Legioner Bangkit Menjadi Pewarta Pengharapan Banyak Orang

May 6, 2025
Legioner Bangkit Menjadi Pewarta Pengharapan  Banyak Orang

Paroki Santo Fransiskus de Sales (Sanfardes) Palembang menjadi tempat dilaksanakannya kegiatan Acies Legio Maria 2025 yang  diadakan oleh Komisium Palembang Ratu Pencinta Damai KAPal, Sabtu 3 Mei 2025 mulai pukul 09.00 sampai 14.00 Wib dengan tema “ Berjalan Bersama Dalam Pengharapan.” Para Legioner Keuskupan Agung Palembang (KAPal) berkumpul untuk mengikuti pembaktian diri,  dihadiri oleh 167 peserta terdiri dari 157 Legioner, 7 Romo Pemimpin Rohani dan 3 tamu Sanfrades yang merupakan acara tahunan anggota Legio Maria (Legioner).

Dalam pengantarnya RD. Agustinus Giman selaku Pemimoin Rohani Komisium Palembang Ratu Pencinta Damai mengatakan dalam Acies ini kita hendak membagi kesetiaan kita pada Bunda Maria, Ratu Legio Maria, serta mohon doa dan penyertaannya. Gereja pada tahun ini menetapkan sebagai tahun Yubelium, mendiang Paus Fransiskus secara khusus mengundang kita dalam perziarahan hidup untuk selalu berpegang kepada pengharapan, karena pengharapan itu tidak mengecewakan. Beliau juga menegaskan bahwa Bunda Maria adalah Bunda Pengharapan. Oleh karena itu, kita yakin bahwa dalam seluruh perjalanan kita sebagai Legioner pasukan Maria, Bunda kita ini akan berjalan bersama. Tema Acies 2025 adalah “ Berjalan Bersama Dalam Pengharapan. Semoga dengan menjiwai keutamaan Bunda Maria dan berkat dukungan dari Santo Filipus dan Yakubus Rasul, setiap Legioner mampu bangkit menjadi pewarta pengharapan bagi banyak orang. 

Acies Legio Maria 2025 diisi dengan upacara pembaktian diri Legioner kepada Bunda Maria untuk memperbaharui janjinya yang diawali dengan Tesera Legio  dipimpin oleh RD. Agustinus Giman. Kemudian para Legioner maju kedepan sambil memegang Veksilium memperbaharui janjinya sambil mengucapkan : Akulah adalah milikmu ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu.

Rangkaian Acies Legio Maria 2025 dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Hyginus Gono Pratowo didampingi oleh 6 Romo pada pukul 11.00 Wib. Diawali dengan perarakan 20 orang petugas pembawa vandel Legio Mariae perwakilan Legioner dan pelayan liturgi memasuki Gereja Sanfrades Palembang.

Dalam homilinya Romo Giman menyoroti ketika berbicara tentang Legio Maria, pada akhir-akhir ini yang paling banyak muncul adalah soal keprihatinan mengapa banyak Presidium yang kemudian tertidur, bahkan mati dan tidak bangkit-bangkit lagi. Ada begitu banyak presidium dulu di Belitang misalnya, tetapi sekarang yang hidup hanya satu saja. Dan puji Tuhan, sudah sekian lama mereka tidak hadir dalam Acies, tidak ikut tapi pada hari ini mereka bisa hadir. Yang dari Belitang, diwakili tiga orang OMK (Oma-Oma Keren). Lalu ada begitu banyak Paroki-Paroki yang juga kemudian Presidiumnya sekarang ini sedang mati suri. Bahkan di beberapa tempat yang saya jumpai, beberapa tokoh yang dulu para Legioner, saya ajak mari kita bangkitkan kembali, nada mereka adalah nada pesimis. 

Pengalaman dimana para Legioner yang dulu memiliki semangat lalu sekarang menjadi pesimis, ini tentu menjadi sebuah pengalaman suram dalam kehidupan kita sebagai para Legioner, tetapi rupanya pengalaman gelap dan pengalaman suram juga dialami oleh para rasul pada waktu itu. Mereka mengalami ketakutan, mereka berkumpul tetapi kemudian mengunci pintu-pintu dan jendela,  mereka mengalami kekecewaan, keputus asaan dan pesimis. Tetapi dalam kesuraman, pesimisme para murid itu, Tuhan tetap hadir dan menggunakan mereka untuk mewartakan kerajaan Allah. Maka kita semua bisa belajar dari para rasul, bahwa di dalam ketakutan, kesuraman, pesimisme mereka, ketika Allah hadir, ketika Allah menaklukkan mereka dan ketika Allah mencurahkan orang hudus kepada mereka, kemudian yang ada adalah semangat yang berubah-ubah. 

