Di daerah Soak Simpur/Soak Permai ada satu Stasi Paroki Santo Yoseph Palembang yang dikenal dengan nama Stasi Santo Hilarius, berdiri sejak 13 Januari 2022. Walaupun memilik bangunan dan fasilitas sederhana, Stasi ini terus berkembang dan sekarang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi sebuah Paroki baru di Kota Palembang. Berdasarkan sensus yang di lakukan tahun 2022 jumlah umat sekitar 496 jiwa (159 KK) dan terus bertambah hingga tahun 2024 sekitar 5 sampai 8 persen. Umat yang ada di Stasi Santo Hilarius berasal dari Lingkungan Santo Ignatius Loyola, Theofanus Venard, Santo Frumentius dan Santo Gregorius, sementara itu Perayaan Ekaristi diadakan setiap hari Minggu pukul 09.00 sampai 10.30 Wib menggunakan pendopo yang ada dan dilayani oleh para imam Paroki Santo Yoseph Palembang, biasanya seusai Misa dengan dilanjutkan makan bersama dengan umat.
Banyak kegiatan yang sudah dilakukan oleh umat Stasi Santo Hilarius selain Misa ada juga Sekolah Minggu walaupun menggunakan bangunan yang mmasih sederhana tidak menyurutkan anak-anak untuk mengikuti kegiatan tersebut. Saat ini Bina Iman Stasi ada kurang lebih 40 anak dengan pendamping : Kristina Sumiyati, Lusiyanti, Venny Mayumi, Apricella Rani Samosir, Claudia dan dibantu oleh OMK Stasi Santo Hilarius. Sementara itu untuk Remaka Stasi ada kurang lebih 25 anak yang didampingi oleh Aloysius Kristiawan, Bernadus Trisnanto dan Bernadetta Puput Trinanti. Untuk OMK Stasi ada kurang lebih 20 orang bersama pendamping Cyrillus Evi Kurniawan. Kegiatannya antara lain: koor, penggalangan dana, kegiatan sosial, kepanitiaan dalam kegiatan lomba BKSN, kegiatan kepemudaan seperti : valentine, misa orang muda, kegiatan olah raga (volley), kegiatan musik dan lain-lain.
Thomas Budy Hartanto, Wakil Ketua Stasi Santo Hilarius apa saja yang dipersiapkan untuk menjadi Paroki, Budy menyatakan yang pertama adalah liturgi dengan memantapkan kelengkapan dan sarana liturgi. Seperti aksesoris yang dikenakan Romo (kasula, stola, alba dan lain-lain) sesuai warna liturgi. Alat-alat misa seperti piala, membeli hosti dan anggur sendiri, melengkapi aksesoris misdinar dan lain-lain. Kemudian membentuk komunitas lektris, komunitas pemazmur, kelompok paduan suara, kelompok pemateri pendalaman iman, kelompok misdinar dan lain-lain. Yang kedua non-liturgi yaitu : mengembangkan basis-basis kegiatan dasar seperti : kelompok sosial, kelompok kesenian, kelompok olah raga dan lain-lain. Serta pengembangan SDM dengan pengajaran, seminar-seminar, regenerasi kepemimpinan dan lain-lain.
Sejarah Stasi Santo Hilarius Palembang
Berawal dari sebuah wacana pada tahun 2010, mengingat keadaan Paroki Santo Yoseph Palembang yang sangat luas dan jumlah umat yang sangat luar biasa banyaknya,maka perlu untuk segera memikirkan pemekaran Paroki. Sebab kala itu, Gereja Paroki Santo Yoseph Palembang sendiri kewalahan untuk menampung jumlah umat yang hadir pada saat Misa, terutama Misa di Hari Raya seperti Natal dan Paskah. Memang sebelumnya sudah dimulai dengan diadakannya Misa di Komplek Sekolah milik Yayasan Santo Louis Palembang (Paguyuban Guru Katolik) di Jalan RA Abusamah setiap 2x dalam 1 bulan untuk umat di Wilayah Lebung Siarang, Jalan Sukabangun dan sekitarnya. Pastor Yohanes Kristianto (Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang) pada saat itu bermaksud membuat kesepakatan dengan pengelola Yayasan Santo Louis Palembang agar sekiranya dapat menghibahkan sebidang tanah milik Yayasan Santo Louis Palembang yang berada di dalam komplek sekolah SMP Santo Louis Palembang untuk pendirian sebuah Kapel atau Gereja, namun disayangkan pada saat itu kesepakatan yang direncanakan tersebut tidak terwujud. Berikutnya Pastor Yohanes Kristianto mendapatkan penawaran tanah yang akan dijual di sebelah rumah Bapak Setyo Budiono di Jalan Sukabangun 2 kurang lebih seluas 5.000 meter persegi. Namun setelah beberapa tahap negosiasi, rencana pembelian tanah tersebut juga akhirnya batal terwujud.
