Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan oleh umat Paroki Santo Yoseph Palembang, Sabtu dan Minggu, 21-22 Juni 2025 pada Perayaan hari Sabtu pukul 17.30 Wib, dipimpin oleh RD. Hyginus Gono Pratowo.
Dalam homilinya Romo Gono menyoroti mengenai inti dari Ekaristi yaitu : Sakramen Cinta, Tuhan begitu mencintai kita, sehingga dia memberikan anaknya, Yesus yang menjadikan manusia dan mempersembahkan nyawanya di kayu salib untuk keselamatan kita. Tetapi Yesus tidak berhenti di situ, Dia melangkah lebih jauh dengan memberikan daging dan darahnya sendiri untuk makanan kekal kita, sebab dagingku adalah benar-benar makanan dan darahku adalah benar-benar minuman.Barang siapa makan dagingku dan minum darahku, ia tinggal di dalam aku dan aku di dalam dia. Barang siapa makan dagingku dan minum darahku, ia mempunyai hidup yang kekal dan aku akan membangkitkan dia pada akhir jaman.
Saat kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau Pesta Ekaristi, marilah kita memeriksa pemahaman dan sikap kita terhadap sakramen yang paling agung ini. Misa adalah satu-satunya kurban kekal Yesus yang ia persembahkan kepada Bapa Surgawi sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita, Ekaristi sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Ekaristi adalah tentang Tuhan, jika ukuran Misa adalah mendapat sesuatu atau keuntungan ini adalah kesalahan besar. Misa tidak pernah tentang kita, ini semua tentang Tuhan, kita datang ke Misa untuk menyembah, untuk memuliakan dan memuji Tuhan, tidak ada yang lain. Karena liturgi adalah tentang memuliakan Tuhan.
Misa adalah tentang memberi, kegagalan mengerti Misa sebagai pengorbanan Yesus yang dipersembahkan kepada Bapa Surgawi, ini menimbulkan keyakinan bahwa kita pergi ke Misa terutama untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Sementara Misa adalah tentang memberi, Yesus memberikan dirinya sepenuhnya kepada Bapa dalam mengorbankan, sehingga kita dapat diampuni dan diselamatkan. Banyak orang yang datang ke Misa hanya berpikir untuk mendapatkan, tidak heran mereka menganggap Misa seringkali tidak berarti dan tidak membuahkan hasil, karena mereka benar-benar melewatkan intinya. Misa adalah tentang memberikan segalanya kepada Tuhan, tentang mempersembahkan seluruh diri kita saat kita bersatu dalam persembahan dengan kurban Yesus, maka fokuslah pada Tuhan, persembahkanlah salib hidup, pengorbanan dan pergulatan hidup kita, inilah makna Ekaristi yang sesungguhnya.
Membagi Ekaristi seperti bagian drama menjadi tiga, yaitu : mempersembahkan diri dalam persembahan, mati bersama Kristus dalam doa syukur agung dan konsekrasi serta hidup baru saat kita menerima komuni. Di setiap bagian itulah, kita akan merasa benar-benar hidup, sangat bermakna, dan menghasilkan buah yang bergelimpahan. Ekaristi adalah sumber dan puncak iman, menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, baik dari awal pembukaan sampai dengan akhir ketika kita menerima berkat.
Maka sangat salah, ketika kita merayakan Ekaristi setelah komuni, kita langsung kabur, artinya kita tidak siap diutus, hanya kita mengambil bagian kita saja, menerima komuni, lalu kita pergi. Ekaristi tidak sama dengan kondangan, tetapi Ekaristi menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tak dapat dipisahkan. Mari kita rayakan Ekaristi menjadi satu kesatuan tentang Tuhan dan tentang hidup berbagi bersama dengan Tuhan.