Menjadi sebuah pertanyaan untuk kita, para Legioner, di tengah kesuraman, pesimisme dan semangat yang sedang melawan ini, apakah kita juga kemudian mengunci diri di ruangan dengan pintu-pintu yang terkunci, jendela-jendela yang terkunci. Ataukah kemudian kita juga berani keluar, menceritakan, mengisahkan tentang Allah yang ada dalam hidupan kita, Allah yang bangkit, Allah yang mewartakan kabar sukacita bagi banyak orang. Inilah yang menjadi tugas dan panggilan kita, para Legioner.  Paus Fransiskus berbicara tentang pengharapan, bahwa setiap manusia memiliki harapan, akan sebuah kehidupan yang baik di masa mendatang. Dan ini menjadi sebuah perlindungan setiap orang, tentu pengharapan yang sejati itu adalah pengharapan di mana Allah mencintai kita dan  Allah yang selalu hadir bersama dengan kita.

Pada Acies  tahun ini, kita diajak untuk melakukan berjalan bersama dalam pengharapan. Tema ini mengajak kepada kita harus memiliki iman bahwa alam sebagai sumber pengharapan sejati di dalam hidup kita dan para Legioner tentu tidak boleh patah pengharapan. Karena Bunda Maria, Bunda kita, Ratu kita, pimpinan kita para tentaranya, Dia adalah Bunda pengharapan. Kalau kita diajak untuk berjalan bersama dalam pengharapan, pertama-tama bagaimana sebagai Legionar di dalam residu masing-masing. Kita hidup sebagai saudara dan saudari yang sehati sejiwa, yang juga menguatkan satu sama lain di dalam pengharapan.

Kita tidak memungkiri bahwa sering di dalam kehidupan kita para Legioner dalam residu, bukan sehati sejiwa yang kita bawa. Bukan persaudaraan yang kita bawa, tetapi sering adalah perpecahan dan penghakiman. Maka disinilah kita kembali diajak untuk bagaimana kita membaharui cara hidup kita sebagai para Legionar. Kita para Legioner yang seharusnya membawa pengharapan di dalam residu kita masing-masing, tetapi justru sering kita mematahkan semangat, kita menjadi orang-orang yang pesimis di dalam doa dan kerasulan kita. Maka lewat Acies ini, dalam penyerahan diri kita kepada bunda Maria, kita juga diajak kembali untuk membaharui   semangat. Mari kita menyadari bahwa residu kita bukanlah tempat untuk penghakiman, bukan tempat untuk menyalahkan orang, bukan tempat untuk menilai orang. Tapi adalah tempat dimana kita harus membangun kebersamaan dan optimisme dengan yang lain. 

Dengan tema “ Berjalan bersama dalam pengharapan “, kita semua diingatkan bahwa sebagai anggota Legioner, kita semua juga diundang oleh Allah sendiri, oleh Bunda Gereja,  kita semua adalah misionaris pengharapan. Bagaimana kita menjadi tanda pengharapan bagi banyak orang, dalam kehidupan kita bisa membawa pengharapan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Dan ini yang juga harus kembali kita hayati terutama di dalam tugas-tugas kita. Tugas-tugas dalam Legio Maria  adalah bagian dari kerasulan, dari Paroki di mana kita berada dan ini yang juga harus menjadi pengingat untuk kita. 

Kami berpesan kepada para Romo, nanti untuk tugas-tugas Legio Maria ini silahkan para Romo sebagai Pemimpin Rohani juga bisa menentukan apa yang menjadi tugas-tugas dari Legio Maria. Karena kita tidak pernah terpisah dari Pemimpin Rohani, Pastor Paroki di mana kita berada dan tugas kerasulan kita tidak pernah terpisah dari kerasulan yang ada di Paroki. Dalam tahun Yubelium ini dan juga nanti ke depan, mari kita membangun kembali semangat akan kerasulan kita karena Legio Maria bukan hanya devosi yang hanya berdoa, tetapi berdoa dan berkarya, doa dan kerasulan.

Baik kalau di dalam tahun-tahun Yubelium ini kembali kita melihat apa  tugas yang bisa kita lakukan untuk menjadi tanda pengharapan bagi banyak orang. Kita bisa juga menjadi volunter yang menemani para Prodiakon, yang mengirim komuni kepada yang lansia dan  sakit. Karena Paus Fransiskus sangat menekankan bagaimana perhatian kepada mereka yang sakit dan lanjut usia dan kita juga berusaha hadir menjadi teman kepada keluarga-keluarga yang mungkin sedang bermasalah, mereka yang sudah lama tidak pernah muncul ke Gereja.