Pada tahun 2011, ada penawaran tanah dari Ibu Magdalena Peranginangin yang memiliki tanah seluas kurang lebih 7 hektar di daerah Soak Permai dan akan dijual semuanya. Tanah tersebut ditawarkan kepada Pastor Yohanes Kristianto. Direncanakan pada awalnya tanah tersebut akan dibeli dengan cara gotong royong, namun ditengah jalan menghadapi kesulitan untuk mengumpulkan donatur guna memborong keseluruhan tanah seluas 7 hektar tersebut. Namun Puji Tuhan dan atas kehendak Tuhan, akhirnya datanglah Ibu Asuan. Setelah survey bersama ke lokasi tanah tersebut, terjadilah kesepakatan antara Pastor Yohanes Kristianto dengan Ibu Asuan. Bahwa tanah milik Ibu Magdalena Peranginangin yang seluas 7 hektar tersebut akan dibeli semuanya. Dengan rincian Ibu Asuan membeli seluas 5 hektar dan Pastor Yohanes Kristianto membeli seluas 2 hektar atas nama Gereja. Di akhir tahun 2011, proses jual beli dijalankan dan pada awal tahun 2012 berkas jual beli (akta jual beli, balik nama sertifikat dan sebagainya) sudah selesai dengan kesepakatan harga saat itu Rp 21.000 per meter. Termasuk akses jalan Lorong Harapan adalah tanah milik Ibu Magdalena Peranginangin yang include dibeli oleh Pastor Yohanes Kristianto.
Setelah memegang penuh hak atas tanah tersebut, mulai tahun 2012 dibangunlah parit, pagar dan tembok sebagai tanda batas tanah milik Gereja tersebut. Pastor Yohanes Kristianto merekrut 1 orang penduduk lokal bernama Uda Meddy untuk menjaga keamanan dan mengurus lahan tersebut, seperti menanam sayur dan sebagainya. Berikutnya pada awal tahun 2013, dibangunlah 2 buah pondok/rumah semi permanen dengan memanfaatkan materi-materi sisa bongkaran renovasi Gereja Paroki Santo Yoseph Palembang. Supaya lahan tersebut tidak kosong maka ditanami dengan tanaman sawit, tanaman karet, pohon-pohon kayu keras dan sebagainya. Menjelang pertengahan tahun 2013 dibangunlah pendopo diatas tanah tersebut dengan tujuan agar pendopo tersebut dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan Paroki Santo Yoseph Palembang.
Pada bulan Juni 2013, serah terima jabatan Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang dari Pastor Yohanes Kristianto kepada Pastor Laurentius Rakidi. Pada era Pastor Laurentius Rakidi, sekitar tahun 2015, di depan tanah milik Gereja tersebut sudah dibangun akses Jalan Lintas yang besar bernama Jalan H.M Noerdin Pandji. Lalu ada pembangunan perumahan subsidi untuk rakyat di dekat tanah milik Gereja tersebut, yang bernama Perumahan BSR 7. Pastor Laurentius Rakidi banyak mengajak keluarga-keluarga muda Katolik untuk mulai membeli rumah di kompleks perumahan yang baru dibangun tersebut agar kedepannya jika sudah banyak warga Katolik yang tinggal disitu akan semakin mudah mewujudkan proses pengajuan pembangunan rumah ibadah berupa Gereja Katolik kepada aparatur pemerintahan setempat.
