Selamat Jalan, Romo Dhani Menuju Kediaman Abadi

October 16, 2026
Selamat Jalan, Romo Dhani Menuju Kediaman Abadi

PALEMBANG – Salah satu anggota Dehonian, RP. Ambrosius Dhani Indrata, SCJ (Romo Dhani) telah dipanggil menghadap Bapa, Rabu 14 Oktober 2026 pukul 05.40 Wib di RS. RK Charitas Palembang. Umat Keuskupan Agung Palembang mengadakan tuguran bersama mulai pukul 10.00 Wib di Gereja Santo Yoseph Palembang dimana Romo Dhani pernah menjabat sebagai Pastor Paroki tahun 1989-1994. Misa Arwah diadakan pukul 19.00 Wib yang dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang dan selanjutnya jenazah dibawa ke Pringsewu, Lampung untuk dimakamkan di Pemakaman Suster FSGM, Kamis 15 Oktober 2026.

Dalam homilinya, Mgr. Yuwono mengatakan, kematian adalah satu-satunya peristiwa dalam hidup kita yang pasti, namun peristiwa yang pasti akan terjadi pada setiap yang hidup  tak pernah kita tulis dalam kalender hidup kita bahkan, sedapat mungkin akan kita hindari. Sedapat mungkin bahkan kita tidak ingin menyadari bahwa kematian itu akan datang dalam hidup kita. Kita dipengaruhi oleh mentalitas dunia bahwa kematian merupakan peristiwa terakhir dan membuat hidup kita selesai. Kematian seakan merupakan dinding tebal yang membuat kita berhenti dalam peziarahan. Kematian membuat kita bahkan takut karena segala hal yang kita bayangkan dalam hidup akan kita alami dalam kematian itu selesai, tidak akan diingat lagi, kita akan dikubur dan habis.

Iman Kristiani mengajarkan, kematian bukan akhir segala-galanya bahkan merupakan permulaan hidup baru. Ia bukan tembok, melainkan pintu yang membuat kehidupan ini akan ditransformasikan, diubah secara sangat luar biasa dan berbeda dengan kehidupan yang selama ini kita jalani. Kalau kehidupan selama ini kita dibelenggu, dikungkung, kita diselubungi oleh berbagai kelemahan, oleh penyakit, oleh rasa keterbatasan, selubung belenggu itu semuanya akan dibuka setelah kematian. Kita menjadi yang terbebaskan, tubuh bisa saja dikubur dan selesai, tetapi jiwa mengatasi keterbatasan itu, kita bukan selesai, tapi kita mulai. Karena itu kematian sering dikatakan kita pulang ke rumah dalam peziarahan ini, dalam pengembaraan ini, kita dinanti oleh rumah yang akan menjadi kediaman yang abadi bagi kita. Dalam Kristus, kita diajak untuk tidak takut akan kematian yang barangkali kita bayangkan selama kita hidup.

Tahun ini tahun Yubelium Santo Fransiskus dan Santo Fransiskus mengajari kita untuk memperlakukan kematian bukan sebagai musuh yang harus dihindari, ia adalah saudari yang harus dipeluk. Kita akan bersama dengan kematian, berapapun usia yang akan kita jalani di hidup ini, ada giliran bagi kehidupan untuk menuju kematian. Tetapi kita akan mengalami kematian sebagai awal dari kehidupan yang baru, hidup manusia tidak seperti mesin. Manusia ketika detak jantung berhenti tidak lagi bisa dikotak katik, Allah memang memberi keterbatasan dalam kehidupan kita di dunia ini karena dia mencintai kita. Kehidupan yang tanpa batas di dunia ini justru harus kita pandang sebagai penderitaan yang tanpa ujung dan Allah sebagai Bapa yang Maharahim tidak mau kita menderita. Allah justru menghendaki kita semua bahagia dan bersama dengan Dia. Maka kehidupanpun kalau kita memandangnya sebagai sesuatu yang sangat indah akan terbatas di dunia ini untuk kita lanjutkan bersama dengan Bapa dalam keabadian, dalam keindahan, dalam kebahagiaan yang Santo Paulus mengatakan, belum pernah mata memandang atau hati merasakan.

Allah menghendaki kita menjadi putra dan putrinya bukan hanya nanti tapi selama peziarahan di dunia ini. Maka nasihat kitab suci yang kita dengar hari ini “ Hindarilah segala yang jahat, lakukanlah yang baik, kasihlah yang abadi yang dimiliki oleh Bapa yang akan diberikan kepada kita semua “. Kita diberi teladan oleh Romo Dhani, dalam kerendahan hati, memilih kebenaran, memilih kehidupan dan memilih mewartakan Tuhan yang baik, sehingga semua kita diharapkan mendengarnya dan meneladaninya. Kita akan mengalami apa yang akan dinikmati oleh iman beliau, bahagia abadi bersama Allah, bersama para kudus, bersama semua orang yang dikendaki Allah untuk bahagia.

Kemudian mewakili Kongregasi SCJ dalam sambutannya RP. Laurensius menyampaikan, terima kasih atas kebersamaan kita di dalam doa pada malam hari ini untuk mendoakan saudara kita, Romo Ambrosius Dhani Indrata yang dipanggil Tuhan , semoga doa-doa kita menjadi bekal perjalanan bagi Romo Dhani menghadap Allah Bapa Sang Pencipta. Semoga apa yang kita ungkapkan  dalam perbuatan  menjadi tanda kasih kita kepada Romo Dhani dan juga menjadi bekal bagi Romo Dhani dalam perjalanan menghadap Allah Bapa di surga.

Sementara itu Mgr. Yuwono  mengungkapkan, atas nama pribadi, atas nama Tuhan dan juga atas nama seluruh umat Allah terutama yang pernah dilayani oleh Romo Dhani menyampaikan bela duka kepada Romo Provinsial dan semua anggota Dehonian. Maka kehilangan Romo Dhani bagi saya juga lebih dari kehilangan para Konfrater SCJ, Romo Dhani di masa sepuhnya tugas di Lampung dan menjadi pembimbing rohani, Bapak pengakuan bagi para komunitas para Suster. Saya masih meminta tambahan ketika  di Lampung agar beliau juga menjadi Pembimbing Rohani dan Bapak pengakuan serta pengarah kehidupan para Suster Komunitas Klaris di Sinjau dan karena beliau saya menjadi mengerti bagaimana harus bersikap, bagaimana harus mengambil beberapa keputusan yang penting bagi para Suster Klaris di Sinjau. Romo Dhani bukan hanya telah melakukan tugasnya dengan sangat baik, tugas-tugas formal yang informal. Romo Dhani selalu dengan rendah hati menyambangi komunitas-komunitas, apalagi kalau tiba hari raya apapun beliau  yang datang mengunjungi, mengucapkan selamat dan tentu saja mendoakan, memberkati para kami yang masih muda-muda.

Leave a Reply


1 + 1 =