebut adalah pengertian barat, budaya Yahudi dan budaya Timur memandang keledai sebagai binatang yang agung.
Tindakan Yesus naik keledai adalah tanda bahwa Dia bukanlah Raja yang haus kuasa, haus darah, bukan yang mau memerintah dengan tangan besi. Dia bukan Raja yang sombong yang sedang memamerkan kekuatan atau kekuasaan dirinya, Dia adalah pangeran perdamaian. Allah memang tidak pernah lelah menempuh segala cara dari mengutus para nabi sampai mengutus putranya sendiri. Mari kita sadari segala cara yang ditempuh Allah adalah cara kasih, cara-cara dengan memberikan dirinya, mengorbankan dirinya dan mengorbankan kepentingannya sendiri dan bukan mengorbankan pihak lain.
Hari ini kita memasuki pekan suci, kita mengenang sengsara dan kematian Yesus untuk melaksanakan kehendak Bapa. Kehendak Allah dan demikian juga kehendak Yesus adalah keselamatan manusia. Demi keselamatan manusia, Yesus rela menanggung segala risiko pun kalau harus mati di salib, Dia tidak mundur. Begitu besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Dia memberikan anaknya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal. Kekuasaan dunia sering sebaliknya diperoleh dengan menghalalkan segala cara, cara-cara yang tidak benar dan cara-cara yang mementingkan diri sendiri. Bagi Yesus, kekuasaan adalah melayani, menyadarkan, mencerahkan dan membimbing kepada kebenaran. Setelah Yesus mengalami penderitaan dan kematian, Allah kemudian membangkitkan Yesus dan menganugerahkan nama di atas segala nama.
Allah tidak menghendaki penderitaan, melainkan kebahagiaan dan keselamatan manusia. Bagi kita, sikap Allah ini adalah panggilan untuk hidup penuh tanggung jawab. Janganlah kita takut menderita, janganlah kita lari dari tanggung jawab dalam beriman, dalam berkeluarga, dalam bermasyarakat, dalam berbangsa dan bernegara. Di atas salib, Yesus mengatakan, sudah selesai, Dia melaksanakan misinya dengan penuh tanggung jawab. Sebagai murid Yesus, panggilan kita adalah panggilan pelayanan dengan rendah hati. Kita tidak mungkin menghayati panggilan kita jika kita tidak memiliki kerendahan hati dan kita belum benar-benar menghayati kemuritan kita jika kita belum benar-benar menderita atau jika kita lari dari tanggung jawab.
Sekali lagi, kita sudah selesai mengadakan berbagai kegiatan selama masa Prapaskah, mari kita tetap rendah hati, tetap hidup saleh, melanjutkan tahun Devosional. Mari kita mencontoh para Santo dan Santa, para murid-murid teladan Yesus yang telah berkenan kepada Allah, yang telah membahagiakan dan menyenangkan Allah. Semoga kita pun berkenan padanya atas hidup kita, menyenangkan, membanggakan dan membahagiakan Allah.




