RUANG KATEKESE

March 25, 2025
RUANG KATEKESE

Penciptaan dan Karya Penyelamatan. Dalam pengakuan iman penciptaan diakui sebagai tindakan Allah yang pertama dalam sejarah dunia. Hal itu amat jelas dalam kisah penciptaan (Kej 1-2) dan juga dinyatakan dengan jelas dalam syahadatsyahadat: “Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan”. Dengan kata-kata itu terungkap bukan hanya kekuasaan dan keallahan Allah, tetapi juga dasar dan awal seluruh sejarah keselamatan. Sejarah keselamatan adalah sejarah Allah dengan manusia. Allah menciptakan dunia, khususnya manusia, sebagai titik tolak sejarah pergaulan-Nya dengan manusia. Allah meng-ada-kan manusia sebagai teman dialog. Allah menciptakan manusia supaya dibuat menjadi sahabatNya. Dari kebebasan-Nya yang tak terbatas Allah mengadakan manusia sebagai subjek yang bebas juga, yang otonom, berdikari, yang mampu menjawab panggilan kasih Allah. Itulah dasar dan permulaan sejarah keselamatan. Adanya sejarah keselamatan mengandaikan bahwa ada makhluk yang oleh Allah dapat diajak masuk ke dalam kesatuan cinta dengan diri-Nya.

Mengadakan manusia, dengan seluruh lingkungannya, sebagai subjek rahmat merupakan tindakan Allah yang paling dasariah. Tuhan senantiasa membuat manusia menjadi subjek yang mampu menjawab panggilan-Nya. Dalam arti itu karya penciptaan berjalan terus. Dan apa yang lazim disebut “penyelenggaraan ilahi”, sebenarnya tidak lain daripada karya penciptaan Allah yang senantiasa aktual, dan tidak pernah berhenti selama ada makhluk yang bukan Allah. “Dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28). Penciptaan adalah awal dan dasar sejarah setiap orang. Dari dirinya sendiri manusia tidak mempunyai apa-apa, sehingga St. Paulus bertanya dengan tepat: “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?” (1Kor 4:7). Tidak ada sesuatu pun yang tidak berasal dari Allah.

Penciptaan bukanlah sesuatu yang terjadi di masa lalu, dan yang sekarang sudah selesai dan lewat. Penciptaan merupakan suatu misteri yang terulang terus-menerus, sebagai dasar seluruh sejarah dialog Allah
dengan manusia. Tuhan tidak menghubungi manusia yang sudah ada.
Tuhan meng-ada-kan manusia untuk dihubungi, dicintai, selalu dan di
mana-mana. Ini dapat disebut kehadiran Allah dalam sejarah manusia.
Tuhan menciptakan dunia “karena kebaikan-Nya, bukan untuk menambah kebahagiaan-Nya sendiri, melainkan untuk membagikannya”;
Tuhan menciptakan manusia “untuk mengikut-sertakannya dalam harta-harta ilahi” (Konsili Vatikan 1). Karya penciptaan merupakan awal dan
dasar karya penyelamatan melalui Yesus Kristus, sebab “kasih karunia dan
kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:17), “yang sulung di antara
banyak saudara” (Rm 8:29). Allah memberikan diri dalam sejarah, dalam pertemuan antara manusia. Kesatuan Allah dengan manusia adalah
kesatuan cinta kasih, dalam pertemuan pribadi antara Tuhan dan makhlukNya.

Iman akan Penciptaan. Kepercayaan akan karya penciptaan mengkonkretkan iman akan Allah sebagai Pencipta. Dan “Allah yang sama adalah Penyelamat dan Pencipta, Tuhan sejarah manusia dan sejarah keselamatan” (GS 41). Iman akan penciptaan berkembang berdasarkan wahyu, bahwa “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (Rm 15:6) adalah “Tuhan langit dan bumi” (Mat 11:25). Sebagaimana dalam Perjanjian Lama, iman akan penciptaan didahului oleh iman akan Perjanjian, begitu juga dalam Perjanjian Baru pengalaman kemakhlukan diintegrasikan ke dalam iman akan Yesus (lih. Yoh 1:3.10;1Kor 8:6; Kol 1:13-17; Ibr 1:2). Allah, yang dalam pengalaman akan kemakhlukan dialami sebagai Rahasia, dalam iman dikenal sebagai “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang” (lih. Kis 3:13) dan sebagai “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus”. Iman akan penciptaan mengakui kemakhlukan manusia sebagai dasar yang diletakkan oleh Allah guna menghubungi manusia secara pribadi dalam kesatuan dengan Kristus. Penciptaan merupakan langkah pertama pemberian diri Allah.

Pertama-tama, Allah mewahyukan diri dalam penciptaan. Kemudian Ia
mewahyukan diri, khususnya sebagai Bapa, dengan mengutus Putra-Nya
(“yang lahir dari Bapa sebelum segala abad; dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya”). Dan akhirnya
dalam pengutusan Roh Kudus (yakni “Tuhan yang menghidupkan, yang
berasal dari Bapa dan Putra”) Ia mewahyukan diri dalam setiap orang.
Tetapi tiga tahap atau langkah itu adalah satu. Maka dengan tepat Kristus
disebut “yang sulung dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah
telah diciptakan segala sesuatu; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan
untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu
ada di dalam Dia” (Kol 1:15-17). Dalam iman pemahaman penciptaan
berpangkal pada Kristus. Dia adalah Firman yang “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yoh 1:3). “Ia adalah gambar Allah yang tidak
kelihatan” (Kol 1:15; 2Kor 4:4). Dia adalah yang sulung. Dan di dalam Dia
semua orang diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:27; Kol 3:10; Ko3:18).

Allah dan makhluk-Nya bersatu, namun tidak sama. Begitu juga sejarah Allah dan perkembangan dunia bersatu, namun tidak sama. Konsili
Vatikan II mengatakan, “Kemajuan duniawi harus dengan cermat
dibedakan dari pertumbuhan Kerajaan Kristus, namun kerajaan itu sangat
penting bagi Kerajaan Allah, sejauh dapat membantu untuk mengatur
masyarakat manusia secara lebih baik” (GS 39). “Rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, sekarang oleh Gereja diberitahukan, sesuai dengan rencana abadi, yang telah dilaksanakan dalam Kristus Yesus” (Ef 3:9-11). Rencana keselamatan Allah, yang mendasari karya penciptaan, menjadi nyata dalam Kristus yang diwartakan oleh Gereja. Di dalam Kristus sejarah Allah dan sejarah manusia bertemu, sebab Ia adalah “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:5). ****

Serba-Serbi

Kisah Sebatang Pensil.
Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?” Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, tetapi ada yang lebih penting daripada kata-kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah-mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.” Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja. “Tapi pensil itu sama saja dengan pensil-pensil lain yang pernah kulihat!” “Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”

Pertama : Kau sanggup melakukan hal-hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu, seperti pensil juga selalu ada yang menggerakkan supaya menghasilkan tulisan atau gambar yang baik . Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya, supaya kita menjadi citra-Nya yang bak.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.

Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi,
perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu

Leave a Reply


7 + 1 =