Bunda Maria sebagai Bunda kita, telah memberikan teladan bagaimana Ia menyerahkan dirinya secara total kepada kendali Allah dan kita semua juga diajak untuk bersikap meneladani Bunda Maria. Marilah di dalam Acies ini kita membaharui kembali akan semangat, hidup, doa dan kerasulan kita. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang senantiasa memiliki pengharapan, tapi sekaligus juga menjadi pewarta harapan bagi banyak orang. 

Sementara itu Fransiscus, Ketua Komisium Palembang Ratu Pencinta Damai dalam sambutannya mengucapkan terima kasih untuk para Legioner yang sudah jauh-jauh datang untuk menghadiri Acies2025 terutama yang dari luar kota, dari Jambi, Bengkulu, Tugu Mulyo, Lubuk Lingkau dan Jambi ada tiga presidium yang sudah mau bergabung dalam Acies di Komisium Palembang. Terima kasih juga khususnya kepada Romo Pemimpin Rohani Komisium yang sudah banyak memberikan nasihat untuk kita semua, memotivasi kita kembali, memberi kita inspirasi dan menerangkan apa tugas-tugas kita sebagai Legio Maria yang bukan cuma hanya berdoa Rosario setiap hari, tapi kita perlu melakukan aksi pelayanan dan kunjungan kepada umat, membantu Romo Paroki di mana kita berada. 

Semoga kita para Legioner juga memahami dan bisa mengerti apa yang disampaikan oleh pemimpin Rohani kita, yaitu : Romo Giman dan hari ini kita patut bersyukur bahwa kita diberikan kesempatan untuk bisa mengulang pembaktian diri kita kepada Sang Ratu kita, Bunda Maria. Dia adalah pemimpin kita para Legioner, kita adalah para serdadu-serdadu yang siap berperang melawan kegelapan, kuasa-kuasa kegelapan yang ada di sekitar  dan lingkungan kita. Dan kita wajib mentaati semua perintah-perintah atau peraturan-peraturan yang telah ditetapkan, yang bisa kita pelajari di dalam buku pegangan yang ada pada kita masing-masing. 

Romo Gono, menyatakan pada kesempatan yang istimewa ini, saya juga mengaturkan banyak terima kasih atas kehadiran Anda semua yang dari jauh, Bengkulu, Belitang, Batu Raja, Batu Putih, Lubuk Linggau, mudah-mudahan tahun depan lebih banyak lagi, juga dari Santo Yoseph, Santa Maria, Plaju, Hati Kudus, Sanfrades, Santo Petrus dan Santo Stefanus. Bapak, Ibu saudara-saudari sekali lagi terima kasih atas kehadiran dan doa-doa Anda sekalian. Anda menjadi religius yang setia, mendoakan kami para imam, biarawan-biarawati agar kami tetap setia dan tetap bahagia dalam menjalankan karya dan tugas kami. 

Kegiatan Acies Legio Maria 2025 diakhiri dengan acara pentas seni dari perwakilan Legioner Batu Putih, Bengkulu, Pasang Surut, Lubuk Linggau. Acara bertambah meriah saat para Legioner diajak bernyanyi dan menari bersama Tarian Jai yang dipandu oleh perwakilan Legioner, Santo Yoseph dan Seminari Santo Paulus Palembang.

Peserta Acies Legio Maria 2025, yaitu : Presidium Bunda Rahmat Ilahi Bengkulu, Bunda Hati Kudus Indonesia Palembang, Bunda Hati Kudus Mandarin Palembang Perawan Yang Setia Pasang Surut, Ratu Rosari Sanfrades Palembang, Bintang Timur Santa Maria Palembang, Bunda Rahmat Ilahi Santo Yoseph Palembang, Pintu Surga Talang Betutu Palembang, Bunda Kerahiman, Rumah Kencana Seminari Santo Paulus Palembang, Bejana Rohani Santo Stefanus Palembang Perawan Yang Setia Podomoro, Bintang Kejora Batu Putih, Bunda Penolong Abadi Jambi, Bunda Gereja Jambi, Bunda Yang Tersuci Lubuk Linggau, Bunda Penasehat Yang Baik Belitang, Pohon Sukacita Kami Tugumulyo dan Maria Assumpta Jambi.

Leave a Reply


6 + 3 =