Suster Charitas, Berakar Dalam Kristus Dan Berbuah Sukacita Dalam Pelayanannya

July 10, 2025
Suster Charitas, Berakar Dalam Kristus Dan Berbuah Sukacita Dalam Pelayanannya

Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas 99 tahun yang lalu, mewartakan kasih dan memulai pelayanannya di Bumi Sriwijaya. pada hari Jumat pagi, 11 Juni 1926 bertepatan dengan Pesta Hati Kudus Yesus, para Suster Misionaris Charitas pertama, yaitu : Zr. M. Raymunda, Zr. M. Alacoque, Zr. M, Chatarina, Zr. M. Caecilia dan Zr. M. Wilhemina, ditemani Pater Hermelink, SCJ dari Denekamp, berangkat dari Roosendaal Belanda  menuju tanah misi di Sumatera Selatan.

Untuk merayakan syukur menyongsong seratus tahun Charitas di Indonesia diadakan Perayaan Ekaristi, Rabu 9 Juli 2025 pukul 17.00 Wib yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Yohanes Harun Yuwono di Gereja Santo Yoseph Palembang didampingi oleh Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo dan RD. Hyginus Gono Pratowo. Diawali dengan perarakan para Suster pembawa vandel 38 Komunitas Charitas dan penyampaian sejarah Kongregasi Santo Fransiskus Charitas Indonesia oleh Sr. M. Carolisa, FCh selaku Dewan Pimpinan Umum.

Melalui homilinya Mgr. Yohanes Harun Yuwono menyoroti mengenai 99 tahun keberadaan Kongregasi Santo Fransiskus Charitas Indonesia menyongsong seratus tahun ke depan, apakah ingin menekankan karena menyongsong seratus tahun, supaya berbuah seratus kali lipat seluruh pekerjaannya, seluruh misinya atau mau menekankan kedekatan, kesetiaan, pada Kristus atau mau menekankan untuk berkat dan kejujuran.

Terutama kalau kita dirasa dekat dan dipandang berbeda dengan orang lain itu, mengapa mau jadi Suster, mengapa mau jadi Pastor? Barangkali kita sudah menceriterakan berulang kali. Para nabi umumnya menceriterakan hanya satu kali saja, alasan mengapa dia menjadi nabi, karena dipanggil, entah kemudian beralasan tidak mau dan kemudian terpaksa mau. Tapi Yeremia, kalau para suster ingin menekankan, mencontoh kenabian Yeremia, berulang kali menceriterakan panggilannya dan juga berulang kali menceriterakan keberatannya, bahkan dengan keras dia berteriak kepada Tuhan mengutuki hari kelahirannya.

Membaca kisah hidupnya, kita bisa mengetahui bahwa Yeremia adalah seorang nabi pemberani, barangkali para Suster juga ingin jadi pemberani, sekaligus penakut. Sang peratap menyesali hari kelahirannya, sekaligus pendoa, orang yang nampak kerasulannya gagal dalam perutusan tetapi tetap setia pada Yahwe, pengutusnya. Dia peratap tetapi tidak lebay, boleh anda meratap tapi jangan lebay, lebih pada pribadi pendoa yang mengungkapkan imannya yang dalam kepada Tuhan. Karena relasinya yang begitu dekat dengan Tuhan, dia selalu curhat, tidak lari dari tanggung jawab, melainkan berani menanggung risiko atas perbuatannya, dia juga teladan kesetiaan para selibater. Dia rendah hati karena perutusan yang penuh penderitaan adalah pralambang kehidupan Sang Mesias kemudian hari. 

Urutan tindakan Allah kepada Yeremia ketika memanggil, mengenal, menguduskan, menetapkan, membentuk dan menyiratkan sebuah kebenaran yang penting, Yeremia dan pastilah kita saya dapat mengatakan dipanggil untuk menggenapi rencana Allah. Yeremia tidak melibatkan Allah untuk mencapai rencana atau cita-citanya sendiri. Allah justru yang melibatkan seluruh hidup Yeremia, jiwa raganya untuk menggenapi rencana Allah. Kita dipanggil seperti Iremia untuk melaksanakan mimpi Allah, rencana Gereja, rencana Keuskupan, rencana Kongregasi, bukan mimpi dan pikiran atau cita-cita kita sendiri.  Barangkali ini dipilih supaya Suster tetap setia dari apa yang dulu direncanakan oleh lima Suster datang ke Indonesia, diutus bukan hanya untuk bangsa sendiri, tetapi untuk bangsa-bangsa lain juga.

