Setelah mengikuti kegiatan rekoleksi dalam rangka HUT ke 25 Komisium Palembang Ratu Pencinta Dami , para Legioner diajak untuk mengucap syukur dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD, Yohanes Kristianto, Vikjen Keuskupan Agung Palembang, Sabtu 11 Januari 2025 pukul 12.30 Wib di Gereja Katedral Santa Maria Palembang.
Pada pengantarnya RD. Agustinus Giman sebagai Pemimpin Rohani menyatakan hari ini menjadi momen yang sangat berahmat untuk kita para Legioner, terutama Komisium Ratu Pencinta Damai Palembang. Dalam momen perayaan 25 tahun Komisium Ratu Pencinta Damai kita semua diajak merenungkan tema : Sehati Sejiwa Berziarah Dalam Pengharapan Bersama Bunda Maria. Melalui tema ini kita semua diajak untuk kembali merenungkan akan semangat kita para Legioner bahwa kita sebagai Legioner, dipanggil untuk membangun hidup sehati sejiwa yang kita hidupi dan kita hayati di dalam kebersamaan dan semangat kekeluargaan di dalam presidium kita masing-masing Bersama Bunda Maria. Kita juga diajak untuk berjalan bersama dalam perziarahan yang merupakan perjalanan yang tidak pernah berhenti, tidak pernah stop. Kita diajak untuk terus senantiasa berjalan, tentu di dalam perjalanan itu ada kegembiraan sekaligus juga kesedihan ada pertumbuhan tetapi juga ada kelayuan.
Ada saat dimana kita terbangun tetapi juga mungkin saat ini ada yang masih tertidur lelap namun dalam pengalaman-pengalaman itu dalam pengalaman jatuh bangun di dalam pengalaman dimana kita bersemangat atau mengalami kelesuan kita semua tetap diharapkan bersama dengan Bunda Maria. Memiliki harapan Bunda Maria bukan hanya menjadi Bunda dimana kita menyampaikan harapan-harapan kita kepada Allah melalui dia, tetapi Bunda Maria yang kita renungkan adalah Bunda yang berpengharapan, Bunda yang memiliki harapan dalam hidupnya tetapi juga Bunda dimana kita semua bisa menaruh harapan kita agar disampaikan kepada putranya.
Melalui homilinya Romo Kris menyampaikan permenungannnya kita merayakan sebuah peristiwa perjalanan 25 tahun Komisium Ratu Pencinta Damai Palembang dan setiap kali merayakan ulang tahun yang selalu tidak pernah boleh kita lupakan adalah peristiwa awal. Peristiwa kelahiran, kalau dalam konteks Legio Maria, peristiwa berdirinya, kita berharap bahwa sejarah ini tidak diabaikan, tidak dilupakan, sekalipun jarak antara berdirinya sampai dengan sekarang itu sangat jauh. Tahun 1921, bagaimana sejarah awal dirintis oleh para awam, beberapa awam sebagai sebuah kelompok yang punya kepentingan menghayati imannya dengan doa-doa dan kemudian berkembang menjadi sebuah pelayanan dan bertumbuh menjadi seperti organisasi rohani yang disebut sebagai Legio Maria. Jangan sampai ditinggalkan atau diabaikan proses awalnya supaya kita tidak kehilangan spirit yang merupakan spirit dasar dari para perintis, dari para pendiri dan para tokoh.
Kalau Legio Maria kehilangan spirit dasar dari para pendiri, maka akan seakan-akan kehilangan jati dirinya, karena para pendiri sudah menemukan sebuah semangat dan spirit yang itu menjadi landasan pertumbuhan dari Legio Maria. Mereka sudah meletakkan dasar yang kokoh sehingga bangunan Legio Maria, bangunan kelompok doa diatasnya semakin kokoh, semakin kuat dan tersebar di seluruh dunia ada tempat-tempat yang sangat bertumbuh berkembang kelompok Legio Maria ini. Kita mungkin sekali waktu juga bisa melihat bagaimana perkembangan atau sejarah perjalanan Legio Maria di Indonesia ini di berbagai macam Keuskupan seluruh Indonesia tentu mengalami bagaimana Legio Maria bertumbuh dan berkembang, tentu dengan kisahnya masing-masing, dengan ceritanya sendiri-sendiri.
Di Keuskupan Agung Palembang, bagaimana Legio Maria muncul pada waktu itu, pasti ada tokoh-tokohnya dan perintis-perintisnya yang terus mewarisi semangat dasar dari para pendiri awal tahun 1921. Para pendiri Legio Maria di Keuskupan kita ini punya kepentingan yang sama agar Legio Maria menjadi sebuah kelompok rohani, kelompok doa yang berkarya dengan landasan ketaatan dan kesetiaan kepada Sang Ratu memberikan pelayanan dan pokok yang utama memang adalah pelayanan rohani. Komisi Ratu Pencinta Damai berdiri 25 tahun yang lalu, saya tidak tahu siapa yang masih mengalami 25 tahun yang lalu. Sebelum menjadi Komisium, dia adalah sebuah Kuria yang satu-satunya ada di Kauskupan Agung Palembang, karena banyaknya Presidium-Presidium yang muncul, maka terpecah atau dimekarkan menjadi dua Kuria, yaitu : Kuria Belitang dan Kuria Palembang. Juga karena optimisme yang besar, maka terbentuklah Komisium yang berusaha mengkoordinir, membuat jejaring antara Kuria dan juga Presidium-Presidium yang ada di bawahnya.