Pada tahun 2021, sudah mulai banyak warga Katolik yang tinggal di sekitar tanah milik Gereja tersebut, utamanya di daerah Soak Simpur dan di perumahan BSR 7 di Jalan Soak Permai. Saat itu, area ini masih bernama Wilayah 12 dari Paroki Santo Yoseph Palembang dan di dalam Wilayah 12 itu sendiri ada 3 lingkungan yaitu Lingkungan Santo Ignatius Loyola, Lingkungan Beato Theofanus Venard dan Lingkungan Santo Frumentius. Bila digabungkan, 3 lingkungan ini memiliki 156 Kepala Keluarga dengan jumlah umat sebanyak 498 jiwa.
Pada Jumat, 26 November 2021 Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang yang menggantikan Pastor Laurentius Rakidi, yaitu Pastor Silvester Jaka Susanta, menghubungi Yohanes Supeno (Ketua Lingkungan Beato Theofanus Venard). Mengajak keluarga pengurus lingkungan untuk mengadakan Misa di Pendopo tanah milik Gereja yang ada di Jalan Soak Permai guna mulai memperkenalkan diri kepada warga kampung sekitar bahwa tanah tersebut adalah milik Gereja dan digunakan oleh umat Katolik sebagai tempat melakukan aktifitas rohani.
Atas permintaan dari Pastor Silvester Jaka Susanta tersebut, maka Yohanes Supeno menghubungi Valentinus Petra Sanditha (Ketua Lingkungan Santo Ignatius Loyola) dan Thomas Budy Hartanto (Ketua Lingkungan Santo Frumentius). Maka jatuh di Adven ke-1 hari Minggu tanggal 28 November 2021 diadakanlah Misa Perdana di Pendopo pada tanah 2 hektar yang tahun 2011 dibeli oleh Pastor Yohanes Kristianto. Misa dilaksanakan pukul 10.00 wib dipimpin oleh Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang, yaitu Pastor Silvester Jaka Susantaa, serta dihadiri beberapa umat dari Lingkungan Santo Ignatius Loyola, Lingkungan Beato Theofanus Venard dan Lingkungan Santo Frumentius.
Misa di pendopo tetap berjalan pada minggu-minggu berikutnya. Diadakan setiap hari Minggu jam 10 pagi. Setelah selesai Misa, umat beserta Pastor Silvester Jaka Susanta melakukan kegiatan gotong royong untuk membersihkan, merapikan, membuat akses jalan, memperbaiki WC, menimbun genangan-genangan air dengan tanah, pasir dan pecahan batu, memasang instalasi air, instalasi listrik dan lain-lain. Seluruh warga Wilayah 12 beserta Pastor Paroki bahu membahu, gotong royong dan bekerja sama dengan semangat kekeluargaan yang erat demi tercapainya tujuan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat ibadah yang layak.
Pada awal Januari 2022, tercetuslah wacana dari Pastor Silvester Jaka Susanta untuk merubah status dari Wilayah naik menjadi Stasi. Disampaikanlah gagasan tersebut kepada Thomas Budy Hartanto. Lalu Thomas Budy Hartanto menyampaikan ide tersebut kepada Yohanes Supeno dan Valentinus Petra Sanditha. Dikarenakan rencana ini harus matang dan membutuhkan banyak orang untuk mengisi susunan Pengurus Stasi, maka berdasarkan hasil rapat 3 orang Ketua Lingkungan inilah diputuskan pentingnya untuk mengadakan Rapat Umum yang dipimpin langsung oleh Pastor Paroki dan Pastor Paroki secara langsung menyampaikan kepada seluruh warga yang hadir dalam Rapat Umum bahwa status Wilayah 12 akan berubah menjadi Stasi yang terdiri dari 3 Lingkungan, 156 KK dan 498 jiwa.