Di tengah pergumulan kenabiannya, Yeremia mengadakan pembicaraan dengan Tuhan perihal pergulatan pribadinya dan pembicaraan ini penuh dengan jeritan sengsara, sehingga ia mengutuk hari di mana dia dilahirkan. Ini bukan pertama-tama keluhan, keputusasaan, melainkan relasi akrab, doa yang terus-menerus dan tanda manusia rohani yang menanggapi panggilan Tuhan dan mencoba untuk setia kendati berat. Manusia Allah memang seharusnya melayani Allah sepenuh waktu, segenap jiwa raga, konsisten, seumur hidup,dan tanpa pamrih. Yang terjadi pada Iremia berlaku juga untuk kita. Panggilan Allah itu sangat serius. Dan itu untuk disyukuri dan dihidupi dengan setia. Bukan untuk melakukan rencana kita sendiri, melainkan untuk melakukan rencana Allah bagi umatnya. Sebagai pelayan dan hamba Tuhan seperti Yeremia, kita sering dihadapkan pada berbagai tantangan, pelayanan yang dapat membuat kita stres, depresi, galau batin dan mengeluh kepada Tuhan. 

Kita, Anda, saya tidak tahu apakah anda mempunyai siapa untuk curhat, pembibing rohani, rekan sekomunitas, seangkatan, curhat ke mesos, curhat ke umat pilihan. Andai Anda menderita karena pimpinan Anda pemberi SK yang mencabut dari tempat tertentu dan membenamkan di tempat lain. Anda boleh mengatakan apa saja  kepada beliau seperti Yeremia menjerit kepada Tuhan. Namun, hendaklah mengerti kalau pemimpin anda, hanya akan bisa berkata, saya tidak dapat berbuat banyak, kecuali saya sangat mengerti jika anda melakukan SK. Tetaplah setia dalam Kristus, melekat, memegangnya dan menyatukan diri dengan Dia, maka panggilan dan hidupmu akan berbuah berkali lipat, bahkan mungkin bisa seratus kali lipat. 

Dalam kesempatan dilakukan pemberkatan bibit phon alpukat, untuk di dalam Gereja dilakukan oleh Mgr. Harun Yuwono semenetara itu di panggung luar juga diberkati oleh Romo Wahyu Trihariadi, SCJ. Pohon alpukat dipilih sebagai simbol pohon yang berbuah dan buahnya berguna bagi kesehatan manusia. Dapat ditanam dan bertumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi, juga memiliki durasi waktu produksi yang panjang. Setelah itu Sr. Maria. Patricia, FCh selaku Pemimpin Umum Kongregasi Suster Santo Charitas menyerahkan bibit pohon alpukat kepada empat perwakilan komunitas, yaitu : Sr. M. Yoselin, FCh mewakili Komunitas Santo Fransiskus Palembang (Komunitas Pertama di Indonesia), Sr. M. Stella, FCh mewakili Rumah Generalat, Sr. M. Leonora, FCh mewakili Komunitas Misi Baru (Komunitas Charitas Missisipi, Amerika Serikat) dan Maria mewakili saudari muda sebagai generasi penerus yang akan meneruskan estafet misi Charitas di tengah Gereja dan dunia.

Nama Biara-Biara Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) :

Biara Induk Charitas Sta. Maria Immaculata, Biara Charitas St.Fransiskus, Biara Charitas Sta. Anna, Biara Charitas Theresia Saelmaekers, Biara Charitas San Damiano, Biara Charitas Sta.Monika, Biara Charitas St.Antonius Padua, Biara Charitas Assisi, Biara Charitas  St. Nicolaus, Rumah Postulat Charitas St.Bonaventura, Noviciat Charitas St. Bonaventura, Biara Charitas La Verna, Biara Charitas Rivotorto, Biara Charitas Sta. Agnes Praha, Biara Charitas Sta. Clara, Biara Charitas Sta. Elisabeth Hongaria, Biara Charitas Bernardus, Biara Charitas Riccieri, Biara Charitas Donna Pica, Biara Charitas Donna Pica, Biara Charitas Rufino, Biara Charitas Angelo Tancredi, Biara Charitas Thomas Celano, Biara Charitas St. Benedictus, Biara Charitas Celle de Cortona, Biara Charitas Rocca Maggiore, Biara Charitas Siena, Biara Charitas Lembah Spoleto, Biara Charitas Serafim, Biara Charitas Sta. Maria degli Angeli, Biara Charitas Greccio, Biara Charitas Bintang Timur, Biara Charitas Maseo, Biara PRCA STa. Maria Mater Dei, Biara Charitas Fatima, Biara Charitas Theresia Saelmaekers, Biara Charitas St. Yosef Cupertino, Biara Charitas Angela de Foligno

Leave a Reply


9 + 2 =