Saya masih mengalami bagaimana para perwira seringkali pergi ke Jambi, Belitang, bahkan sampai ke Bangka, Batam dan Bengkulu untuk menyatukan gerak serta langkah, membangun spirit yang sama sehingga Legio ini bisa bertumbuh dan berkembang. Kita tidak bisa mengabaikan peran serta Legio Maria dalam pertumbuhan Gereja, anda sekalian sudah punya pengalaman bagaimana presidium-presidium, para legioner berperan aktif dalam kegiatan mengereja lewat berbagai macam cara, ada Legioner yang aktif pendampingan sekolah minggu sampai ke stasi-stasi, aktif dalam liturgi gereja mempersiapkan panti imam dengan dekorasi, aktif dalam pelaksana liturgi, tata laksana menjadi koor, ada yang aktif dalam pelayanan di rumah sakit, ada yang aktif kunjungan ke penjara. Saya kira itu identitas yang khas bahwa Legio Maria tidak hanya asik dengan dirinya sendiri, tetapi para Legioner sadar betul bahwa dia adalah bagian dari Gereja dan karena itu terlibat aktif mengembangkan dan menumbuhkan Gereja.
Tadi saya kira sudah diingatkan bersama, bagaimana kita sebagai legioner mempunyai sebuah identitas yang tegas dan jelas, sebagai orang katolik yang beriman kristiani, yang sungguh-sungguh menghayati imannya, menghayatinya dalam keseharian, dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam cara, Legioner harus punya landasan iman yang kokoh dan kuat. Akan menjadi problem ketika para legioner tidak berpijak pada iman yang kuat, ada aktivis-aktivis Legionaria yang sangat luar biasa, tapi pada saat mengambil pilihan-pilihan yang penting dalam hidupnya, dia tidak lagi mempertimbangkan identitas legionernya dengan gampang meninggalkan Gereja.
Dalam kesempatan ini Fransiscus, Ketua Komisium Ratu Pencinta Damai Palembang mengucapkan terima kasih kepada para imam dalam Misa Syukur 25 tahun berdirinya Komisium Legio Maria Palembang dan para Legioner yang sudah hadir serta ikut mendukung perayaan kita, bersuka cita dan bergembira bersama. Kita harus ingat bahwa seorang Legioner yang dituntut adalah kesetiaan sebagai tentara Maria dan juga mempertahankan iman kita seperti yang ditekankan oleh Romo Vikjen Yohanes Kristianto saat mulai memberikan materi rekoleksi dan dalam homili yang disampaikan tadi. Kita sebagai Legioner dipanggil karena rahmat dari Tuhan, memang banyak yang ingin menjadi Legioner tapi tidak tahan tantangan yang datang kepada kita. Jadi kita bersyukur bahwa kita para Legioner bisa bertahan dan ini satu panggilan bukan karena kemauan tapi ini adalah rahmat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita sehingga kita bisa tetap bertahan sebagai Legioner, sebagai tentara Maria. Marilah kita mempertahankan ini untuk menjadi tetap sebagai Legioner, melaksanakan tugas-tugas dan berziarah bersama Bunda Maria.
Vikjen Keuskupan Agung Palembang Romo Kris juga mengucapkan terima kasih karena sudah mewarnai Gereja Kuskupan Agung Palembang khususnya selama 25 tahun melalui Komisium ini dan peran serta Anda sekalian di berbagai macam bidang pelayanan di lingkup Gereja melalui Paroki atau tempat masing-masing. Tentu harapannya semakin ke depan, semakin bersemangat dalam menghidupi dan menghayati panggilan dan perutusan sebagai Tentara Maria.
Terima kasih atas kehadiran Bang Manihuruk dari Regia Medan yang juga sudah memberi support dan semangat bagi Komisium ini, yang pasti ada sesuatu yang menjadi bagian dari jaringan struktural Legio Maria mulai dari Presidium, Kuria, Komisium, Regia, Senatus, dan seterusnya. Itu satu jejaring yang tidak bisa terhenti dan tidak bisa diputus. Terima kasih kepada Roma Anggoro dan Legioner dari Tanjung Karang yang sudah hadir lintas Keuskupan, bahkan dari Tanjung Karang juga menghayati dan menghidupi peran dan perutusan sebagai Tentara Maria. Presidium di sana, rupanya cukup banyak dan cukup hidup, jadi mudah-mudahan ada kerjasama lanjutan yang akan dilakukan setelah perayaan atau peringatan 25 tahun Komisium ini.
Rangkaian Perayaan Syukur ke 25 Komisium Palembang Ratu Pencinta Damai diakhiri dengan santap siang bersama dan tukar kado.