Kamis, 13 Januari 2022 jam 19.30 wib di rumah Bapak F.A Budiana Jln. Soak Simpur Lrg. Tembusan diadakanlah Rapat Umum dengan dibuka oleh Yohanes Supeno lalu diisi oleh Pastor Silvester Jaka Susanta. Hasilnya ditetapkanlah bahwa Wilayah 12 yang terdiri dari 3 Lingkungan tersebut berubah status dari Wilayah menjadi Stasi. Keesokan harinya, ditetapkanlah tanggal 13 Januari sebagai Hari Jadi Stasi dan dipilihlah nama pelindung, Santo Hilarius, yang diperingati setiap tanggal 13 Januari oleh Gereja Katolik Roma. Beberapa hari berselang, dibentuklah Susunan Pengurus Stasi Santo Hilarius, penetapan Logo Stasi, Stempel Stasi untuk surat menyurat, Visi dan Misi Stasi dan Agenda Kerja Stasi. Beberapa bulan berselang dibentuklah Koor Stasi, Komunitas Pemazmur Stasi, Komunitas Lektor Stasi, Komunitas Pemusik Liturgi Stasi, Bina Iman Anak Stasi, Komunitas Remaka Stasi, Komunitas OMK Stasi, Media Sosial Stasi (seperti Facebook dan Instagram) dan lain sebagainya.
Karena perubahan status menjadi Stasi membuat umat di Soak dan sekitarnya menjadi mandiri dalam membangun rohani dan lebih mandiri dalam kegiatan liturgi. Termasuk Baptisan Bayi pun sudah mulai dilakukan secara mandiri di Stasi Santo Hilarius. Baptis perdana di Stasi Santo Hilarius ada 5 anak bayi. Serta pembelajaran 10 anak Calon Krisma pun sudah dilakukan secara mandiri di Stasi Santo Hilarius, walaupun pada saat penerimaan Sakramen Krisma tetap diadakan di Gereja Paroki Santo Yoseph Palembang.
Hingga sejarah ini ditulis, sudah ada banyak sekali kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Stasi Santo Hilarius dalam membangun rohani umatnya serta secara sederhana membangun fisik bangunan Stasi agar dapat dipakai untuk Misa, Sekolah Minggu dan lain sebagainya. Hingga hari ini, Stasi Santo Hilarius Palembang terus berkembang dan fokus mempersiapkan diri untuk menjadi sebuah Paroki Baru di dalam Kota Palembang.
Stasi Santo Hilarius Palembang memiliki visi : Sehati Sejiwa Membangun Rohani dan misinya adalah :
- Pembangunan dan pengembangan dasar-dasar Katoliksitas melalui pengajaran iman.
- Memberdayakan potensi umat untuk aktif berperan serta dalam kegiatan spiritual dan kemanusiaan.
- Mengembangkan persekutuan, solidaritas dan kebersamaan umat dengan semangat hidup Kristiani.
- Mengedepankan musyawarah dan mufakat dalam menetapkan tujuan bersama.
- Seimbang dan harmonis dalam mewujudkan tujuan pembangunan fisik gereja melalui semangat berbagi.
Susunan Pengurus Stasi Santo Hilarius Palembang periode pertama 2022-2026
Pelindung : Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang
Pembina : DPH Santo Yoseph Palembang
Dewan Penasihat : Aloysius Dalina, Paulus Indriarjo, Martinus Ngatimin, FA Budiana & Mateus Ngadimin
Dewan Pengurus Harian
Ketua : Yohanes Supeno, Wakil Ketua : Thomas Budy Hartanto
Sekretaris : Andrianus Supri Handoko, Bendahara : Valentinus Petra Sanditha & Lukas Daryadi
Bidang Kerja :
Bidang Liturgi Koordinator : Valentinus Saryanto, Seksi Koor & Musik Liturgi : Benedicta Irene Kurniawati, Seksi Komunitas Pemazmur : Bernadetta Puput Trinanti, Seksi Komunitas Lektor : Maria Fransiska Titin Utami
Bidang Pewartaan Koordinator : Cyrillus Evi Kurniawan, Seksi Katekese : Aloysius Kristiawan & Bernadus Trisnanto, Seksi Bina Iman Anak : Christina Sumiati & Lusiyanti, Seksi Remaja & Pemuda : Ignatius Aris Chandra.
Bidang Umum Koordinator : Agustinus Rianto, Seksi Sosial : Firdinandus Septian Dwi Prasetyo, Seksi Humas & Komsos : Gregorius Dian Septiono, Seksi Tempat & Perawatan : Paulus Samuji, Seksi Kamtib : Ignatius Sugiyanto
(Narasumber sejarah : RD Yohanes Kristianto & Penulis sejarah : Thomas Budy Hartanto}









